jurnalistik.co.id – UEFA dikabarkan akan mencabut ancaman boikot terhadap kompetisi-kompetisi FIFA setelah menerima jaminan bahwa rencana Gianni Infantino untuk “melepas” kepemilikan komersial Piala Dunia tidak akan terulang. Kepastian tersebut, menurut BBC Sport, disampaikan setelah Infantino menghadapi penolakan luas dan rencananya dibatalkan.
Menurut informasi yang diterima media tersebut, pembahasan mengenai langkah pencabutan ancaman ini akan berlangsung pada pertemuan Komite Eksekutif UEFA di Monaco pada Kamis. Dengan keputusan baru itu, UEFA berharap isu yang memicu gejolak sebelumnya tidak kembali muncul dalam bentuk yang sama.
Sebelumnya, UEFA telah menegaskan bahwa ancaman boikot hanya bisa dihindari jika syarat-syarat tertentu dipenuhi. Pada awal bulan ini, UEFA menyatakan bahwa kendati rencana Infantino sudah dibatalkan, kondisi untuk mencegah boikot “belum terpenuhi”.
Dalam penegasan yang disampaikan UEFA, mereka meminta adanya jaminan yang dapat memastikan upaya untuk “merusak permainan” lewat skema kepemilikan privat tidak akan terjadi lagi. Uefa menyatakan bahwa “Assurances have to be made that such attempts to disfigure the game in this way will never be made again,” yang dalam konteksnya berarti UEFA menuntut kepastian bahwa tidak ada percobaan serupa di masa depan.
Dampak langsung ke Piala Dunia U-20 Putri
Jika ancaman boikot dicabut, maka Piala Dunia U-20 Putri bulan depan di Poland diperkirakan tetap berjalan sesuai rencana. Turnamen tersebut dijadwalkan diikuti oleh enam tim Eropa, yakni Inggris, Prancis, Italia, Portugal, Spanyol, serta Poland sebagai tuan rumah.
Dengan demikian, langkah UEFA diproyeksikan akan menentukan apakah kompetisi usia muda itu tetap dipastikan tanpa gangguan dari respons terhadap polemik tata kelola dan arah kebijakan FIFA. UEFA sendiri menempatkan keputusan ini sebagai bagian dari upaya menghindari dampak langsung kepada para pemain muda.
Bukan “menyerah”, tetapi dorongan perubahan
Berita Terkait
Seorang sumber yang dekat dengan proses diskusi menyebut bahwa keputusan untuk mencabut ancaman boikot tidak boleh dibaca sebagai kemunduran. Sumber itu mengatakan, “This isn’t a climbdown,” sekaligus menambahkan bahwa pihak yang menentang rencana tersebut “will continue until there are wholesale changes,” atau akan terus mengupayakan perubahan menyeluruh.
Sumber yang sama juga menekankan bahwa dorongan ini berkaitan dengan strategi untuk menghindari kerugian bagi atlet muda. “It is not a Uefa defeat, rather the reality of avoiding hurting young players [over a] once-in-a-lifetime opportunity,” demikian bunyi pernyataan yang disampaikan, disusul sikap bahwa “The actions and insistence on change will continue and will win out in the end.” Intinya, para penekan perubahan menyatakan bahwa mereka tidak menghentikan tuntutan, hanya memastikan turnamen tetap terlindungi dari dampak boikot.
Alasan boikot sebelumnya
Langkah ini tidak muncul dalam ruang hampa. Sebelumnya, 55 asosiasi anggota sepak bola Eropa memilih untuk melakukan boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA sampai usulan bernama FIFA Forward Enterprises dicabut “dalam keseluruhan” dan sampai ada jaminan yang bersifat mengikat bahwa FIFA tidak akan lagi membuka tata kelola maupun kompetisi untuk kepemilikan privat.
Dalam situasi tersebut, boikot diposisikan sebagai alat tekanan agar FIFA memenuhi tuntutan tata kelola yang diajukan pihak Eropa. Namun, keputusan UEFA pada akhirnya berkaitan dengan apakah syarat-syarat yang mereka anggap krusial sudah benar-benar terwujud melalui jaminan yang mereka terima.
FIFA sendiri disebut telah dihubungi untuk memberikan tanggapan. Sementara itu, pernyataan politik dan sikap dukungan publik juga turut muncul dalam isu yang sama, termasuk dari pihak pemerintahan Inggris.
Sekretaris budaya Inggris, Lisa Nandy, menyatakan pada bulan ini bahwa ia tidak mendukung boikot terhadap Piala Dunia U-20 tersebut. Nandy mengatakan, “I am not generally in favour of sporting boycotts full stop,” karena ia menilai boikot semacam itu “divide people” dan secara tidak adil menghukum atlet serta kompetitor yang tidak bertanggung jawab atas alasan boikot dilakukan.
Nandy juga menyampaikan harapannya terhadap perubahan arah sepak bola tanpa mengorbankan para pemain. Ia menyebut yang ingin dilihatnya adalah sepak bola “coming together, resolving this,” termasuk “a change of leadership” dan “a change of direction,” disertai “a very clear message” bahwa sepak bola “belongs to its fans” serta tidak akan ada perempuan dan anak perempuan yang “penalised” ketika permainan putri “is going from strength to strength,” dengan merujuk pada kepemimpinan tim “Lionesses”.
Dengan demikian, isu yang diperdebatkan UEFA dan berbagai pihak terkait bukan hanya prosedur kebijakan, tetapi juga pertimbangan dampak terhadap ekosistem kompetisi. Keputusan UEFA yang akan dibahas di Monaco pada Kamis menjadi penentu apakah jaminan yang diterima cukup kuat untuk mengakhiri ancaman boikot, atau apakah tuntutan perubahan harus tetap ditekan melalui langkah berikutnya.












