jurnalistik.co.id – Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, terus melakukan penanganan dan pemulihan pascagempa bumi yang melanda sejumlah wilayah. Berdasarkan pembaruan data hingga Kamis (20/8/2026) pagi, jumlah korban jiwa tercatat 28 orang.
Dari total tersebut, 24 orang meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan bangunan. Sementara itu, korban lainnya meninggal setelah menjalani perawatan selama beberapa hari, sebagaimana disampaikan pemerintah daerah dalam pembaruan yang sama.
Selain korban meninggal, dampak gempa juga terlihat dari kondisi kesehatan para penyintas. Sebanyak 32 orang dilaporkan mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan, sedangkan 104 orang lainnya mengalami luka ringan serta telah mendapatkan pelayanan medis.
Pemkab Manggarai menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal dunia. Di saat bersamaan, pemerintah menegaskan bahwa upaya penanganan terhadap korban luka dan masyarakat terdampak akan terus dilakukan secara berkelanjutan.
Fokus pemulihan layanan kesehatan
Kabupaten Manggarai juga menghadapi persoalan pada fasilitas pelayanan kesehatan akibat guncangan. Bupati Manggarai, Heribertus Nabit, menyampaikan bahwa sebanyak 25 puskesmas dilaporkan terdampak.
Untuk menjaga keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan, pelayanan dan perawatan sementara dilakukan di halaman masing-masing puskesmas. Langkah ini ditempuh agar akses layanan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keamanan di lingkungan fasilitas yang terkena dampak.
Upaya pelayanan medis yang lebih luas kemudian diperkuat dengan penyiapan rumah sakit lapangan. Rumah Sakit Lapangan didirikan di Stadion Golodukal berdasarkan keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Menteri Kesehatan.
Berita Terkait
Menurut informasi yang disampaikan, rumah sakit lapangan mulai beroperasi pada Rabu (19/8/2026) sore. Pada hari pertama operasional tersebut, rumah sakit lapangan telah melaksanakan satu tindakan operasi yang dilaporkan berjalan lancar.
Pemerintah menargetkan pemindahan peralatan dan pasien dari RSUD Ruteng menuju Rumah Sakit Lapangan dapat diselesaikan pada Jumat (21/8/2026). Penjadwalan pemindahan ini menunjukkan adanya upaya menata ulang konsentrasi layanan, sekaligus menyesuaikan kebutuhan penanganan pascagempa di wilayah terdampak.
Waspadai informasi prediksi gempa susulan
Selain aspek medis, pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar. Pemkab Manggarai mengimbau warga agar tidak mudah percaya terhadap kabar mengenai prediksi gempa susulan yang tengah beredar di media sosial maupun melalui pesan berantai.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi agar warga tetap mengacu pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, masyarakat dapat lebih fokus pada kegiatan pemulihan dan penanganan kebutuhan mendesak pascagempa.
Hingga Kamis (20/8/2026) pagi, pembaruan korban menunjukkan bahwa dampak gempa tidak berhenti pada kejadian awal. Sebaran korban meninggal—yakni 24 orang akibat tertimpa reruntuhan dan sisanya setelah menjalani perawatan—menegaskan perlunya penanganan medis dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, keberadaan 25 puskesmas terdampak membuat pemindahan layanan secara sementara menjadi bagian dari strategi penanggulangan. Dengan pengaturan perawatan di halaman puskesmas, layanan kesehatan tetap dapat diupayakan sambil menunggu proses pemulihan fasilitas.
Sementara itu, operasional rumah sakit lapangan yang telah berjalan sejak Rabu (19/8/2026) sore memperlihatkan adanya percepatan kapasitas layanan. Target pemindahan peralatan dan pasien dari RSUD Ruteng pada Jumat (21/8/2026) menjadi penanda tahapan berikutnya dalam konsolidasi penanganan korban.
Dengan rangkaian langkah tersebut, pemerintah Kabupaten Manggarai berupaya memastikan penanganan korban luka dan pemulihan layanan kesehatan berlangsung secara tertib. Pada saat yang sama, pengingat untuk tidak mempercayai prediksi gempa susulan yang beredar di kanal informal diharapkan menjaga ketenangan warga dan mencegah tindakan yang tidak perlu.












