Internasional

Retret kencan di Korea Selatan: apakah para biksu bisa membantu 24 lajang menemukan jodoh di kuil Buddha?

×

Retret kencan di Korea Selatan: apakah para biksu bisa membantu 24 lajang menemukan jodoh di kuil Buddha?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: South Korea dating retreat: Can monks help 24 singles find love at a Buddhist temple?

jurnalistik.co.id – Di Korea Selatan, mencari pasangan sering terasa makin sulit—terutama bagi yang sudah lelah mengandalkan cara-cara biasa untuk bertemu seseorang yang cocok. Pada Kamis (10 Juli 2026), sebuah retret kencan di kuil Buddha Donghwasa mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda: memadukan kegiatan berpasangan dengan suasana spiritual yang rapat dan terjadwal ketat.

Acara ini berlangsung 30 jam, berlangsung di sebuah kuil Buddha berusia delapan abad yang berada di lereng Gunung Palgongsan. Sebanyak 24 peserta lajang—dipilih dari lebih dari 1.600 pendaftar—mengikuti rangkaian aktivitas yang dibuat untuk “memecah es” dan memberi ruang percakapan tanpa jeda yang sering kali justru membuat kencan terasa canggung.

“Buddhists have always been the first to take action when our country is in trouble,” ujar Yoo Cheol-ju, yang menjadi tuan rumah. Ia mengaitkan keterlibatan para biksu dengan kondisi domestik yang dianggap mendesak, ketika retret ini diposisikan sebagai gerakan untuk mencari pasangan dan, pada akhirnya, membentuk keluarga.

Yoo menambahkan, “Low births are a national crisis. We had to do something about it,” sambil menegaskan bahwa masalah kelahiran rendah dipandang sebagai krisis nasional. Ia mengingat masa ketika Donghwasa Temple pernah menjadi tempat kamp bagi pasukan biksu yang mempertahankan Korea dari serangan Jepang pada abad ke-1500-an, meski kali ini ancamannya datang dari dalam negeri.

Gagasan itu sejalan dengan data yang menunjukkan tekanan demografi di Korea. Pada 2023, angka kelahiran rata-rata perempuan Korea sepanjang hidup—atau total fertility rate—turun ke rekor terendah, 0,72, jauh di bawah tingkat penggantian 2,1. Banyak pihak menilai biaya perumahan yang terus meningkat dan minimnya dukungan finansial untuk pengasuhan anak menjadi faktor yang berat, sementara sebagian lain melihat perubahan pilihan hidup: ada yang menomorsatukan karier, ada pula yang memilih tidak memiliki anak.

Namun, masalahnya tidak berdiri sendiri. Studi juga memperlihatkan generasi muda pergi lebih jarang dan berkencan lebih sedikit dibanding sebelumnya. Sebagian memilih tetap sendiri, sementara yang lain kesulitan bertemu pasangan, yang pada akhirnya menekan angka pernikahan.

Pemerintah sudah mulai menawarkan cuti orang tua yang lebih panjang, bonus uang untuk kelahiran, serta apartemen bersubsidi bagi pasangan baru menikah. Langkah itu kemudian ditambah oleh pemerintah daerah dan kelompok warga yang menyelenggarakan acara penjodohan yang didukung negara, termasuk retret di Donghwasa yang dikemas dengan nuansa yang—menurut peserta—lebih menarik dari yang mereka bayangkan.

Proses seleksi pun dibuat kompetitif. Kim Ah-kyung, yang memakai nama Buddhanya Sunhyeji, datang lebih awal. Ia mengatakan dirinya baru mulai merasa ruang perkenalan menurun setelah meninggalkan wilayah Seoul untuk bekerja di provinsi tenggara; ia juga menggambarkan rutinitasnya yang hanya bolak-balik kantor dan rumah, tanpa hobi yang membuka kesempatan bertemu orang baru. “There’s really no chance to meet men,” katanya, seraya menambahkan, “I only go between work and home. I don’t have a hobby.”

Sunhyeji juga menjelaskan bahwa, dari sudut pandang pergaulan, usia rekan kerja di kantor terasa lebih tua. Dalam keseharian Korea Selatan, orang umumnya bertemu pasangan lewat sekolah, tempat kerja, atau sogaeting—janji temu buta yang disiapkan teman atau keluarga. Tanpa itu, obrolan kecil di kota besar tidak semudah yang dibayangkan, sementara kebiasaan minum berkurang, dan aplikasi kencan tidak pernah benar-benar lepas landas.

Di sela kedatangan peserta, suasana terasa seperti “pemanasan” sebelum hari resmi dimulai. Saat para perempuan masuk kompleks, para kandidat pria langsung bergegas mendekat untuk membantu membawa koper menuju kamar. Kwon Seung-oh—yang dikenal sebagai Enyo—menjelaskan tekadnya untuk menemukan pasangan. Saat sesi perkenalan pertama, ia membagikan kue pastry Prancis yang ia buat sendiri, dan reaksinya mendapat sambutan dari peserta.

Setelah ronde perkenalan, tiba giliran kencan pertama. Sunhyeji dipasangkan dengan Minho, seorang pegawai negeri sipil berusia 32 tahun. Keduanya berjalan menyusuri jalur setapak di sekitar area kuil, mencoba menciptakan percakapan privat di tengah suasana alam yang tenang.

Di bagian berikutnya, para pria diminta menyerahkan mawar plastik kepada perempuan yang ingin mereka dekati untuk kencan makan siang. Minho memilih Ruby, desainer berusia 28 tahun, dan selama makan, interaksi berlangsung penuh senyum sopan serta tawa kecil yang menunjukkan kedekatan yang perlahan terbentuk. Pasangan kemudian saling bertukar cerita tentang hobi, pekerjaan, dan acara favorit, sampai terlihat bahwa mereka berdiri saling lebih dekat dibanding sebelumnya ketika bersama-sama membersihkan piring di dekat wastafel.

