Otomotif

Pengamat: Skema Sewa Baterai VinFast Solusi Beli EV Lebih Ringan

×

Pengamat: Skema Sewa Baterai VinFast Solusi Beli EV Lebih Ringan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pengamat: Beli EV Cukup Sewa Baterai, Skema VinFast Jadi Solusi

jurnalistik.co.id – Tren peralihan dari kepemilikan kendaraan menuju mobilitas sebagai layanan (mobility as a service) mulai terlihat dalam cara konsumen memandang penggunaan mobil listrik. Dalam konteks itu, pengamat otomotif menilai skema sewa baterai VinFast berpotensi mengurangi beban yang selama ini dianggap paling berisiko oleh pembeli.

Menurut pengamat otomotif Yannes Martinus, arah preferensi pasar kini lebih menonjol pada generasi yang menilai pengalaman berkendara sebagai bagian dari nilai utama, bukan sekadar status memiliki unit kendaraan secara permanen. Perubahan pola pikir ini disebutnya mulai dibahas luas selama gelaran GIIAS 2026 di Tangerang.

Yannes menjelaskan, konsumen muda cenderung bergerak lebih rasional saat memutuskan pembelian. Ia menilai, mereka tidak lagi terpaku pada loyalitas merek, melainkan menaruh perhatian pada kepastian layanan lanjutan agar biaya penggunaan harian tidak berubah menjadi pengeluaran tak terduga.

“Sekarang orang mulai melihat design as a service . Kalau bahasa lebay-nya, mencintai itu tidak harus memiliki. Selama pakai harus senang, enggak nyusahin . Kalau makin lama nyusahin , ganti saja,” ujar Yannes di GIIAS 2026 belum lama ini.

Dalam pandangannya, saat seseorang memilih mobil sebagai bagian dari aktivitas harian, faktor yang paling dirasakan bukan hanya performa ketika unit baru digunakan, tetapi juga bagaimana kendaraan tersebut tetap nyaman dipakai dalam jangka waktu yang lebih panjang. Jika biaya perawatan atau komponen tertentu ternyata lebih mahal dari perkiraan, proses membeli yang semula terasa menyenangkan bisa berubah menjadi sumber kekhawatiran.

Yannes menegaskan bahwa salah satu titik kecemasan terbesar ketika konsumen beralih ke mobil listrik adalah harga baterai. Ia menyebut komponen tersebut bisa mencapai 40 persen dari total nilai kendaraan baru, sehingga persoalan biaya penggantian atau perawatan terkait baterai menjadi perhatian yang dominan.

“Yang dicari itu peace of mind . Jangan sampai rasa senang waktu beli berlanjut kecewa karena ternyata perawatan mahal atau harga baterai yang tinggi,” kata Yannes.

Skema sewa baterai sebagai pengurang risiko awal

Melihat kebutuhan konsumen tersebut, Yannes menilai strategi battery subscription atau sewa baterai yang ditawarkan VinFast selaras dengan cara pasar memahami mobility as a service. Lewat skema ini, konsumen tidak perlu membeli baterai secara utuh pada tahap awal transaksi.

Dengan pendekatan tersebut, risiko penurunan kualitas baterai maupun kemungkinan biaya penggantian yang mahal tidak lagi dibebankan sepenuhnya kepada pemilik kendaraan. Yannes menyebut bahwa ketidakpastian yang terkait baterai dialihkan kepada pabrikan.

“Banyak ketidakpastian di mobil listrik. Nah, pabrikan ke depan tidak bisa hanya jual produk di level dealer, tapi harus ngejual sampai servis dan ekosistemnya hingga end of product ,” tuturnya.

Bagi Yannes, langkah itu juga menyentuh ekspektasi konsumen terhadap kelanjutan dukungan setelah kendaraan dibeli. Karena pembelian bukan hanya berhenti pada serah terima unit, pabrikan dinilai perlu menunjukkan kemampuan menjamin ekosistem pemakaian, termasuk layanan, perawatan, hingga pengelolaan risiko pada komponen penting.

Ia menilai pengalihan tanggung jawab baterai ke pabrikan dapat membantu pembeli merasakan kepastian yang lebih jelas, terutama pada fase awal kepemilikan. Dalam kondisi ketika harga baterai berpotensi menjadi porsi besar dari nilai kendaraan, kepastian mengenai biaya terkait komponen tersebut menjadi faktor yang menentukan keberanian konsumen untuk berpindah.

Model bisnis baru untuk mengubah cara pandang kepemilikan

Yannes melihat pengambilalihan risiko baterai sebagai model bisnis yang progresif dalam industri otomotif. Ia menyatakan strategi ini dianggap mampu meredam keraguan kelompok konsumen kelas menengah yang ingin beralih ke mobil listrik tanpa harus mengkhawatirkan nilai aset di masa depan.

“Konsumen mencari efisiensi biaya operasional dan menghilangkan ketidakpastian. Jika manufaktur berani menjamin ekosistem dan melindungi nilai pakainya, itu akan mengubah cara orang memandang kepemilikan mobil listrik,” pungkas Yannes.

Kesimpulannya, gagasan mobility as a service dipandang tidak berhenti pada istilah, tetapi diterjemahkan ke dalam skema yang memengaruhi keputusan pembelian. Ketika risiko terbesar pada baterai bisa dikelola melalui battery subscription, pembeli diharapkan lebih fokus pada kenyamanan penggunaan, sementara pabrikan menanggung ketidakpastian terkait komponen tersebut.