jurnalistik.co.id – Kenaikan biaya produksi terus menjadi perhatian operator bus dalam menjaga kelangsungan usaha. PT Tentrem Sejahtera menanggapi tantangan itu dengan pendekatan yang berfokus pada peningkatan kapasitas penumpang pada bus berukuran 12 meter.
Managing Director PT Tentrem Sejahtera, Yohan Wahyudi, mengatakan bahwa penyesuaian kapasitas dapat menjadi opsi bagi perusahaan otobus untuk memperluas potensi pendapatan tanpa harus langsung menaikkan harga tiket. Menurutnya, perubahan biaya yang terjadi perlu dibarengi nilai tambah bagi konsumen.
“Betul. Jadi biaya produksi naik, kalau saya tiba-tiba cuma bisa menaikkan harga jual, tanpa value tambahan itu yang jadi masalah,” kata Yohan.
Dari Kapten 2 ke Kapten 3 dan Kapten 4
Yohan menjelaskan, Tentrem Sejahtera kini menawarkan pilihan konfigurasi bus dengan tingkat kapasitas yang lebih fleksibel. Sebelumnya, konfigurasi yang tersedia adalah kapten 2. Kini, perusahaan menambahkan pilihan kapten 3 dan kapten 4.
Ia menyampaikan bahwa penambahan variasi konfigurasi dilakukan untuk memaksimalkan ruang yang ada pada bus. “Makanya kenapa kok ada Kapten 2, terus sekarang ada Kapten 3, Kapten 4, itu untuk menambah profit dengan memaksimalkan space yang ada,” ujarnya.
Dalam konfigurasi sebelumnya, bus dapat mengangkut sekitar 28 penumpang ditambah dua kursi di bagian atas untuk area pengemudi. Dengan opsi konfigurasi terbaru, kapasitas itu bisa ditingkatkan menjadi 28 penumpang ditambah tiga atau empat penumpang, bergantung pilihan konsumen.
“Kalau dulunya mungkin 28 plus 2 yang diatasnya driver. Sekarang 28 plus 3 atau plus 4 bergantung dari customer yang mau milih yang mana,” ucap Yohan.
Berita Terkait
Menurut Yohan, tambahan satu hingga dua penumpang memang terlihat kecil jika dibandingkan total kapasitas bus. Meski demikian, ia menilai dampaknya akan terasa ketika dihitung dalam skala operasional selama periode berjalan.
Kontribusi margin sekitar 3 persen
Yohan menuturkan cara pandang yang digunakan perusahaan untuk menilai efek peningkatan kapasitas. “Plus 1 atau plus 2 penumpang ini, kalau kita hitung 1 dibandingkan 30, berapa persen? Berarti kan berapa? 3 persen lebih ya? Nah, itu kan berarti profitnya bertambah sekitar 3 persenan,” kata Yohan.
Ia menyebut tambahan margin tersebut diproyeksikan membantu pengusaha PO menghadapi kenaikan berbagai pos biaya. Mulai dari harga suku cadang hingga biaya operasional yang ikut bergerak naik seiring waktu.
“Dan 3 persen ini profitnya bertambah, otomatis kan untuk menahan lajunya kenaikan spare part, kenaikan biaya operasional dan lain-lain, si pengusaha PO ini ada spare 3 persen yang kita tawarkan dengan profitnya kita,” ujar Yohan.
Lebih lanjut, Yohan menegaskan bahwa strategi yang ditawarkan Tentrem berupaya menjaga kemampuan operator untuk tetap beroperasi secara lebih efisien. Fokusnya adalah memberi ruang margin tambahan tanpa harus menekan penumpang melalui penyesuaian harga tiket secara tergesa-gesa.
Ia juga menyoroti bahwa kapasitas tambahan tersebut dapat diterapkan pada bus dengan panjang yang sama, yaitu 12 meter. “Yang di mana, kalau saya boleh agak-agak mempromosikan saya dan agak sombong ya, tempat lain belum ada. Tempat lain mentok di 2. Bisa sampai ke 3, bisa ke 4, untuk sama-sama 12 meter,” tutur Yohan.
Dengan demikian, optimalisasi konfigurasi menjadi salah satu langkah yang dilakukan operator bus untuk menjaga profitabilitas di tengah meningkatnya biaya operasional. Strategi ini menempatkan peningkatan kapasitas penumpang sebagai nilai tambah, sehingga potensi keuntungan dapat diperkuat tanpa semata-mata membebankan kenaikan biaya pada tarif.








