jurnalistik.co.id – Sir Billy Boston memperoleh gelar kebangsawanan pada 2025, sebuah pengakuan yang tidak hanya merayakan prestasi, tetapi juga mengangkat warisan rugby league dari Inggris utara ke panggung yang lebih luas. Dalam pandangan komentator liga rugby Matt Newsum, ia adalah atlet kelas dunia—“A world-class athlete, whose story deserved to be told”.
Keistimewaan momen itu terasa karena untuk pertama kalinya, cabang yang tumbuh dari tradisi utara Inggris mendapatkan penghormatan setara dalam bentuk ksatria. Boston dinilai pantas menerimanya sebagai salah satu figur yang kontribusinya diakui lewat sejarah panjang olahraga tersebut.
Nama Boston juga terukir dalam bentuk nyata. Ia dipilih sebagai salah satu dari hanya lima orang untuk hadir di monumen Wembley yang didedikasikan bagi Challenge Cup rugby league. Penghormatan serupa datang dari Cardiff, kampung halamannya di Wales, yang beberapa tahun setelah ia meninggalkan wilayah utara Inggris memastikan warisannya tetap hidup.
Cardiff membentuk penghormatan tiga orang bersama Clive Sullivan dan Gus Risman, menjadikan Boston bagian dari rangkaian nama yang melekat pada ingatan kolektif. Di Wigan—kota yang kemudian menjadi rumah keduanya—Boston juga dikenang dalam bentuk patung perunggu, seolah menandai tempat di mana legendanya benar-benar menemukan tubuhnya.
Boston lahir dan dibesarkan di Tiger Bay, Cardiff, sebuah kawasan yang disebut bernuansa etnis beragam. Sejak muda, ia mempelajari keterampilan rugby dari jalanan, sekaligus diasah melalui Cardiff International Athletic Club yang digambarkan sebagai “talent factory” versi atletik.
Bagi banyak pemuda Wales, harapan bermain untuk klub lokal dan membela tim nasional adalah impian yang berulang. Boston juga menginginkan jalur itu, termasuk bergabung dengan Cardiff Blues dan meraih kesempatan di level internasional.
Namun, pada satu periode, jalan tersebut tidak segera terbuka. Ia harus menempuh perjalanan ke Neath dan Pontypridd untuk trial, sebelum masa dinas militernya membawanya ke wilayah utara. Dari sinilah perhatian liga rugby mengarah padanya.
Perekrut league kemudian datang, dan Wigan meyakinkan Boston untuk beralih menjadi profesional pada 1953. Keputusan itu sekaligus mengakhiri mimpinya di ranah rugby serikat (union), pada masa yang digambarkan sebagai “sine die” penalty ketika berurusan dengan personel liga.
Peralihan profesional juga berarti perubahan finansial yang besar. Jumlah £3,000 disebut mampu membeli sebuah rumah pada tahap itu, dan uang tersebut dianggap terbayar melalui dampak langsung di lapangan. Boston memulai dengan sentuhan pertamanya di pertandingan Wigan A team, seolah menunjukkan adaptasi yang cepat terhadap permainan baru.
Gambaran tentang dirinya konsisten: ia cepat, mampu melakukan langkah menembus ruang, dan memiliki kualitas yang membuat lawan kesulitan membaca arah bolanya. Bahkan Ray French—mantan pemain sekaligus komentator BBC—pernah menyebut ciri khas fend Boston seperti “being hit in the face with shovel”.
Ia tampil dengan karakter yang sulit memudar meskipun direkam dalam footage bernuansa sepia dan ditangkap kamera dengan shutter speed pelan. Menurut Newsum, kejernihan kemampuan Boston tetap terasa, baik saat ia melesakkan upaya di Wembley maupun ketika ia menjadi kilatan kecepatan di Sydney Cricket Ground saat berhadapan dengan Australia.
Berita Terkait
Boston bergerak cepat menuju tim utama di Central Park. Dalam 488 pertandingan untuk Wigan, ia mencetak 478 tries, angka yang kemudian diceritakan dari generasi ke generasi sebagai bukti konsistensi dan daya ledak di area lawan.
Di hari-hari terakhirnya, namanya tetap akrab bagi orang-orang di Brick Community Stadium, baik yang muda maupun yang lebih senior. Boston tidak hanya meninggalkan statistik, tetapi juga meninggalkan ingatan yang terus dibawa oleh penggemar.
Newsum juga menyinggung pengakuan internasional yang akhirnya datang lewat Great Britain. Wales, yang sebelumnya tidak memberinya pengakuan setingkat itu, digambarkan justru membuat Boston seolah membayar kembali kepercayaan melalui tries-tries yang ia kumpulkan sebagai balasan bagi pilihan para selektor.
Salah satu ciri era Boston adalah produktivitasnya saat menghadapi Australia. Pada tur Great Britain perdananya, ia mencetak 36 tries sendirian dan membuat Australia serta Selandia Baru terpana pada 1954, ketika ia bermain di bawah kapten dan sesama Wales, Dickie Williams.
Tetapi, bagi Newsum, dampak Boston tidak berhenti di lapangan. Ia menekankan pesan kuat tentang bagaimana dalam Inggris pasca-perang, seorang atlet kulit hitam bisa menjadi figur yang sangat digemari oleh komunitas-komunitas yang sedang menyesuaikan diri dengan dunia yang lebih beragam.
Ia menyebut bahwa sebelum Boston sudah ada figur seperti Roy Francis, Johnny Freeman, dan Colin Dixon. Namun, tidak ada yang dianggap memiliki kilau bintang yang sama seperti Sir Billy.
Jejak Boston kemudian disebut membuka jalan bagi pemain-pemain berikutnya, termasuk Ellery Hanley dan Martin Offiah, yang mampu memikat publik lewat talenta mereka. Di era yang lebih modern, kemampuan para pemain seperti Junior Nsemba dan Kai Pearce-Paul juga disebut tetap menonjol dalam olahraga yang, menurut Newsum, telah meruntuhkan banyak penghalang.
Newsum juga menggambarkan Boston sebagai sosok pemersatu. Di lingkungan liga rugby yang kerap terbelah oleh kubu-kubu dan sentimen kedaerahan, ia punya efek yang berbeda: Boston dihormati secara alami di Wigan.
Ia menambahkan bahwa saat nama Boston disebut, tidak ada “boo” atau ejekan. Bahkan ketika ia disebut di tempat yang biasanya sarat rivalitas, seperti St Helens—yang tetap mengapresiasi pemain sepak bola yang benar-benar bagus—tidak ada nada merendahkan yang keluar.
Ia bahkan tetap menjadi pengunjung rutin pertandingan Wigan sampai wafatnya. Momen ketika kamera menangkapnya disebut selalu terasa istimewa: saat kerumunan melihatnya di layar, sorakan muncul, lalu ada senyum yang merayap di wajahnya seperti tanda bahwa ia dipahami dan dirindukan.
Dalam bagian yang paling menyentuh, Newsum menyebut ada foto Boston bersama istrinya, Lady Joan, yang meninggal hanya beberapa pekan sebelumnya. Joan tampak hadir di kursinya dengan bunga pada pertandingan Wigan melawan Wakefield minggu lalu. Lalu, ada penekanan bahwa Sir Billy pergi tidak lama setelah istrinya.
Karena itu, kursinya di Wigan dikatakan akan selalu disediakan, sementara ia dikenang dengan rasa kehilangan yang dalam—namun juga dengan keyakinan bahwa warisannya tidak akan hilang begitu saja.












