Olahraga

Seberapa bagus sembilan manajer baru memulai laga pekan awal Premier League?

×

Seberapa bagus sembilan manajer baru memulai laga pekan awal Premier League?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How did record nine new managers fare in opening round of Premier League games?

jurnalistik.co.id – Pekan pembuka Premier League musim ini mencatat momen bersejarah karena sembilan klub memulai kompetisi dengan nakhoda baru. Pasca era Pep Guardiola, Manchester City kini dipimpin Enzo Maresca, sementara Andoni Iraola mulai menjalani tugasnya sebagai manajer Liverpool setelah Arne Slot dipecat. Di Chelsea, Xabi Alonso juga menjadi nama terbaru dalam arus pergantian manajer yang terus berputar.

Catatan awal dari seluruh perubahan ini tidak hanya soal hasil, tetapi juga sinyal yang muncul dari cara tim bermain, termasuk seberapa cepat adaptasi terjadi di laga-laga pertama. Dari kemenangan yang langsung “menggigit” hingga pengalaman pahit yang datang di menit-menit akhir, akhir pekan perdana menghadirkan spektrum penilaian yang beragam untuk para pelatih baru.

Marco Rose bersama Bournemouth memulai debutnya sangat dekat dengan pernyataan besar. Ia hanya butuh enam menit untuk membawa timnya meraih kemenangan yang terdengar seperti pengumuman, tetapi Bournemouth akhirnya kalah menyakitkan setelah kebobolan dua gol di penghujung laga.

Kekecewaan Rose akan bertambah karena dua gol penentu dari Manchester City tercipta melalui momen yang berawal dari situasi bola mati. Marc Guehi tidak dijaga ketika menjadi sumber masalah untuk gol penyama kedudukan, lalu ada reaksi yang terlambat sebelum Josko Gvardiol mencetak gol kemenangan pada waktu tambahan. Meski demikian, Rose tetap bisa melihat materi yang cukup untuk dibangun di tim yang musim lalu finis keenam.

Di Chelsea, Xabi Alonso memulai masa kepelatihannya dengan cepat memimpin, bahkan sudah unggul 31 detik setelah pertandingan berjalan. Namun, di Craven Cottage, penampilan yang terlihat menjanjikan punya dua sisi yang sangat menonjol: kombinasi lini serang berjalan efektif, tetapi masalah di posisi penjaga gawang membuat semuanya menjadi lebih rapuh.

Hal positifnya datang dari trio Cole Palmer, Joao Pedro, serta pemain baru Morgan Rogers yang langsung mencetak kontribusi berarti, termasuk saling terhubung dalam pola serangan. Meski demikian, Chelsea harus menghadapi kenyataan bahwa Robert Sanchez terbukti tidak konsisten, hingga ia menjadi penyebab untuk dua gol Fulham. Untuk Alonso, pekerjaan rumahnya jelas: menemukan jawaban cepat agar kontribusi Palmer, Joao Pedro, dan Rogers tidak “hilang” karena rapor penjaga gawang.

Secara taktis, Alonso memakai skema tiga bek dengan Reece James yang menjalankan peran di lini tengah sebelum juga turun kembali ke pertahanan. Di saat yang sama, Rogers—investasi musim panas senilai £117m untuk Chelsea—membantu awal yang positif dengan mencetak gol saat melawan Fulham. Akan tetapi, duel perdana ini menegaskan bahwa detail kecil bisa berbalik menjadi perbedaan besar pada hasil akhir.

Pierre Sage bersama Crystal Palace mengalami awal yang tidak sesuai harapan setelah sukses besar bersama Lens. Palace kalah dari Everton, dan meski mereka tampil mengecewakan di babak kedua, Sage sebenarnya bisa melihat bahwa periode awal pertandingan juga memberi peluang untuk meraih kemenangan pertama atas Everton sejak 2014.

Di laga tersebut, Palace sempat menyentuh momen-momen yang seharusnya bisa menjadi pembuka kemenangan—mereka dua kali mengenai tiang gawang—namun Jean-Philippe Mateta dinilai kurang efisien dalam menyelesaikan peluang. Selain evaluasi performa, Sage juga dibayangi persoalan yang menyangkut kontrak Mateta, yang membuat masa depannya berada dalam pertanyaan. Pekan berikutnya, tantangan langsung datang saat Manchester City bermain di Selhurst Park, dengan suasana pertandingan malam yang dikenal spektakuler.

Alvaro Arbeloa di Fulham menghadapi pembuka yang berat, terutama karena timnya kebobolan dalam menit pertama setelah pergantian dari Marco Silva. Dalam proses membangun, Arbeloa jelas perlu memastikan timnya mampu mencetak gol lebih konsisten. Ia juga bisa merasakan titik terang saat debutan muda Gonzalo Garcia langsung membuka catatan gol.

Namun, ada pula bagian yang lebih sulit, termasuk penyesuaian bagi pemain baru lainnya dari Real Madrid, Cesar Palacios. Bagi Arbeloa, Josh King yang berusia 19 tahun menjadi “permata” utama, dan ia bahkan menyebutnya sebagai “unbelievable”. Dengan gaya manajemen baru, King juga diperkirakan memikul beban tanggung jawab yang besar di bawah era Fulham saat ini.

Gary O’Neil di Ipswich Town mendapatkan hadiah penting meski persaingan langsung terasa berat. Ipswich memberi dukungan besar untuk Kieran McKenna dengan belanja transfer senilai £150m untuk selusin rekrutan, dan O’Neil meraih kemenangan vital atas Sunderland.

