jurnalistik.co.id – Formula 1 kembali ke Madrid pada GP Spanyol 2026, membawa pertanyaan yang sama sejak awal: apakah kota yang menempatkan sepak bola sebagai identitas utamanya sanggup merangkul sebuah ajang balap berkelas dunia?
Publik F1 memang sedang tumbuh pesat di berbagai wilayah di luar Eropa, tetapi Madrid punya ritme sendiri. Terakhir kali ada balapan di kota ini pada 1981, sementara figur juara dunia Spanyol sudah absen sekitar dua dekade terakhir dari panggung balapan paling bergengsi.
Warga Madrid, menurut sejumlah kesaksian yang dihimpun jelang kedatangan rangkaian balap itu, melihat kedatangan F1 sebagai kesempatan sekaligus ujian. Bagi mereka, kehormatan olahraga tak hanya hadir dari satu cabang, selama kota menyediakan ruang bagi minat baru yang datang bersama penggemar dan tim.
Sepak bola sebagai fondasi, F1 sebagai perluasan
Di Madrid, nama besar sepak bola nyaris tak pernah jauh dari percakapan sehari-hari. Real Madrid disebut sebagai klub sepak bola terhebat dalam sejarah: mereka mengoleksi 15 Piala Eropa dan 36 gelar La Liga. Era “Galacticos” juga disebut sebagai generasi pemain-pemain terbaik dunia yang dimulai dari nama-nama seperti Zinedine Zidane dan Ronaldo, lalu berlanjut pada skuad modern yang memuat Jude Bellingham dan Kylian Mbappe.
Atmosfer itu tampak meledak pada akhir Agustus ketika sekitar 75.000 Madridistas berteriak untuk kemenangan 3-0 yang lahir dari volinya Mbappe yang disebut “majestic” saat melawan Malaga setelah setengah jam pertandingan berjalan. Di sisi lain, Atletico digambarkan tidak terlalu jauh tertinggal di kompetisi liga.
Namun, ketika F1 hadir, fokus audiens berpotensi berubah—meski tidak meniadakan kecintaan pada sepak bola. Seorang warga mengatakan “Yes, [the F1 race] is good for Madrid,” lalu menekankan bahwa “The race can [take] Madrid’s [identity] outside of football,” sebelum menambahkan bahwa ia “more than excited” dan ingin “see how it goes.”
Kekaguman itu juga dibawa oleh narasi lain: “We’ve always been dreaming of having something [from F1] closer to home,” demikian salah satu warga. Ia menyebut pernah menyaksikan F1 di Barcelona dan Belgian GP, tetapi berharap penyelenggaraan edisi pertama tidak membuat mereka menjadi “the guinea pig,” sambil berujar, “Organising tends to be messy in the first year.”
Selain itu, ada keyakinan bahwa F1 bisa menambah sorotan bagi kota. Madrid juga disebut punya banyak pelajaran dari F1 soal cara menjalankan pesta olahraga global, sementara F1 diharapkan bisa mempelajari “the true Spanish way.” Pada saat yang sama, dibandingkan dengan Barcelona, Madrid dianggap akan memberi “more of a taste of Spain” kepada para pengemudi dan penggemar yang datang.
Jikaema dan “Madring”: rangkaian yang dipahat untuk pengalaman
Nama “Madring” muncul sebagai penanda bahwa lokasi balapan ini bukan sekadar urusan aspal dan pagar pembatas. Teks menyebut sinyal penyeberangan yang “resemble birdsong,” lalu pemandangan conifer Meksiko yang bergoyang di atas kemacetan menunggu, dengan latar palaciosian yang kontras dengan tatanan blok yang relatif datar di pusat kota.
Alih-alih menumpuk janji terhadap pengalaman balapan, panitia memilih jalur yang secara praktis dipandang masuk akal: area pameran yang dikelola Ifema, organisasi yang digambarkan sebagai quasi-state owned, tepat di dekat bandara. Luis Garcia Abad—dijelaskan sebagai bos Madring sekaligus mantan manajer Fernando Alonso, satu-satunya juara dunia Spanyol—menggambarkan gagasan ini sebagai “a joke” dan “a fantasy.”
Ia juga menyebut antrean kota yang ingin menggelar GP F1 “is huge,” sebelum menegaskan bahwa pihaknya “signed a contract for 10 years.” Garcia Abad menuturkan bahwa sekitar tujuh atau delapan tahun lalu pembicaraan mengenai balapan ini sudah bergulir, ketika Ifema menghubunginya dan bertanya tentang kelayakan rencana tersebut.
Soal logistik, rute menuju sirkuit tidak didesain seperti perjalanan tamasya selebritas. Teks menyatakan bahwa figur seperti Patrick Dempsey, Rafael Nadal, dan Mbappe tidak akan “standing on the platform of Avenida de America to hop on the pink line,” karena mereka akan diarahkan ke area VIP dekat paddock yang disebut memiliki “six-strong VIP area.”
Tetap, Madrid diposisikan sebagai kota yang punya transportasi publik berkualitas, sehingga panitia memangkas banyak area parkir dan meminta penonton meninggalkan kendaraan pribadi di rumah. Meski begitu, pengalaman di lokasi balapan diproyeksikan terasa “real,” bukan sekadar hadir untuk “be in Madrid but for F1.”
Berita Terkait
Garcia Abad menjelaskan setiap bagian sirkuit punya karakter sendiri, dan menyoroti “Monumental… Turn 12,” yang disebut “huge, amazing.” Ia menambahkan bahwa pihaknya “more than 30,000 people around one corner” untuk menempatkan momen ikonik itu di pusat pengalaman penonton.
