jurnalistik.co.id – CIA telah merilis 71 dokumen Daily Presidential Briefs yang dinonaktifkan, berisi peringatan berulang dari intelijen AS tentang kemungkinan serangan teror menjelang 9/11. Rilis tersebut terjadi tepat saat peringatan 25 tahun tragedi pesawat yang dibajak dan ditabrakkan ke World Trade Center, Pentagon, serta sebuah lokasi di Pennsylvania.
Dalam rilis yang diumumkan pada Jumat itu, agensi menyebut ada dokumen yang menunjukkan pembahasan mengenai ancaman “pesawat berdaya ledak” sudah muncul jauh sebelum 9 September 2001. Salah satu dokumen, yang bernuansa amaran terhadap jaringan Al Qaeda, menyatakan bahwa kelompok tersebut “may fly an explosive-packed airplane into a US city”.
Daily Presidential Briefs merupakan salah satu produk analisis intelijen AS yang sangat dirahasiakan. Umumnya, materi seperti ini baru akan dibuka ke publik setelah puluhan tahun. Dalam rilis kali ini, 69 dari 71 dokumen yang dipublikasikan mengaku belum pernah terlihat oleh publik sebelumnya, sementara banyak bagian di dalamnya masih mengalami sensor dan penghapusan teks.
Rentang waktu dokumen yang dirilis mencakup periode awal 1998 hingga hari setelah serangan 9/11. Pembuatannya dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Bill Clinton dan George W. Bush, dengan fokus pada peningkatan kewaspadaan terhadap jaringan Al Qaeda dan pemimpinnya, Osama Bin Laden.
Amaran sebelum serangan besar
Tiga tahun sebelum 9/11, pejabat intelijen AS tercatat mempertimbangkan kemungkinan serangan yang melibatkan pesawat. Dalam salah satu catatan, ancaman itu digambarkan sebagai rencana di mana Al Qaeda “may fly an explosive airplane into a US city”. Tidak hanya itu, dokumen lain tertanggal 12 September 2001 juga memuat pernyataan bahwa keberadaan rencana tersebut “widely known” di kalangan ekstremis.
Rangkaian peringatan tersebut juga menyinggung target di dalam wilayah AS. Pada dokumen bertanggal 10 September 1998, tercatat bahwa lokasi pilihan Bin Laden untuk melakukan serangan berada di wilayah AS, dengan Washington disebut sebagai target utama. Seorang analis CIA menuliskan kemungkinan kelompok tersebut “may fly an explosive-packed airplane into a US city”.
Berita Terkait
BBC melaporkan bahwa laporan Komisi 9/11 pada 2004 mencatat intelijen AS meyakini Al Qaeda sedang mempertimbangkan penggunaan pesawat dalam serangan tersebut. Namun, dalam pemberitaan ini ditegaskan bahwa tidak jelas apakah peringatan itu sampai kepada Presiden saat itu, Bill Clinton, dan pada tingkat detail seperti apa informasi tersebut diterima.
Al Qaeda dan Bin Laden juga telah dikenal oleh komunitas intelijen AS pada periode 1998. Pada Agustus 1998, kelompok itu menyerang kedutaan AS di Kenya dan Tanzania yang menewaskan 224 orang, sebelum AS melakukan serangan rudal jelajah ke target di Afghanistan dan Sudan. Tidak lama setelah rangkaian peristiwa itu, sebuah dokumen bertanggal 28 Agustus 1998—21 hari setelah serangan kedutaan dan delapan hari setelah respons AS—mencatat bahwa jaringan tersebut tetap utuh dan Bin Laden masih “actively considering attacks in the US”.
Peringatan menjelang dan tepat setelah serangan
Dokumen yang datang setelah 9/11 hanya berjumlah satu. Catatan tersebut dikirim ke Gedung Putus pada pukul 0400 tanggal 12 September, kurang dari 20 jam setelah pesawat pertama menabrak World Trade Center di New York.
Dalam bagian yang masih tersensor, laporan itu menyebut adanya “mounting evidence” bahwa ekstremis di Afghanistan dan wilayah Teluk Persia “were aware” serangan sudah sangat dekat. Ada pula kalimat yang sebagian terhapus yang menyatakan bahwa rencana tersebut “widely known” di kalangan ekstremis. Dokumen tersebut juga menyebut kemungkinan Bin Laden telah berpindah ke Kabul, Afghanistan, untuk menghindari konflik dengan penguasa Taliban yang disebut sempat “clashed” dengan rencana tersebut.
Setelah serangan, pemimpin Taliban pada saat itu, Mullah Omar, dilaporkan telah dievakuasi bersama keluarganya dari kota Kandahar di bagian selatan Afghanistan segera setelah peristiwa tersebut. Kurang dari sebulan kemudian, AS dan sekutunya melakukan invasi ke Afghanistan dengan tujuan menghancurkan Al Qaeda.
Sementara itu, Direktur CIA John Ratlcliffe menyampaikan pernyataan ketika dokumen-dokumen tersebut dirilis. Ia mengatakan, “Twenty-five years ago, the 9/11 attacks struck a blow to our nation, but they did not break us,” dan menambahkan, “Generations of C.I.A. officers have since dedicated their careers to securing justice for our fallen Americans and ensuring Al Qaeda would never again harm our country,”.
Rilis 71 dokumen ini juga disajikan sebagai cerminan dari penilaian komisi resmi yang meninjau peristiwa 9/11: intelijen AS berulang kali memberi peringatan tentang potensi serangan, meski detailnya terbatas dan gambaran skala yang datang tidak sepenuhnya tergambar. Dalam arsip yang dipublikasikan, peringatan terhadap Al Qaeda tampak meningkat seiring berjalannya waktu, tetapi banyak bagian penting tetap tidak dapat dibaca penuh akibat sensor.












