Olahraga

WADA: Ozempic dan Mounjaro tidak dilarang atlet pada 2027, tapi masuk daftar pemantauan

×

WADA: Ozempic dan Mounjaro tidak dilarang atlet pada 2027, tapi masuk daftar pemantauan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Weight-loss drugs in sport: Ozempic, Mounjaro not on Wada banned list for athletes

jurnalistik.co.id – WADA memastikan atlet tidak akan dijatuhi sanksi larangan penggunaan obat penurunan berat badan pada aturan 2027. Meski demikian, zat-zat terkait tetap masuk daftar pemantauan karena badan anti-doping itu terus menilai potensi dampaknya terhadap performa dan risiko penyalahgunaan di olahraga.

Keputusan ini diumumkan setelah pertemuan komite eksekutif WADA. Aturannya diberlakukan mulai Januari dan akan ditinjau secara tahunan.

Dalam aturan terbaru tersebut, obat yang termasuk golongan agonis reseptor GLP-1 tidak ditetapkan sebagai zat terlarang untuk atlet. Namun, status “monitoring list” menunjukkan WADA masih menempatkan perhatian khusus pada perkembangan penggunaan obat-obat ini di lingkungan olahraga.

WADA menyatakan akan menilai kemungkinan obat-obatan tersebut memberikan keuntungan tertentu yang relevan dengan performa. Pada saat yang sama, badan itu juga melihat aspek kesehatan serta peluang terjadinya penyalahgunaan.

WADA merujuk pada obat-obatan yang semakin dikenal luas di luar olahraga elit. Ozempic dan Mounjaro disebut sebagai contoh yang paling sering dibicarakan, meski keduanya tidak akan masuk daftar larangan pada periode aturan 2027.

Profesor Olivier Rabin, direktur senior untuk ilmu pengetahuan dan pengobatan WADA, mengingatkan atlet untuk bersikap sangat hati-hati. Ia menegaskan, “very careful using those drugs and never without medical advice and supervision”.

Rabin juga menambahkan bahwa perubahan fisiologis akibat penggunaan obat tersebut bersifat drastis dan dapat membawa konsekuensi serius. Ia menyampaikan, “It’s such a drastic change in your physiology that it can come with serious side effects and risks, in particular for athletes,”

Semaglutide—yang sering dipasarkan dengan merek seperti Ozempic dan Wegovy—lebih dulu dimasukkan ke daftar pemantauan sejak 2024. Sementara itu, tirzepatide yang umum dikenal sebagai Mounjaro, ditambahkan ke daftar pemantauan pada tahun ini.

Rabin menjelaskan bahwa proses pemindahan suatu zat dari daftar pemantauan menuju daftar terlarang mengikuti kriteria penilaian. Untuk berpindah status, zat tersebut perlu memenuhi dua dari tiga syarat yang mencakup potensi meningkatkan performa olahraga, adanya risiko kesehatan bagi atlet, serta pelanggaran “spirit of sport”.

WADA saat ini memulai satu studi dan menyiapkan studi lainnya untuk melihat efek obat pada kondisi yang dirancang menyerupai aktivitas latihan tingkat tinggi. Studi-studi itu menggunakan rancangan yang spesifik sehingga dapat membantu WADA memetakan dampak terhadap fisiologi manusia.

Dalam penjelasannya, Rabin mengatakan, “It’s still going to take us a little bit of time to collect all this information, because they are highly controlled studies in very specific conditions,”. Ia menambahkan, “What we want to see is whether some of the pharmacological impact on human physiology that has been observed in obese patients would also occur in non-obese, highly trained people.”

Penilaian WADA tidak berhenti pada potensi manfaat saja. Dampak samping juga menjadi bagian penting dari pertimbangan kebijakan.

Rabin menyebut potensi keuntungan bisa tertutupi oleh efek yang tidak diinginkan seperti mual, kelelahan, dan berkurangnya massa otot. Ia menekankan bahwa kehilangan massa otot berisiko berlawanan dengan tujuan atlet.

Menurut Rabin, “If you’re an athlete and you lose muscle mass, that may be very counterproductive for what you’re trying to achieve,”. Ia menambahkan, “So all these elements show you that it’s not a very straightforward answer.”

Jika mengikuti jadwal kebijakan yang lazim, perubahan yang disetujui pada pertemuan komite eksekutif September tahun depan akan berlaku pada Januari 2028. Dengan kata lain, transisi status zat dapat berubah apabila bukti studi yang dikumpulkan mengarah pada penetapan lebih ketat.

Dalam konteks risiko penyalahgunaan, Rabin menilai obat semacam ini kemungkinan paling menarik bagi atlet di cabang yang menuntut kontrol berat badan secara ketat.

Ia menyoroti olahraga kategori berat seperti tinju dan gulat, serta balap kuda. Pada balap kuda, joki memiliki kewajiban memenuhi batas berat tertentu sebelum perlombaan berlangsung.

Rabin juga menyampaikan pandangannya bahwa kebutuhan pengaturan berat badan tidak semata milik atlet di kategori berat. Ia mengatakan, “A lot of sports would benefit from weight control and weight management,” dan menambahkan, “Not only those in weight-category sports, but all sorts of sports.”

Selain itu, Rabin menyoroti pelari jarak jauh dan pesepeda sebagai atlet yang menempatkan perhatian tinggi pada pengendalian berat badan.

Ia juga menyebut ada cabang olahraga yang mempertimbangkan aspek tampilan fisik. Rabin menyampaikan, “There are sports as well where aesthetics play a role,” lalu menjelaskan, “It can be gymnastics, can be horse riding, can be many different sports where you don’t have weight categories, but physical appearance is quite important.”

Meski obat penurun berat badan mulai dikenal luas, Rabin mencatat bahwa jumlah atlet yang berbicara secara terbuka soal penggunaan obat tersebut masih sangat sedikit.

Salah satu nama yang paling menonjol adalah Serena Williams. Ia, seorang juara tenis 23 kali Grand Slam, menyebut pada tahun lalu bahwa ia memakai obat penurun berat badan ketika tengah menjalani jeda dari karier profesional.

Williams mengatakan ia kesulitan menurunkan berat badan setelah melahirkan. Ia juga tercatat sebagai juru bicara Ro, perusahaan yang menjual GLP-1, dengan suaminya disebut sebagai investor.

Di sisi penelitian, studi dari Loughborough University ikut menggambarkan situasi penggunaan obat GLP-1 di lingkungan medis olahraga. Studi tersebut—yang mensurvei lebih dari 100 dokter spesialis kedokteran olahraga dari berbagai belahan dunia—menemukan 12% responden menyadari adanya atlet yang memakai obat GLP-1 tanpa kebutuhan medis.

Dengan keputusan WADA yang menahan status larangan untuk aturan 2027, olahraga tetap menghadapi dilema kebijakan: di satu sisi ada upaya mencegah penyalahgunaan, di sisi lain ada kebutuhan untuk memahami dampak obat secara ilmiah pada atlet yang tidak memiliki indikasi obesitas.

Selama proses studi lanjutan berlangsung, daftar pemantauan menjadi jembatan kebijakan bagi WADA untuk mengumpulkan informasi lebih rinci. Namun, peringatan Rabin tetap tegas: penggunaan obat tersebut tidak boleh diperlakukan sebagai keputusan rutin, tanpa arahan medis dan pengawasan yang memadai.