Otomotif

Penjelasan Bambang Widjanarko soal Pintu Belakang Truk Kontainer yang Sering Terlihat Terbuka

×

Penjelasan Bambang Widjanarko soal Pintu Belakang Truk Kontainer yang Sering Terlihat Terbuka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Alasan Pintu Belakang Truk Kontainer Suka Terbuka

jurnalistik.co.id – Bambang Widjanarko, Ketua Aptirindo Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, mengingatkan bahwa pintu belakang kargo truk kontainer yang terlihat terbuka tidak otomatis berarti sopir sengaja membiarkannya. Ia menilai pintu semacam itu tetap perlu diperiksa, terutama setelah kendaraan berhenti di suatu lokasi.

Dalam praktiknya, pintu kargo pada truk kontainer yang kosong kadang tampak tidak sepenuhnya tertutup. Menurut Bambang, kondisi tersebut sering memunculkan dugaan orang-orang di sekitar, padahal penyebabnya bisa beragam.

Ia menyampaikan penjelasan itu saat menanggapi masalah yang juga pernah dikaitkan dengan insiden lalu lintas, termasuk peristiwa truk kontainer yang menabrak separator jalur bus Transjakarta di Jalan Letjen S. Parman, Jakarta Barat pada Jumat (6/2/2026) pagi. Bambang menegaskan bahwa asumsi “disengaja” pada umumnya tidak tepat.

“Mestinya ditutup. Kalau ada yang buka itu biasanya ya bisa jadi bajing loncat atau apa yang orang-orang yang naik itu,” ujar Bambang. Dari sudut pandangnya, pintu yang terbuka membuka kemungkinan orang memanfaatkan celah tersebut untuk naik ke bagian belakang kendaraan.

Ia menambahkan bahwa ada situasi ketika pintu bukan dibuka oleh sopir. “Bukan sengaja dibuka, tapi mungkin pernah dibuka orang, tadinya dikira ada muatannya gitu loh. Bukan (disengaja),” kata Bambang.

Karena itu, pengemudi perlu kembali mengecek keadaan pintu ruang kargo. Pemeriksaan dilakukan bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga agar sopir memahami kondisi di bagian belakang kendaraan setelah kendaraan berhenti.

Bambang juga menyoroti cara pandang yang kadang membuat sopir enggan melakukan pengecekan langsung. Menurutnya, ada kecenderungan sopir memilih melanjutkan perjalanan tanpa berhenti untuk memastikan kondisi di bagian belakang, sebagaimana ia ungkapkan: “Dan sopirnya kayaknya males berhenti di daerah itu, jadi jalan terus gitu,” ujar Bambang.

Ia menyatakan turun dari kabin justru menjadi salah satu faktor risiko yang harus dipertimbangkan. “Nggak ada, dan kayaknya sopir males berhenti terus turun dari kabin, soalnya paling bahaya tuh sopir turun dari kabin,” kata dia.

Dalam konteks itu, Bambang menilai pengemudi perlu menilai situasi sekitar sebelum mengambil keputusan untuk turun memeriksa kondisi kendaraan. Ia juga menyinggung bahwa di jalan terdapat praktik pemaksaan atau pungutan yang berpotensi memengaruhi perilaku sopir saat berhenti.

Bambang mengisyaratkan bahwa sopir biasanya berusaha agar tidak ada orang yang naik hingga masuk ke kabin. “Jangan sampai naik sampe ke kabin gitu, jadi sebisa mungkin kalau masih di bawah kan ditahan. Nego misalnya, minta Rp 50.000, janganlah Rp 5.000 aja, terus dia ngancam-ngancam apa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa skenario tawar-menawar itu bertujuan mencegah pihak lain naik sampai ke area kabin. “Nanti nego sama sopir, tawar-menawar gitu, nanti mendingan sopir, tapi dia nggak sampe naik ke kabin. Kalau udah naik ke kabin, apa aja yang ada di dasbor dia hilang,” kata Bambang.

Dengan demikian, pintu belakang yang terlihat terbuka perlu diperlakukan sebagai sinyal untuk evaluasi, bukan sebagai kesimpulan bahwa sopir pasti bersalah. Pemeriksaan yang konsisten dan penilaian terhadap risiko di lokasi berhenti menjadi bagian penting agar keselamatan pengemudi tetap menjadi prioritas.

Menurut Bambang, setelah kendaraan berhenti, langkah paling masuk akal adalah memastikan seluruh bagian pintu ruang kargo berada pada posisi tertutup dan terkunci dengan benar. Dengan begitu, kemungkinan orang memanfaatkan celah saat sopir berada di luar kabin dapat ditekan, sekaligus membantu mengevaluasi apakah ada gangguan di area belakang.

Ia juga memandang bahwa keputusan untuk turun memeriksa harus disesuaikan dengan kondisi di sekitar lokasi. Jika situasi memungkinkan adanya upaya mendekati atau memaksa, maka sopir perlu mengantisipasi agar tidak sampai pihak lain masuk lebih jauh. Intinya, negosiasi atau tawar-menawar yang disebutnya dimaksudkan supaya akses tidak berlanjut sampai area kabin, sebab pada tahap itu risiko yang muncul menjadi lebih besar.