Olahraga

Perlukah latihan disesuaikan dengan fase siklus haid? Peneliti menilai bukti berbasis fase belum kuat

×

Perlukah latihan disesuaikan dengan fase siklus haid? Peneliti menilai bukti berbasis fase belum kuat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Should you be 'cycle-syncing' your workouts?

jurnalistik.co.id – Tren mengatur latihan agar “sejalan” dengan fase siklus haid belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Di balik popularitasnya, sejumlah peneliti menilai dasar ilmiahnya belum cukup kuat untuk dijadikan panduan baku bagi semua orang.

Gelombang “cycle-syncing” muncul lewat ribuan video di TikTok dan Instagram yang menyajikan kisi berwarna pembagian siklus menstruasi menjadi beberapa fase, lalu memasangkannya dengan jenis latihan tertentu. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah pernyataan kreator kebugaran yang mengatakan, “When you’re bleeding, you want to be doing steady-pace jogging, Pilates, barre, walking, resting,” sambil menekankan bahwa intensitas dan pilihan olahraga diubah mengikuti fase yang sedang dialami.

Di internet, rencana latihan berbasis fase ini turut dipopulerkan oleh klaim bahwa setiap fase memerlukan bentuk latihan berbeda. Popularitasnya terlihat dari data penelusuran Google yang naik 740% sejak 2022 untuk istilah tersebut, serta lebih dari 55.000 video TikTok yang memakai tag #cyclesyncing.

Namun, banyak saran yang beredar berasal dari kreator kebugaran dan wellness, bukan dari kalangan medis atau pakar riset. Pola yang sering diajarkan biasanya membagi latihan menjadi beberapa tahap: olahraga yang lebih ringan saat menstruasi, lalu peningkatan intensitas yang bertahap pada fase folikular menuju ovulasi; kemudian latihan kekuatan atau high-intensity training yang lebih berat di sekitar ovulasi; dan akhirnya meredakan latihan lagi pada fase luteal (periode antara ovulasi dan awal menstruasi berikutnya).

Menurut Kelly McNulty, peneliti dari Leeds Beckett University yang meneliti siklus menstruasi dan olahraga, ada bukti bahwa sebagian perempuan merasakan perubahan pada gejala, tingkat energi, maupun persepsi kekuatan selama siklus. Tetapi, itu berbeda dengan kesimpulan bahwa semua perempuan seharusnya berlatih dengan cara tertentu pada titik tertentu dalam siklus mereka.

McNulty menegaskan panduan fase yang bersifat universal tidak sesuai dengan bukti yang tersedia. Ia menyebutnya, “a trend based on marketing rather than any kind of research or evidence” dan menambahkan, “There isn’t any research to support that kind of phase-based prescription,”

Salah satu persoalan utama, lanjut McNulty, adalah sifat siklus menstruasi yang sangat individual. Siklus dapat berbeda antarperempuan, dan pengalaman satu orang bisa ikut berubah dari satu siklus ke siklus berikutnya. Karena itu, saran luas yang sering ditemukan di media sosial tidak selalu mudah diterapkan dalam kehidupan nyata.

Ia juga menggarisbawahi bahwa banyak aplikasi pelacak siklus didesain berdasarkan siklus yang relatif teratur, yakni 21 hingga 35 hari. Rekomendasi yang dibangun dari asumsi itu berisiko kurang relevan bagi orang dengan periode yang tidak teratur, atau bagi mereka yang menggunakan kontrasepsi hormonal.

Meski demikian, McNulty tidak menolak gagasan untuk lebih peka terhadap tubuh. Ia merangkum pendekatannya dengan kalimat, “It’s not so much about doing certain exercises in certain phases, it’s about working with your own individual body and what your needs might be.”

Perubahan latihan lebih “intuitif”, bukan resep fase

Di Sydney, Australia, Cesci Burgoyne—seorang perawat sekaligus pelatih pribadi dan ahli nutrisi—mengatakan ia mengubah latihan berdasarkan bagaimana tubuhnya merasa, bukan mengikuti rencana yang preskriptif. Ia menekankan bahwa penyesuaian dilakukan secara intuitif, bukan dengan menempel pada skema yang sama untuk setiap orang.