La Monumental: tantangan 26 derajat dan investasi yang besar
“Ah yes, Monumental” menjadi nama yang paling sering dibicarakan ketika orang membahas balapan ini. Tikungan tersebut digambarkan sebagai tantangan dengan kemiringan 26 derajat, serta disebut lebih panjang secara substansial dibanding tikungan di Zandvoort pada Dutch Grand Prix.
Ukuran dan bentuknya diungkapkan sebagai semacam “castle on top of the hill,” lengkap dengan area VIP yang bisa “house the King of Spain and his family.” Namun, struktur tersebut sulit dilalui, bahkan teks menilai duduk di area itu “in 44C heat” terasa mustahil.
Operasi Ifema, yang dijelaskan oleh Carlos Jimenez sebagai operations director, menyebut bahwa Monumental dipilih karena “something recognisable” dan “Something iconic.” Ia juga menyatakan sirkuit dibangun dengan pertimbangan keberlanjutan: tenaga untuk balapan disebut berasal dari renewable energy, sementara sebagian bangunan yang sudah ada dipakai di sekitar area.
Meski demikian, tantangan teknik tetap besar. Teks menyebut investasi sekitar 65 juta euro untuk pekerjaan di area sirkuit, sedangkan biaya trek sendiri dikatakan mencapai 85 juta euro. Jimenez mengingat proses pembangunan dimulai pada musim dingin paling basah dalam 20 tahun di Spanyol, dengan hujan yang “torrential,” membuat tim menghadapi kondisi tanah liat yang buruk saat basah.
Ia menyebut ada tiga lapisan aspal, dan proses pembelajaran berjalan dari satu lapisan ke lapisan berikutnya. Bahkan pada 2022, proyek ini disebut seperti “a little bit of a crazy idea,” tetapi Madrid dianggap punya momentum saat ini sebagai kota yang sangat dikenal karena sepak bola, lengkap dengan daya tarik pesta dan gastronomi.
Untuk memuaskan penonton, Jimenez memakai metafora apres-ski: jika lereng ski punya hiburan setelah pertandingan, sirkuit juga harus punya hiburan pasca-balapan. Ia menilai posisi Madrid bisa berada di puncak karena “gastronomy,” iklim yang disebut “very mild in September,” serta “the party in Madrid” yang “unbeatable.”
Balapan yang keras, peluang menyalip yang terbatas
Garcia Abad menekankan bahwa Madring adalah street circuit: sebagian jalan publik, sebagian lagi dirancang khusus. Menurut deskripsi, berdiri di lintasan terasa intens karena dinding di kiri-kanan terasa seperti menekan, dan karena itu lebar lintasan secara visual mengisyaratkan bahwa menyalip “will be virtually impossible.”
Ia menyebut dari sudut pandang pembalap, sirkuit ini “quite a harsh circuit,” dengan 22 tikungan, termasuk tikungan naik-turun dan tikungan bernuansa banking yang disesuaikan dengan regulasi balap F1 yang baru. Ia mengaitkan penilaian tersebut dengan percakapannya bersama Charles Leclerc: “I spoke with Charles Leclerc and he said it was an amazing track,” namun ia percaya kesempatan menyalip “not by free,” dengan analogi “gladiators – the best drivers in the world.”
Penilaian itu sudah diuji melalui pengalaman balap di F3, dan Bruno del Pino—dijelaskan sebagai pembalap F3 asal Madrid—mengatakan, “It’s going to be really edgy.” Ia menggambarkan kondisi tikungan yang cepat dan dinding yang dekat membuat setiap momen selalu berada di batas, serta membandingkan sensasinya dengan “Jeddah” pada Saudi GP, tetapi “with more difficulty.”
Untuk tikungan Monumental, Pino menyoroti sudut yang tampak “it never ends,” termasuk momen pertama yang membuatnya merasa lintasan seperti “going straight up” dan “you feel like you’ll fly straight out [of the track].” Ia menambahkan bahwa bagi pembalap, lintasan terasa datar karena downforce, sehingga “it’s not really a corner,” sementara kombinasi Turns 10 dan 11 disebut berkecepatan tinggi dan dekat dengan dinding hingga “quite a few drivers will kiss the wall.”
Freddie Slater—pembalap F3 dari Inggris—mendukung gambaran itu dengan nada lebih emosional. Ia menilai satu putaran di Madrid “so exhilarating,” adrenaline “pumping,” dan menyebut lintasan itu “one of the best tracks on calendar, if not the best.” Slater juga menyebut lintasan memiliki karakter, tonjolan, tanjakan dan turunan, sehingga terasa lebih “old-school.”
Di akhirnya, Garcia Abad menempatkan penonton sebagai penentu. Ia menyimpulkan bahwa bukan hanya Madrid membutuhkan F1, tetapi “maybe even F1 needing Madrid.” Investasi yang dilakukan diposisikan untuk menciptakan pengalaman di dalam kota, dan masa depan kejuaraan disebut bergerak ke arah yang sama: “we need to take care of customers and spectators. They are our future.”
Di sisi teknis, teks menambahkan detail bahwa tidak ada “dreaded manhole covers” di bagian mana pun lintasan. Disebutkan pula ada penghapusan 25 km terowongan bawah tanah untuk menghindari balapan melewati “any iron grids.” Bahkan podium disebut dibangun di atas area pitlane 1, sebagai bagian dari rancangan yang membuat semua momen penting berada dalam satu simpul pengalaman balap.












