jurnalistik.co.id – Wakefield Trinity melangkah ke Grand Final Super League setelah mengunci tiket ke laga pamungkas di Old Trafford, tepat dua tahun setelah mereka kembali dari kompetisi kasta kedua. Mereka akan berhadapan dengan Warrington Wolves untuk memperebutkan gelar.
Tom Johnstone, winger tim yang kini kembali berseragam Wakefield, menyebut momen tersebut terasa seperti mengejar mimpi yang lama ia simpan. “It's something I've dreamed about for years and it used to be a bit of a pipe dream,” ujarnya ketika membahas peluang klub meraih puncak kejayaan.
Pengharapan itu mulai mengarah pada realisasi pada 3 Oktober. Wakefield mengejutkan Wigan Warriors dengan skor 33-6 pada semifinal playoff, sekaligus memastikan mereka tampil di showpiece Old Trafford untuk pertama kalinya.
Dalam pertandingan yang memperlihatkan perubahan besar cara bermain Wakefield, Johnstone tampil menonjol dengan mencetak dua dari total lima try timnya saat melumpuhkan Wigan. Kemenangan ini juga menegaskan bahwa perjalanan mereka bukan kebetulan, melainkan buah dari proses yang dibangun dalam beberapa musim terakhir.
Bangkit setelah terdegradasi
Beberapa musim sebelumnya, Wakefield kerap berada di bagian bawah klasemen Super League. Mereka kehilangan status papan atas pada 2023, namun menurut kubu klub, fase itu justru menjadi titik awal pemulihan yang lebih terarah.
Perubahan tersebut dipicu oleh selesainya proses akuisisi oleh Matt Ellis, pengusaha yang dikenal sebagai bos bisnis peralatan dapur. Dukungan finansial dari Ellis, bersamaan dengan kepemimpinan dan pengalaman pelatih kepala Daryl Powell, membawa Wakefield naik dari Championship ke kompetisi elit dan kini berada di ambang gelar utama.
Powell menggambarkan perjalanan itu sebagai proses yang menegangkan namun memberi pelajaran. “The journey's been an interesting one.” Ia melanjutkan, “We got relegated but it was probably good for us. It allowed us to stabilise the team, get our staff in and sign some players that got us out of the Championship.”
Ia juga menegaskan strategi rekrutmen yang dilakukan selama masa pemulihan. Wakefield memulai perombakan skuad dengan mendatangkan pemain berkualitas seperti Mike McMeeken dan Tom Johnstone, sementara rekan-rekan yang bergabung setahun sebelumnya tumbuh semakin matang.
Semifinal yang mengubah peta
Menjelang laga, banyak pihak menilai Wakefield—yang finis keempat di Super League—memang memiliki peluang, tetapi mereka tetap dianggap berada di posisi kurang diunggulkan. Wigan datang sebagai tim yang tengah mengejar treble dan sebelumnya mengemas 16 kemenangan beruntun.
Berita Terkait
Wigan juga berada dalam target untuk meraih treble domestik kedua dalam tiga musim, namun Wakefield langsung menunjukkan respons yang agresif begitu laga berjalan. Mereka sempat tertinggal lebih awal, tetapi kemudian memanfaatkan momen penting saat Adam Keighran menerima kartu kuning pada paruh kedua.
Selepas insiden itu, Wakefield mengambil kendali pertandingan sepenuhnya. Mereka tidak hanya menyamakan kedudukan, melainkan memperbesar jarak dan akhirnya menang dengan 33 poin tanpa balas, mengunci kemenangan 33-6 yang mengirim mereka ke final.
Kevin Brown, mantan half-back Inggris yang bekerja sebagai pundit BBC, menilai performa Wakefield sebagai penampilan terbaik dalam sejarah mereka di kompetisi ini. “definitely their best ever performance in Super League,” katanya, sebelum menambahkan, “It's been an incredible story where we're at right now and we're going to run out of superlatives if they go and win it.”
Momen besar bagi pemain berpengalaman
Bagi kapten McMeeken, jalan menuju Old Trafford memiliki nilai emosional yang berbeda. Ia telah bermain dalam tiga Grand Final sebelumnya bersama Castleford dan Catalans, dan juga pernah menjadi bagian dari skuad Inggris yang menjalani semifinal Piala Dunia di kandang sendiri pada 2022.
Namun, ia tetap menaruh arti besar pada pencapaian akhir pekan tersebut. “To take in an experience like this is up there as one of the best moments of my career so far,” ujarnya.
Johnstone sendiri memandang keputusan kembali ke Wakefield sebagai langkah yang mengantarkan timnya pada fase yang lebih solid. Ia menceritakan proses diskusi saat pihak manajemen mempertemukannya dengan agen, termasuk gambaran tentang tujuan yang ingin dicapai. “We left and said: 'If they do any of that, it's going to be something special.' I couldn't say no.”
Final melawan bekas klub pelatih
Di Old Trafford, Powell akan menghadapi tim yang pernah ia latih. Ia mengaku akan bertemu dengan klub yang ditangani selama satu setengah musim sebelum hengkang pada pertengahan kampanye 2023.
Meski memiliki keterikatan pribadi, Powell menegaskan fokusnya bukan pada dirinya, melainkan pada para pemain. “It's not about me or my journey, it's about the players and how they're writing different scripts every time we take the field.”
Jika Wakefield keluar sebagai pemenang, mereka akan menjadi juara Super League untuk pertama kalinya. Powell juga menilai laga ini membawa makna besar bagi olahraga, sekaligus mengingatkan bahwa Warrington sudah pernah merasakan atmosfer final. “It'll be awesome for the game. I think it's awesome that we're there in particular, Warrington have been there before.”
Ia menutup dengan pesan soal kedisiplinan mental. “For us, it's about not getting too ahead of ourselves, playing the game as it is like we did tonight, and if we do that, we've got a great chance.”