Burgoyne menyampaikan, “In my luteal phase I’ll try and ease off in the training,” dan pada fase folikular ia merasa berbeda: “In my follicular phase, I’m so energised, I feel like I can lift so much heavier. I like to try and get my long runs in.” Ia juga menyambut membesarnya perhatian pada kesehatan perempuan, seraya mengingat bahwa riset olahraga dan nutrisi sebelumnya kerap terlalu fokus pada tubuh laki-laki, lalu hasilnya sering diterapkan juga pada perempuan.

Gagasan serupa datang dari kreator kebugaran Sarah yang dikenal sebagai @liftwsarah di Instagram dan TikTok. Ia mengakui bahwa sepanjang bulan, energi, motivasi, kram, dan suasana hati dapat berubah. Tetapi ia memilih tidak mengikuti paket latihan yang kaku karena baginya, “there are too many variables at play”.

Ia menambahkan bahwa sebagian rencana online menyarankan menghindari latihan intens saat menstruasi. Namun Sarah mengaku pernah mencatat rekor pribadi justru ketika sedang menstruasi. Ia merumuskan masalahnya dengan tegas: “The problem is not that the menstrual cycle is irrelevant,” lalu menegaskan, “not everything is predictable”.

Risiko “nocebo” dan batasan membangun kekuatan

Dr Faye Bate, dokter terlatih yang fokus pada kesehatan perempuan, juga berhati-hati terhadap nasihat yang menyatakan semua perempuan seharusnya berlatih dengan cara berbeda sesuai fase menstruasi. Ia menilai, “A one-size-fits-all model of ‘you should be exercising this way in this phase and a different way in a different phase’ shouldn’t be advice that applies to all women,” karena pendekatan satu ukuran untuk semua dapat mengabaikan variasi kondisi individu.

Bate khawatir pengulangan pesan semacam itu bisa menciptakan efek “nocebo”, ketika ekspektasi negatif justru memengaruhi bagaimana seseorang merasa atau berperforma. Ia mengingatkan bahwa keyakinan tentang kemampuan yang “seharusnya” menurun pada fase tertentu dapat menjadi beban psikologis, bukan sekadar informasi yang membantu.

McNulty menambahkan bahwa jika seseorang rutin mengurangi latihan ketahanan (resistance training), tujuan jangka panjang bisa ikut terhambat. Baginya, latihan kekuatan memiliki peran penting bagi perempuan karena mereka menghadapi risiko osteoporosis yang lebih tinggi di usia lanjut. Ia menekankan bahwa membangun kekuatan membutuhkan latihan yang konsisten dan secara progresif makin menantang, serta mengingatkan, “we don’t want to create another barrier by suggesting women train less for almost half the month.”

Selain itu, Dr Bate mengingatkan agar gejala berat tidak dinormalisasi. Jika nyeri, kelelahan, atau perubahan suasana hati mengganggu olahraga maupun aktivitas harian, perempuan sebaiknya mencari saran medis, bukan menganggapnya sebagai bagian tak terhindarkan dari siklus.

Lebih baik “cycle-aware” daripada mematok aturan fase

Meski cycle-syncing dinilai tidak memiliki dukungan kuat untuk resep fase yang berlaku umum, para ahli yang diwawancarai tetap menyarankan pendekatan yang lebih realistis: menjadi “cycle-aware”. McNulty menyebut pelacakan siklus dapat membantu memahami pola pribadi, sedangkan Bate mendorong perempuan untuk makin mengenali bagaimana kondisi tubuh mereka di berbagai titik dalam sebulan.

Intinya, fokus seharusnya berada pada pengalaman individual, bukan pada aturan kaku berbasis fase. Dalam praktiknya, itu bisa berarti menyiapkan obat pereda nyeri sebelum periode dimulai, mengambil hari istirahat saat gejala lebih berat, atau mengurangi intensitas latihan ketika tubuh terasa jauh lebih lelah dari biasanya.

Bagi Bate, pesan yang paling menentukan adalah menyesuaikan diri dengan sinyal tubuh itu sendiri. Ia menegaskan, “the most important part is tuning in to how you feel”—yakni memakai siklus sebagai informasi, bukan sebagai seperangkat aturan yang harus diikuti persis.