jurnalistik.co.id – Asosiasi Sepak Bola Irlandia Utara (Irish Football Association/IFA) menyatakan bahwa sudah saatnya terjadi perubahan di tubuh FIFA dan memutuskan untuk tidak memberikan dukungan pada Gianni Infantino dalam pemilihan presiden tahun depan.
Menurut pernyataan IFA, posisi tersebut terkait meningkatnya sorotan terhadap Infantino, terutama setelah rencana yang sempat digagas namun akhirnya gagal. Rencana itu berhubungan dengan upaya menjual 21% saham di operasi komersial FIFA kepada sebuah perusahaan investasi swasta, yang kemudian dibatalkan setelah mendapat kritik luas.
IFA menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan sekadar isu komunikasi, melainkan menyangkut sejumlah pertanyaan mendasar mengenai arah kebijakan dan cara pengelolaan aset. Dalam penilaian mereka, proposal penjualan sebagian aset FIFA kepada perusahaan private equity tanpa konsultasi dinilai “lebih dari sekadar kegagalan komunikasi”. IFA menilai langkah tersebut memunculkan “pertanyaan fundamental” terkait strategi, tata kelola, serta tanggung jawab pengelolaan aset.
Lebih jauh, IFA menyebut bahwa keberatan yang muncul tidak datang tanpa dasar. UEFA, sebagai salah satu otoritas sepak bola Eropa, sempat mengancam pemboikotan terhadap seluruh kompetisi FIFA. IFA sebelumnya dikatakan mendukung sikap UEFA tersebut, tetapi pada waktu itu belum disertai pengunduran dukungan secara formal.
Namun, dalam kesempatan terbaru, IFA menegaskan bahwa mereka kini menarik dukungan tersebut secara eksplisit. IFA menilai rencana Infantino telah memunculkan pertanyaan yang bersifat fundamental bagi presiden, sehingga proses evaluasi kepemimpinan dan arah organisasi dinilai perlu dilakukan. Dalam pernyataan resminya, IFA menyatakan keyakinan bahwa “the time for change” sudah saatnya terwujud.
Berita Terkait
Keterangan IFA menempatkan isu tata kelola sebagai inti keberatan. Mereka menilai proposal penjualan aset FIFA kepada pihak ketiga tanpa konsultasi menggambarkan masalah yang lebih luas daripada sekadar cara penyampaian. Karena itu, keputusan untuk tidak memilih Infantino dalam pemilihan presiden tahun depan hadir sebagai bentuk penegasan posisi IFA terhadap standar strategi dan governance di FIFA.
Langkah IFA juga sejalan dengan tren dukungan yang sebelumnya telah ditarik oleh sejumlah federasi lain. Asosiasi Sepak Bola Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia diberitakan telah secara publik menarik dukungan untuk Infantino sebelumnya. Infantino sendiri dijadwalkan menjadi kandidat pada pemilihan presiden untuk masa jabatan keempat pada bulan Maret.
Infantino saat ini berusia 56 tahun dan telah menjabat sebagai presiden FIFA sejak 2016. Apabila ia berhasil terpilih kembali, masa jabatan tersebut akan memperpanjang tenure-nya hingga 15 tahun, dengan estimasi berakhir pada 2031. Dengan demikian, keputusan IFA untuk tidak memberikan dukungan pada pemilihan tahun depan memperlihatkan bahwa proses menuju pemilu FIFA menghadapi dinamika politik yang semakin menonjol, sementara kendala-kendala di sekitar rencana komersial yang batal tetap menjadi rujukan utama.
Bagi IFA, alasan yang dikemukakan berpusat pada pertanyaan fundamental terkait bagaimana aset FIFA dikelola dan bagaimana arah strategis diputuskan. Mereka menegaskan bahwa “We believe the time has come for change”, yang sekaligus menjadi penanda bahwa perubahan dianggap sudah mendesak dilakukan. Keputusan ini pun membuat peta dukungan menjelang pemilihan presiden tahun depan semakin beragam, dengan lebih banyak asosiasi yang menyatakan jarak dari Infantino.
Penarikan dukungan yang ditegaskan IFA juga mengubah posisi federasi itu dari sikap yang sebelumnya masih dinilai selaras dengan keberatan pihak lain menjadi sikap yang dituangkan secara formal. Dengan menarik dukungan menjelang pemilihan presiden FIFA, IFA menempatkan proses evaluasi kepemimpinan pada agenda utama, terutama ketika kandidat yang disorot adalah Infantino yang akan menjalani pencalonan untuk masa jabatan keempat pada bulan Maret.
Di sisi lain, kekhawatiran yang mengemuka tidak berdiri sendiri, melainkan berkembang bersama sorotan yang lebih luas terhadap rencana komersial FIFA yang batal. Setelah gagasan penjualan sebagian saham—yang dikaitkan dengan pihak investasi swasta—ditolak secara luas, sejumlah asosiasi lain yang sebelumnya telah menarik dukungan juga memperlihatkan bahwa isu tata kelola dan arah pengelolaan aset menjadi fokus bersama. Kondisi ini membuat dinamika jelang pemilu semakin terlihat, terlebih bila Infantino terpilih kembali karena rentang masa jabatan diproyeksikan dapat mencapai hingga 2031.