Namun, momen canggung mulai meningkat tepat ketika retret memasuki bagian yang paling menguras: acara penampilan bakat. Minho lebih dulu bergerak sambil mengingat langkah-langkah lagu viral 2PM berjudul “My House”, khususnya bagian refrein: “I wanna take you to my house.” Sunhyeji menampilkan gerakan dengan luwes pada lagu pop baru “Catch Catch”, sedangkan Enyo menyanyikan sebuah balada.

Ruby menunjukkan kemampuan berbahasa Spanyol melalui pengenalan yang sempat terhenti, tetapi justru membuat Minho terkesan. Ada pula peserta perempuan yang mengeluarkan seruling untuk memainkan lagu dari KPop Demon Hunters. Setelah rangkaian aktivitas yang tidak memberi jeda panjang, energi para lajang mulai menipis.

Istirahat hanya beberapa menit sebelum masuk ronde speed-dating yang berlangsung bersama teh hijau—namun tak ada yang benar-benar meminumnya. Setelah itu, giliran para perempuan memilih pasangan untuk kencan makan malam. Sunhyeji menyerahkan mawar untuk Minho, dan pilihan itu membuat Ruby tampak tidak senang. Enyo akhirnya tidak dipilih oleh siapa pun untuk kencan makan malam, sehingga ia makan bersama peserta lain yang juga belum mendapatkan pasangan.

Menjelang penutupan hari, seorang biksu senior memberi pidato yang mengingatkan kewajiban untuk prokreasi. Setelah itu, acara diakhiri dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Bagi para peserta lajang, pengamatan mereka lebih tertuju pada nasib romantis ketimbang kewajiban patriotik—terbukti dari cara mereka bergumam saat lirik dinyanyikan.

Retret ini dipandang sebagai bentuk pelayanan untuk negara. Otoritas Korea telah menyiapkan acara penjodohan sejak awal 2000-an—mulai dari kencan bertema kerajinan kayu hingga malam DJ di tepi sungai. Meski upaya itu dilakukan bersama program peningkatan kelahiran yang menelan biaya sekitar $250 miliar sejak 2006, tingkat kelahiran tetap terus turun selama bertahun-tahun.

Lalu, ada perubahan yang mulai terlihat pada 2024, ketika angka-angka mulai naik sedikit. Tahun ini, perempuan diperkirakan akan memiliki rata-rata 1,0 anak, naik dari 0,8 pada 2025. Pihak resmi belum menyatakan itu sebagai dampak langsung kebijakan tertentu, karena mereka berhati-hati dalam mengaitkannya—salah satunya dengan alasan pandemi yang menunda pernikahan dan kelahiran, serta masuknya generasi besar yang lahir pada masa baby boomers ke usia ketika mereka mulai memiliki anak. Di sisi lain, perubahan sikap juga mungkin berperan.

Survei pada bulan Maret menunjukkan orang yang belum menikah hampir 10% lebih menyukai gagasan menikah dan memiliki anak dibanding dua tahun sebelumnya. Di kuil, pandangan itu terasa “nyambung” dengan pengakuan beberapa perempuan yang mengatakan mereka melihat makin banyak unggahan media sosial dari teman yang akhirnya bertunangan, lalu membentuk keluarga.

Menjelang malam, energi sosial kelompok mulai habis, tetapi Yoo tetap mendorong bahwa waktu masih cukup untuk menemukan pasangan. Ia menegaskan jam tidur pukul 22:00 hanya saran, dan malam bisa “penuh kejutan.” Kejutan itu muncul ketika seorang petugas acara mengambil peluangnya dengan seorang peserta: ia mengaku memiliki pacar, tetapi menyatakan hubungan itu “doomed anyway.”

Ruby kemudian meninggalkan kuil bersama Minho untuk jalan-jalan. Sunhyeji terlihat lelah, sementara Enyo dan peserta lain yang tidak menemukan pasangan berjalan pulang satu per satu. Pada akhirnya, dari 24 peserta retret yang melepas hari demi hari tanpa banyak waktu mengendur, 16 orang keluar membawa kemungkinan hubungan baru.

Keesokan paginya, suasana berubah menjadi lebih ringan. Saat mengirim pilihan akhir lewat pesan teks kepada Yoo, para peserta saling bercanda dan mengobrol. Pada akhir retret, terbentuk delapan pasangan, termasuk dua kecocokan antara staf acara dan peserta.

Enyo memandangi hasil itu dengan kecewa karena ia belum menemukan pasangan. Namun ia mengatakan masih bersedia ikut lagi jika diberi kesempatan masuk: “if they let me in again”. Sunhyeji justru terlihat jauh lebih cerah; ia sempat begadang hingga pukul 03:00 untuk bergosip dengan perempuan lain di kamarnya dan berseru, “I made many friends!” Ia juga menyebut rencana brunch bersama sudah dibicarakan.

Bagi Sunhyeji, retret ini terasa seperti pertemuan tidur yang menyenangkan—membuatnya merasa seperti remaja lagi, tanpa takut untuk spontan dan mengambil pilihan berani. Para pria lajang pun sepakat: setelah ini, mereka akan tetap berkumpul, kali ini dengan meja yang lebih “hidup” karena akan ada alkohol dan daging.

Tidak semua peserta akhirnya meninggalkan kuil dengan pasangan. Tetapi sebagian besar membawa sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki: teman baru dan kepercayaan diri yang baru tumbuh.