jurnalistik.co.id – Wakefield Trinity membuat kejutan besar di babak play-off semifinal Super League. Tim tamu menang 33-6 atas Wigan Warriors dan memastikan tiket ke Grand Final Super League pertama mereka.
Laga di kandang Wigan berakhir timpang. Wakefield unggul jauh setelah memanfaatkan momen krusial yang datang ketika Wigan kehilangan ritme akibat kartu kuning yang mengubah tempo permainan di paruh kedua.
Di awal pertandingan, duel berjalan ketat dan belum menunjukkan dominasi salah satu pihak. Wakefield sempat memimpin 8-6 pada akhir periode pertama, sebelum pertandingan berbelok pada fase-fase berikutnya.
Permulaan Wakfield lewat Brad OāNeill lebih dulu memecah kebuntuan. OāNeill mencetak try untuk Warriors, lalu Keighran menambah konversi sehingga tuan rumah memimpin 6-8 pada momen-momen awal.
Namun, cerita pertandingan berubah ketika Adam Keighran menerima kartu kuning pada menit ke-46. Saat pusat Wigan tersebut harus meninggalkan lapangan sementara, Wakefield justru tampil lebih efektif untuk meraih tambahan try dan memperlebar jarak skor.
Tom Johnstone menjadi salah satu penentu perubahan jalannya laga. Johnstone mencetak dua try, sekaligus menjadi mesin produksi poin Wakefield saat Wigan berada dalam kondisi kehilangan pemain.
Di rentang waktu tersebut, Jack Sinfield dan Corey Hall turut menambah try. Wakefield lalu mengunci keunggulan dengan try dari Ky Rodwell, membuat serangan mereka terus berulang dan membuat pertahanan Wigan sulit bernapas.
Wakefield pada akhirnya meraih 33 poin tanpa membalas dari pihak lawan setelah momen kartu kuning itu. Keunggulan mereka tidak hanya terlihat dari angka akhir, tetapi juga dari cara tim memaksimalkan peluang yang muncul dalam situasi jumlah pemain tidak seimbang.
Selain try, Wakefield juga menyelesaikan peluang dari kaki para eksekutor. Jowitt mencatat sejumlah konversi yang melengkapi akumulasi poin, sementara Mason Lino menambah drop-goal untuk memperindah skor akhir.
Meski Wigan hanya mencetak 6 poin di pertandingan ini, tim tetap punya momen yang menyelamatkan setidaknya satu aspek produktivitas. Poin Warriors datang ketika Jezz Tevaga berada di area hukuman sin-bin pada menit ke-15, usai trip terhadap Liam Marshall.
Saat itu, Wigan mengambil kesempatan dengan mencatat satu try yang kemudian dikonversi. Meski demikian, setelah fase tersebut berlalu, Wakefield kembali mengambil kendali dengan disiplin bertahan dan ketajaman di lini serang.
Langkah besar menuju Grand Final
Kemenangan ini membawa Wakefield Trinity ke Grand Final Super League untuk pertama kalinya. Bagi klub, hasil tersebut sekaligus mengakhiri asa ātrebleā Wigan Warriors pada tahun 2026.
Wigan sendiri datang ke semifinal dengan rekor kuat. Mereka menjalani 16 laga kemenangan beruntun dan sudah mengamankan dua trofi sebelum play-off, yakni Challenge Cup dan League Leadersā Shield.
Berita Terkait
Namun, catatan tersebut tidak cukup ketika mereka bertemu Wakefield yang tampil luar biasa. Di kandang sendiri, Wigan harus menyerah atas performa yang dinilai melampaui ekspektasi banyak pihak.
Wakefield bukan tim yang selama ini identik dengan dominasi Super League. Sebagai gambaran, mereka masih berstatus tim Championship pada 2024, sebelum mengalami lonjakan perkembangan dalam musim-musim berikutnya.
Di bawah arahan pemilik Matt Ellis dan pelatih kepala berpengalaman Daryl Powell, Wakefield menunjukkan kemajuan yang konsisten. Kini mereka tinggal satu kemenangan lagi untuk memastikan gelar Super League.
Grand Final tersebut akan mempertemukan Wakefield dengan Warrington Wolves. Laga final dijadwalkan pada Sabtu, 3 Oktober.
Sejarah baru, dan pertemuan yang diproyeksikan
Kemenangan ini juga menandai satu ānama baruā di daftar pemenang Grand Final Super League era modern. Hanya lima klub yang pernah meraih gelar Grand Final sejak kompetisi tersebut digelar pertama kali pada 1998, yaitu Wigan, St Helens, Bradford Bulls, Leeds Rhinos, dan Hull KR.
Dengan hasil ini, Wakefield akan menjadi klub keenam yang mencatatkan namanya sebagai juara. Akan ada pula kampiun baru pada tahun kedua berturut-turut, setelah Rovers meraih kemenangan pada 2025.
Untuk Warrington, ada beban sejarah yang perlu dituntaskan. Warrington tercatat kalah di semua empat Grand Final sebelumnya yang mereka jalani, dengan pertemuan terakhir terjadi pada 2018.
Bagi Powell, narasi laga final juga memiliki kaitan emosional. Powell pernah menangani Castleford Tigers ketika tim itu mengalami kekalahan pada Grand Final 2017, sehingga pengalaman tersebut kemungkinan menjadi referensi penting dalam persiapan melawan Warrington.
Sementara itu, fokus pada lini setengah lapangan juga menarik perhatian. Jack Sinfield diproyeksikan tampil di Grand Final 11 tahun setelah ayahnya, Sir Kevin Sinfield, menjalani pertandingan terakhirnya dari total delapan penampilan Grand Final.
Sir Kevin Sinfield memenangkan tujuh gelar bersama Leeds Rhinos dan dijadwalkan menyerahkan bola pertandingan sebelum laga pekan depan. Kesempatan itu juga menjadi penutup rangkaian fundraising terbaru terkait dukungan bagi amal motor neurone disease (MND).
āSemoga dia ada di sana!ā kata Jack Sinfield kepada BBC Two. Ia menambahkan bahwa Sir Kevin tidak berada di tempat pada malam ini karena memulai aktivitasnya lebih awal pada pagi hari, namun Jack yakin ayahnya akan menonton dan menegaskan rasa antisipasinya menyambut pekan depan.
Daftar susunan pemain menunjukkan bagaimana masing-masing tim menurunkan skuad terbaiknya. Wigan diperkuat antara lain Daniel Keighran, lalu sejumlah pemain inti lain yang memikul tugas di lini serang dan pertahanan. Wakefield juga menurunkan pemain-pemain utama, termasuk Johnstone, Sinfield, serta Rodwell yang menjadi bagian dari momen ketika Wakefield mengubah skor dari kejaran menjadi kendali penuh.
Bagi Wigan, hasil ini menjadi pukulan telak yang memutus peluang mereka melangkah lebih jauh pada 2026. Bagi Wakefield, kemenangan 33-6 itu sekaligus menjadi bukti bahwa musim mereka telah beranjak dari sekadar tren menuju panggung terbesar, tempat satu kemenangan lagi akan menentukan apakah mereka mampu menjadi juara Super League.












