Olahraga

Panduan Adu Penalti di Perempat Final Piala Dunia 2026

×

Panduan Adu Penalti di Perempat Final Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026 quarter-finals: A guide to penalty shootouts

jurnalistik.co.id – Memasuki babak perempat final Piala Dunia 2026, peluang laga bertahan hingga adu penalti ikut meningkat. Setelah sejumlah shootout berkesan di fase 32 besar dan 16 besar, data historis kembali menjadi kompas untuk membaca pola, strategi, dan faktor yang sering menentukan.

BBC Sport dan Opta sebelumnya menelusuri setiap eksekusi penalti dalam shootout Piala Dunia. Kali ini, fokusnya diperbarui: apa yang bisa dipetik dari total 360 penalti yang dieksekusi dalam 39 adu tembak sejak 1982, terutama menjelang rangkaian laga dengan intensitas tinggi.

Babak gugur memberi gambaran nyata. Sejak 1994, Piala Dunia sudah melewati beberapa adu penalti sudden-death (kematian mendadak), termasuk dua laga yang menyajikan rekor bersama lima penalti gagal. Menariknya, ada juga catatan khusus tentang penjaga gawang pengganti yang baru masuk tepat untuk kebutuhan shootout.

Di perempat final, pembacaan pola tak hanya soal teknik eksekusi, tetapi juga performa tim di momen paling menegangkan. Statistik menunjukkan bagaimana beberapa negara justru berulang kali tersandung, sementara yang lain konsisten mengamankan hasil.

Rekor tim: ada yang dominan, ada yang berulang tersandung

Belanda, setelah kalah dari Maroko di 32 besar, menyusul Spanyol dengan rekor empat kali kalah dalam shootout. Kedua tim sama-sama hanya memenangkan satu dari lima adu tembak, dan totalnya gagal mengeksekusi sembilan penalti di seluruh rangkaian yang mereka jalani.

Inggris juga termasuk yang mengalami kesulitan, dengan delapan penalti meleset dan total tiga kekalahan dalam shootout. Dari sisi yang paling sukses, Argentina menonjol jauh: mereka menang enam dari tujuh shootout, termasuk saat final Piala Dunia 2022 di Qatar.

Kroasia lebih solid lagi di level efisiensi: mereka menang empat dari empat shootout. Jerman, sebaliknya, mencatat sisi pahit ketika kalah dalam adu penalti pertama mereka di musim turnamen ini, yakni melawan Paraguay; hasil itu membuat rekor mereka menjadi empat menang dari lima shootout.

Di bagian lain, Kolombia yang kalah dari Swiss di 16 besar juga tercatat punya pola serupa dengan sejumlah tim lain. Jepang, Meksiko, dan Rumania juga sama-sama kalah dua dari dua shootout yang mereka jalani.

Namun ada momen yang terasa seperti “kontras” dalam statistik. Dengan kemenangan atas Australia di 32 besar, Mesir bergabung dengan Belgia dan Korea Selatan sebagai satu-satunya tim yang berhasil mencetak semua penalti mereka dalam shootout. Sementara itu, rekor paling buruk ada pada Meksiko, dengan tingkat sukses 29% dari titik penalti: dua gol dari tujuh eksekusi.

Swiss bahkan pernah mengalami rentetan keras: sebelum mengalahkan Kolombia, mereka sempat mencatat 0% (tiga kali gagal dari tiga). Setelah kemenangan berikutnya, persentase itu berubah menjadi 50%.

“Raja” eksekusi: nama besar dan tren keberhasilan

Untuk pemain, ada sekelompok sosok yang menorehkan pencapaian sangat khas. Hanya dua pemain yang mampu mencetak penalti pada tiga shootout Piala Dunia berbeda: Lionel Messi dari Argentina dan Luka Modric dari Kroasia, dengan catatan keberhasilan 100% untuk masing-masing.

Salah satu penalti Messi datang di final 2022 melawan Prancis. Meski demikian, performa Messi saat bertanding di Piala Dunia dari titik penalti tidak selalu sama: ia hanya mencetak empat dari delapan, termasuk dua yang gagal di turnamen 2026.

Sementara itu, 26 pemain mencatat dua gol dari dua eksekusi dalam shootout. Ada pula catatan Roberto Baggio yang berhasil mencetak dua dari tiga penalti, tetapi penalti yang gagal justru terjadi pada eksekusi krusial di final 1994.

Penjaga gawang juga punya kisah sendiri. Ada “kesan geografis” yang muncul dalam statistik: Modric, serta dua dari empat kiper yang paling sering menyelamatkan penalti dalam sejarah Piala Dunia, berasal dari Zadar—kota terbesar kelima Kroasia. Danijel Subasic (semua pada 2018) serta Dominik Livakovic (semua pada 2022) masing-masing mampu menggagalkan empat penalti, dari 10 dan delapan yang mereka hadapi.

Harald Schumacher dari Jerman Barat (menghadapi sembilan) dan Sergio Goycochea dari Argentina (menghadapi 10) juga sama-sama tercatat menyelamatkan empat penalti. Subasic, Livakovic, dan Portugal—Ricardo—menjadi satu-satunya kiper yang mampu menyelamatkan tiga penalti dalam satu shootout. Ricardo memiliki persentase penyelamatan tertinggi: 75%, dari empat penalti yang ia hadapi.

Mengarah ke sisi atau tengah: manakah yang lebih sering masuk?

Dari sisi teknik, memilih arah tendangan sering dikaitkan dengan peluang yang lebih baik. Data menunjukkan pemain yang menentukan bola ke satu sisi gawang cenderung lebih sering mencetak gol dibanding yang menembak ke tengah.

