jurnalistik.co.id – Old Trafford malam ini kembali memanggil perhatian pecinta rugby league, saat dua tim yang sama-sama menantikan momen penentuan berhadapan untuk memperebutkan status juara. Pertarungan ini juga menjadi ujian bagi mentalitas, karena sejak era Super League, trofi Grand Final di Old Trafford hanya pernah singgah di tangan lima klub.
Rekor itu akan bertambah satu nama pada Sabtu, ketika Warrington Wolves dan Wakefield Trinity berlomba meraih gelar ke-enam mereka di panggung paling bergengsi. Lima tim yang sebelumnya mengangkat trofi di Old Trafford adalah Wigan, Leeds, St Helens, Bradford, dan Hull KR, sehingga siapa pun pemenangnya nanti akan masuk daftar eksklusif tersebut.
Kisah 2026 sendiri terasa menonjol karena ada satu tim yang sudah beberapa kali mendekat namun belum berhasil melewati batas akhir, sementara tim lain justru mampu mengganggu peta kekuatan dan menyusup ke percakapan perebutan gelar. Karena itu, sebelum kickoff, pertanyaan besar bukan hanya siapa yang paling siap secara teknik, melainkan siapa yang paling mampu menjaga level permainan pada saat-saat krusial.
Wakefield membidik pengulangan performa saat menyingkirkan Wigan
Wakefield sedang membawa modal yang membuat banyak pihak terperanjat: kemenangan semifinal mereka atas Wigan berlangsung dengan karakter menghancurkan. Hasil tersebut menjadi bahan perbincangan luas, terutama mengingat Wigan tampil sebagai tim yang menargetkan treble-champions sebelum akhirnya dipukul mundur.
Dalam pandangan pelatih Daryl Powell, kemenangan itu menunjukkan adanya kombinasi paket depan yang agresif dan mampu mengunyah meter, lalu ditopang barisan belakang yang cepat dan cermat dalam menciptakan peluang. Ia menegaskan bahwa final satu kali ini bukan kelanjutan otomatis dari momentum sepanjang musim, melainkan laga yang menuntut kualitas yang sama sekali baru.
Powell menekankan tuntutan itu lewat pernyataannya: “We have to get the same performance level,” dan ia menambahkan, “When it really counts. “I’m not saying it’s going to be picture perfect, it’s very rare there is but I think we have to be at a very high level to beat Warrington and we all know that.”
Wakefield juga datang dengan narasi yang menegaskan peluang mereka, sekaligus menghadirkan karakter kejutan yang bisa dimanfaatkan di bawah lampu Old Trafford. Beberapa pemain belum pernah merasakan atmosfer Grand Final ini, sehingga suasananya berpotensi menjadi faktor yang menguji fokus—baik untuk tetap tenang maupun untuk memaksimalkan energi.
Tom Johnstone, misalnya, akan berhadapan dengan situasi yang sangat personal. Ia pernah meninggalkan Wakefield menuju Catalans pada 2023, lalu mencapai Grand Final pada musim pertamanya di sana sebelum kembali bergabung dengan Trinity pada 2025. Malam itu berakhir dengan kekecewaan karena Wakefield saat itu kalah dari Wigan, sehingga final 2026 menjadi kesempatan kedua baginya untuk meraih cincin yang ia incar.
Johnstone berbagi pengalamannya saat berbicara kepada BBC Radio 5 live: “It’s going to be different in so many ways for me because as much as I loved Catalans, this is my team,” dan ia menambahkan, “This has been my team for almost all of my career, and the team that gave me an opportunity 15 years ago as a youngster.”
Ia juga menjelaskan arti laga ini dalam kehidupan pribadinya: “So, this is special, this is the big one and it’s probably going to be, if we get it done, the best night of my life. Sorry, after my wedding, my wife said. She said it has to be second to my wedding.”
Jay Pitts menutup karier dengan misi khusus
Bagi Wakefield, Grand Final kali ini juga terasa sebagai penutup cerita penting di ruang ganti. Salah satu sumber motivasi yang disoroti adalah pensiunnya Jay Pitts, pemain belakang-deret (back-rower) yang menjadi bagian kokoh dalam perjalanan tim.
Pitts berusia 36 tahun, lahir di Ossett, dan merupakan hasil didikan akademi di Wakefield. Ia mengumpulkan “just short of 200 appearances” untuk Trinity dalam dua periode, dan kariernya dipastikan berakhir setelah final Sabtu usai.
Ia menjalani fase krusial ini setelah cedera bisep, namun ketekunan serta kepemimpinan Pitts disebut berperan dalam menjaga semangat skuat. Powell menuturkan momen komunikasi setelah semifinal melawan Wigan: “After the Wigan game I just went into the changing rooms and said to him ‘you know you get to play your final game at Old Trafford’. It’s what dreams are made of,”
Powell melanjutkan dengan menekankan makna kolektif untuk seluruh tim: “While there’s a few players leaving us for different reasons, for Pittsy retiring after his final game in rugby league – what better way for us all to do something special for him as a person?”
