jurnalistik.co.id – Industri komponen otomotif di Indonesia mulai mengarahkan persiapan untuk peningkatan lokalisasi kendaraan listrik. Langkah itu didorong oleh kebijakan pemerintah yang menekankan penggunaan komponen dalam negeri.
Pertimbangan tersebut menguat seiring rencana regulasi yang disebut akan berlaku pada tahun depan. Dalam penjelasannya, Presiden Direktur PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) Irianto Santoso menyatakan adanya syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) bagi komponen lokal.
Irianto menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Cikarang pada Selasa (15/9/2026). Ia menekankan bahwa target yang dimaksud berada pada angka 60% untuk komponen lokal.
“Tahun depan kebijakan pemerintah kita 60% untuk komponen lokal,” kata Irianto.
Menurut Irianto, kondisi itu dipandang membuka ruang bagi industri komponen untuk memperbesar perannya dalam rantai pasok kendaraan listrik. Dengan besaran TKDN yang disyaratkan, perusahaan perlu menyesuaikan tahapan produksi dan kesiapan pemasok sejak awal.
Persoalan lokalisasi, lanjutnya, tidak hanya berhenti pada komponen utama. Tantangan juga muncul dalam ekosistem pendukung yang selama ini kerap tidak menjadi pusat perhatian.
Salah satu titik yang disebut menuntut perhatian adalah komponen baterai. Selama ini, fokus industri cenderung tertuju pada battery cell dan battery pack, sementara elemen pendukung di dalam ekosistem baterai justru berjalan pada level yang lebih pinggir.
Dalam konteks itulah, DRMA disebut tengah mengembangkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Upaya yang dibicarakan diarahkan agar lokalisasi tidak terbatas pada bagian-bagian yang paling sering disebut, tetapi juga mencakup komponen pendukung.
Berita Terkait
“Ketika orang bicara baterai, mereka berpikir battery pack. Tapi kita bersama DRMA akan membuat battery case,” ucap Chief Strategy Officer Minth Group William Chin dalam kesempatan yang sama.
William menyoroti cara pandang yang selama ini terbentuk di industri. Ia menilai, ketika pembahasan baterai muncul, pembicaraan umumnya langsung merujuk pada bagian yang terlihat dan disebut paling dominan, seperti battery pack, sehingga komponen lain bisa tertinggal dari pembicaraan.
Dari sudut pandang tersebut, battery case diposisikan sebagai bagian yang tetap memiliki peran penting. Artinya, kebutuhan lokalisasi tidak cukup hanya ditangani melalui penguatan pada segmen yang menjadi sorotan utama, melainkan memerlukan kelengkapan pada komponen pendukung.
Dengan adanya rencana TKDN 60% untuk komponen lokal pada tahun depan, industri komponen dinilai harus mempersiapkan diri lebih rapi. Kesiapan itu mencakup kemampuan menjawab kebutuhan pasar kendaraan listrik sekaligus memastikan suplai yang lebih sesuai terhadap arah kebijakan.
DRMA, lewat pernyataan Irianto Santoso, juga menggambarkan perubahan fokus yang sedang terjadi. Lokalisasi yang sebelumnya mungkin lebih terkonsentrasi pada area tertentu kini diarahkan agar cakupannya lebih luas, khususnya pada komponen yang berhubungan langsung dengan ekosistem baterai.
William Chin juga memperjelas posisi kerja sama yang dimaksud. Pernyataannya menegaskan bahwa kolaborasi yang disebut bukan hanya berada di level wacana, tetapi diarahkan pada pembuatan battery case sebagai bagian dari upaya menyusun rantai pasok yang lebih lokal.
Secara keseluruhan, rangkaian informasi yang disampaikan dalam kesempatan itu menunjukkan adanya agenda peningkatan lokalisasi yang dipercepat menjelang penerapan kebijakan TKDN tahun depan. Dengan target 60% untuk komponen lokal, industri komponen diproyeksikan bergerak menyesuaikan peran mereka di ekosistem kendaraan listrik.
Dalam pembahasan yang sama, perhatian pada baterai menegaskan bahwa pemenuhan lokalisasi tidak dapat dipisahkan dari kelengkapan komponen pendukung. Karena itu, selain cell dan pack, elemen seperti battery case disebut menjadi bagian penting yang perlu masuk dalam kerangka persiapan industri.
Melalui kombinasi arah kebijakan pemerintah dan pembahasan mengenai komponen baterai, upaya lokalisasi yang dibicarakan diharapkan dapat menjawab kebutuhan rantai pasok kendaraan listrik. Seluruh langkah persiapan itu diarahkan agar target TKDN 60% untuk komponen lokal dapat menjadi bagian dari strategi produksi yang lebih siap.