Pengalaman musim lalu juga ikut menjadi bahan pelajaran karena ketika Ipswich pernah turun pada periode sebelumnya, mereka membutuhkan 11 pertandingan untuk meraih kemenangan dan akhirnya terdegradasi dengan hanya 22 poin. O’Neil tampak menikmati jalannya awal yang baik, termasuk dampak Julio Enciso yang ia pernah tangani saat di Strasbourg, serta kemitraan awal dengan striker Brasil Emersonn yang membuat gol pembuka Emersonn tercipta melalui kombinasi mereka. Meski masih ada pekerjaan rumah, cara Ipswich merespons laga menunjukkan suasana yang lebih positif daripada bayangan awal.

Andoni Iraola di Liverpool memang tidak merasakan kekalahan di laga Premier League pertamanya sejak menggantikan Arne Slot. Meski demikian, laga di Anfield lebih terasa seperti misi pencarian fakta, karena skor ditahan hingga akhirnya Dominik Szoboszlai mencetak penalti pada menit ke-99. Bagi Iraola, “penghindaran kekalahan” tetap menyisakan tanda tanya yang berhubungan dengan pola permainan Liverpool.

Gol-gol Newcastle juga mengingatkan pada momen yang sama ketika Liverpool kehilangan kendali dalam upaya mempertahankan gelar musim sebelumnya di bawah Slot. Newcastle memanfaatkan ruang di lini tengah Liverpool yang terlihat terbuka, sebuah kelemahan yang membuat tim rentan terhadap serangan balik cepat. Anthony Elanga menjadi pemantik melalui gol pertama, sementara enam pemain Iraola diceritakan “berdiri” tanpa respons saat Yoane Wissa dan Joe Willock mengunci gol kedua.

Iraola juga menyinggung arah perekrutan lini tengah dengan menyatakan bahwa Liverpool tidak akan memperkuat posisi dengan pemain bertipe ‘number 6’ yang defensif. Dari cara pertandingan ini terbaca, ia tetap membutuhkan solusi internal karena hasil imbang di St. James’ Park menjadi sinyal “red flag” bila kemelut di tengah belum terselesaikan. Nama Bradley Barcola dan Yankuba Minteh disebut sebagai target di sisi sayap, tetapi pertanyaannya tetap muncul: apa yang terjadi ketika lawan mampu menerobos jantung permainan Liverpool.

Ia juga harus mencari cara agar Alexander Isak dan Florian Wirtz tampil seperti pemain yang Liverpool bayar seharga £241m, karena keduanya disebut tampil buruk lagi di St. James’ Park. Dalam rangkaian laga awal ini, kendala yang sama tampak belum sepenuhnya terkunci menjadi perbaikan yang konsisten.

Enzo Maresca di Manchester City hampir saja memulai dengan hasil yang negatif, sebelum timnya membalikkan keadaan lewat dua gol akhir untuk mengalahkan Bournemouth. Pelatih asal Italia membutuhkan hasil seperti itu setelah City dihajar Arsenal di Community Shield, sehingga emosi Maresca pada peluit akhir tampak lebih dekat pada rasa lega ketimbang sekadar euforia.

Maresca menggambarkan hari itu sebagai “perfect”, tetapi kenyataan di lapangan hampir berkata berbeda. Selain perubahan skuat, ada juga pola yang muncul saat City tampak menguasai bola namun kurang tajam, sesuatu yang pernah terlihat ketika Maresca membesut Leicester City dan Chelsea. Penggunaan Marc Guehi di lini tengah menjadi twist taktis, dan meski kemenangan diraih, laga ini tetap menyisakan kesan bahwa transisi masih dalam proses.

Di Newcastle United, Matthias Jaissle cuma berjarak beberapa detik dari kemenangan yang seharusnya sangat berharga atas Liverpool. Walau akhirnya kebobolan penalti pada waktu akhir, ia masih bisa mengambil banyak hal, termasuk respons intens dari skuad yang berada di belakang manajer baru itu.

Newcastle tampil dengan energi yang nyata dan merespons perubahan setelah Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes tidak lagi bersama tim. Gaya menyerang yang ingin dibangun Jaissle terlihat hadir, dan meski kemenangan belum datang, usaha tersebut cukup untuk memberikan kepuasan awal bagi pelatih di tengah gejolak yang melanda Tyneside musim panas ini.

Sementara itu, Oliver Glasner di Nottingham Forest mengalami awal yang buruk setelah kesuksesan FA Cup dan Europa League bersama Crystal Palace. Forest kalah 1-0 dari Leeds United berkat gol larut, dan Glasner menilai ia tidak bisa sekadar “mengatur tangan” agar pemain langsung tampil seperti “Real Madrid in the 70s”. Meski begitu, kekalahan pada pembuka liga tetap dianggap tidak memuaskan ketika ia berusaha menstabilkan kondisi tim dan meraih keberhasilan.

Ia juga menghadapi tekanan tambahan dari tuntutan pemilik Evangelos Marinkis, terutama setelah musim lalu ada empat manajer berbeda yang duduk di kursi pelatih Forest. Glasner memulai laga tanpa rekrutan baru dalam starting line-up, dengan delapan pemain berasal dari tim Nuno Espirito Santo yang menang atas Brentford di pembuka musim lalu. Meski ada kemungkinan striker Liam Delap akan datang dari Chelsea, laga perdana ini menjadi pukulan yang sangat cepat bagi rencana stabilitas Forest.