Ia juga menilai Pitts sebagai sosok yang sangat dihargai di ruang latihan: “He’s been a phenomenal player, a warrior, and I know all the boys love him. He gets a fair bit of stick for how old he is but that comes to us all so I won’t worry about that too much.”
Berita Terkait
Warrington menanti kesempatan kelima namun tetap belum menembus garis akhir
Dari sisi Warrington, perjalanan ke final kali ini memastikan mereka kembali mendekat pada momen puncak. Tim ini mencapai Grand Final setelah menyingkirkan Leeds, dan mereka memulai laga dengan catatan yang menambah beban sejarah.
Warrington terakhir kali menjuarai liga sudah 71 tahun lalu, sementara mereka juga belum menjejak Old Trafford dalam delapan tahun terakhir. Dalam era Super League, tim berjuluk The Wire sudah melaju ke lima Grand Final, tetapi mereka belum juga mampu menuliskan nama mereka di trofi tersebut.
Ben Currie menggambarkan betapa isu penantian gelar itu menjadi bagian dari realitas harian tim, termasuk dari suara yang mereka dengar dari kubu lawan. Ia mengatakan kepada BBC Radio Merseyside: “It’s hard not to know about it when you’ve got the opposite fans singing about it every week,”
Currie menambahkan bahwa suasana itu memang memiliki sisi permainan, namun tetap mengarah pada target yang jelas. Ia menjelaskan, “Obviously it’s tongue in cheek and it’s fun for the fans to do that. We’d love to give our fans the opportunity to sing back to them but there’s no added pressure from anyone from above in the club, from the coaching staff or from the senior players.”
Menurutnya, motivasi tetap sama bagi semua pihak: “Everyone wants it just the same as everyone does at Wakefield.”
Ewan Irwin: peluang menjadi pencetak rekor termuda
Nama yang paling disorot dalam skuad Warrington adalah Ewan Irwin, pemain berusia 18 tahun yang dinilai memiliki potensi memberi dampak besar. Sejak debutnya pada 2025, Irwin tampil dalam 21 penampilan musim ini, mencetak enam try, serta menendang 82 goals.
Performa itu membuat ia mendapat perhatian khusus, termasuk peluang untuk menjadi pemain termuda yang pernah mencetak gol di Grand Final. Matty Ashton, yang pernah menjadi prospek muda bagi klub, menilai Irwin sebagai sosok yang berkembang dengan cara yang solid.
Ashton mengungkapkan pandangannya kepada BBC Radio Merseyside: “You see him day in and day out, his work ethic, he’s probably the best I’ve seen in a young lad [and] obviously I’ve been at the club for seven years,”
Ia menambahkan tentang sikap Irwin dalam belajar: “The way he’s willing to learn when he speaks to leaders like George [Williams], it’s just great to see.” Ashton juga menilai ada “something” yang terlihat pada diri Irwin: “He’s just got that something, you can see it.”
Namun, ia tetap menjaga tekanan agar tidak berlebihan: “Obviously I don’t want to put too much pressure as he’s my team-mate, but he’ll go all the way and he’s got a big chance to do something like that.”
Berita tim: perubahan Warrington dan skuad Wakefield
Untuk susunan tim, Warrington membuat satu perubahan saja. Jordy Crowther masuk ke dalam skuad, sementara Max Wood tidak bermain di lineup kali ini.
Wakefield tidak melakukan perubahan setelah kemenangan dramatis mereka atas Wigan Warriors di semifinal. Josh Rourke kembali masuk dalam skuad sementara, seiring pemulihannya dari cedera lutut yang ia alami pada Agustus.
Susunan Warrington (disebut dari sumber) adalah: Taylor-Wray, Thewlis, King, Hopoate, Ashton, Williams, Yates, Walker, Harrison, Stone, Currie, Powell, Byrne, Crowther, Irwin, Hayes, Bentley, Philbin, Lindop, Smith, Tanginoa.
Sementara susunan Wakefield (disebut dari sumber) adalah: Jowitt, Scott, Hall, Johnstone, Trueman, Lino, McMeeken, Smoothy, Rodwell, Tevaga, Pitts, Hamlin-Uele, Faatili, Smith, Vagana, Walmsley, Sinfield, Myers, Rourke, Lolesio, Lipowicz.
Dengan komposisi yang sudah ditetapkan, final ini pada akhirnya akan memperlihatkan apakah Wakefield mampu mengubah momentum semifinal menjadi mahkota, atau Warrington mampu memecahkan kutukan sejarah dan akhirnya menuntaskan penantian panjang di Old Trafford.