Untuk tendangan ke sisi kanan, 73% sukses. Saat mengarah ke kiri, keberhasilan tercatat 71%. Sebaliknya, eksekusi yang ditembak ke tengah hanya berhasil 58%.

Menariknya, penyelamatan penalti ke tengah sebenarnya tidak jauh lebih tinggi: peluang penalti terselamatkan di tengah 18%, dibanding 22% pada eksekusi ke sisi. Namun, perbedaan terbesar tampak pada hasil yang meleset dari target: 24% penalti ke tengah gagal mengenai sasaran (termasuk membentur mistar), sementara hanya 7% tembakan ke sisi yang berakhir meleset.

Urutan eksekusi: siapa yang memulai biasanya menang?

Urutan tendangan juga menjadi pertanyaan yang sering mengemuka. Semua empat tim yang lebih dulu mengeksekusi di shootout pada 2026 justru kalah. Namun, hingga tahun ini belum ada pola yang sangat konsisten: dari 35 tim yang mengambil penalti pertama, 17 di antaranya (49%) menang.

Tingkat keberhasilan tidak terlalu berbeda pada putaran pertama hingga ketiga. Untuk tiap tim, penalti putaran pertama sukses 72%, putaran kedua 72%, dan putaran ketiga 74%. Putaran keempat turun menjadi 60%, lalu meningkat menjadi 67% untuk putaran kelima.

Sudden-death hanya terjadi pada tiga shootout, termasuk Paraguay dan Jerman pada musim ini. Pada momen itu, tingkat sukses empat pemain yang mengambil penalti keenam tercatat 50%. Tidak ada shootout musim ini yang melewati enam penalti per tim.

Bagi eksekutor yang tampaknya paling rentan (di luar sudden-death), sorotan jatuh pada pemain yang mengambil tendangan kedelapan secara keseluruhan, yaitu penendang kedua di putaran keempat. Ia hanya mencetak 58% dari eksekusinya. Faktor tekanan tampaknya berperan, karena pola serupa juga terlihat pada shootout Kejuaraan Eropa.

Di sisi lain, pemain yang mengambil penalti keempat dan kelima secara keseluruhan justru punya tingkat sukses terbaik: 77%.

Peran di lapangan: penyerang lebih sering membayar mahal

Seperti yang mungkin diharapkan, penyerang memiliki tingkat keberhasilan tertinggi dalam shootout Piala Dunia: 73% dari 112 percobaan. Gelandang mencetak 69% dari 156, sementara bek mencatat 62% dari 92 eksekusi.

Catatan kaki lain datang dari preferensi kaki. Pemain bertendangan kaki kiri tercatat sedikit lebih unggul dibanding pemain kaki kanan (71% berbanding 68%), meskipun sebelum turnamen ini tren sempat berlawanan.

Apakah pemain pengganti untuk shootout benar-benar membantu?

Menilai siapa yang hanya masuk semata untuk kebutuhan shootout memang tidak mudah. Meski begitu, jika pemain yang merupakan pengganti untuk lima menit terakhir masa tambahan waktu dikeluarkan, jumlahnya tinggal tujuh orang—dan dari jumlah tersebut, hanya tiga yang mencetak gol.

Musim ini ada dua eksekutor yang masuk pada masa injury time akhir extra time, dan tidak sempat menyentuh bola sebelum peluit akhir berbunyi. Fabian Balbuena mengalami penalti yang diselamatkan Manuel Neuer, meski Paraguay tetap menang dalam shootout melawan Jerman. Mahmoud Saber mencetak penalti pertama Mesir saat menang atas Australia di 32 besar, melawan kiper yang juga belum menyentuh bola.

Paulo Dybala masuk setelah melewati 120 menit pada akhir final 2022 dan mencetak gol dalam shootout Argentina melawan Prancis. Pada laga Maroko melawan Spanyol di 16 besar tahun itu, kedua tim melakukan pergantian di dua menit terakhir; Badr Benoun dan Pablo Sarabia keduanya gagal.

Ada pula contoh dari sejarah panjang. Jamie Carragher masuk dengan sisa dua menit kala Inggris bertemu Portugal pada perempat final 2006, dan tendangannya diselamatkan Ricardo—meski sempat sempat masuk sebelum akhirnya harus mengulang karena peluit tidak terdengar saat eksekusi pertama.

Pemain pertama yang masuk dalam lima menit terakhir masa tambahan waktu dan langsung mencetak penalti dalam shootout tercatat Pierre Littbarski untuk Jerman Barat. Ia mencetak gol dalam kemenangan perempat final atas Meksiko pada 1986.

Peran penjaga gawang pengganti: keputusan yang bisa mengubah arah laga

Dua penjaga gawang pernah masuk pada fase akhir pertandingan dengan rencana khusus untuk menghadapi penalti. Tim Belanda menjadi contoh pada perempat final 2014 melawan Kosta Rika: Tim Krul masuk pada menit ke-121 dan berhasil menyelamatkan dua penalti. Namun, pada laga berikutnya saat Belanda kembali menuju adu penalti, Jasper Cillessen tidak menyelamatkan apa pun, dan Belanda tersingkir.

Pada musim ini, Mat Ryan menjalani giliran serupa bersama Australia. Tetapi skenarionya tidak berjalan: Mesir mencetak semua empat penalti mereka. Dalam kasus Krul, rencana tersebut diketahui lebih dulu, sedangkan Ryan diberi informasi hanya beberapa menit menjelang kepastian bahwa laga akan berakhir di shootout.

Dengan data historis yang memetakan arah tendangan, urutan eksekusi, hingga efek pergantian, perempat final Piala Dunia 2026 tampak siap menghadirkan bukan sekadar drama, melainkan pertandingan yang keputusan-keputusan kecilnya bisa menentukan nasib tim di satu malam.