jurnalistik.co.id – Serangan Rusia terhadap wilayah sipil di Zaporizhzhia, Ukraina, kian sering terjadi dan membuat suasana keamanan memburuk dalam hitungan minggu. Di kota yang berada dekat garis depan ini, warga melaporkan pola serangan berubah menjadi lebih beragam sekaligus sulit diprediksi.
Pada sekitar pukul lima pagi, Anna Holovchenko terbangun akibat glide bomb yang menghantam area pinggiran permukiman di kota tempat ia tinggal. Sekitar satu jam kemudian, drone kembali melintas sebagai gelombang serangan kedua, sementara pertahanan udara Ukraina berusaha menjatuhkan perangkat tersebut.
Holovchenko mengatakan ia akhirnya berhenti berharap bisa tidur lagi dan mulai bersiap untuk bekerja. “I realised I’m not getting any more sleep and started getting ready for work,” ujarnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah lokasi strategis dan fasilitas publik disebut terkena serangan, mulai dari bus, pompa bensin, sekolah, kantor pemerintahan, hingga rumah warga. Dalam cerita yang disampaikan kepada BBC, beberapa serangan juga berujung pada kerusakan infrastruktur penting, termasuk gangguan akses internet.
Regina Kharchenko, wali kota penjabat, menggambarkan situasi selama serangan yang berlangsung sangat intens. Ia mengatakan, “I did not go to the shelter, but when it got too loud I took cover in the toilet.”
Kharchenko menuturkan salah satu insiden melibatkan drone Shahed yang jatuh tidak jauh dari kantor Anna Holovchenko, disertai suara dentuman keras. Ia juga menyebut ada drone lain yang menabrak kabel hingga membuat sambungan internet lumpuh.
“That’s just another ordinary day in Zaporizhzhia,” kata Holovchenko. Bagi banyak warga, rutinitas harian seperti bekerja atau mengurus kebutuhan keluarga kini selalu berada di bawah bayang-bayang serangan.
Zaporizhzhia merupakan pusat administratif di wilayah Zaporizhzhia. Wilayah ini, sebagaimana klaim Rusia, termasuk salah satu dari lima wilayah di selatan dan timur Ukraina yang dianggap sebagai bagian wilayahnya.
Di kawasan itu pula terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang disebut sebagai yang terbesar di Eropa. Fasilitas tersebut berada hampir 50 kilometer arah barat daya dari kota, sebagian wilayahnya berada dalam pendudukan.
Setelah rentetan serangan yang terus berlanjut, dewan kota Zaporizhzhia mengadakan rapat di bawah tanah untuk membahas situasi yang semakin buruk. Menurut Kharchenko, musuh meningkatkan teror terhadap warga sipil, transportasi kota, bus milik pribadi, mobil, gedung-gedung tempat tinggal, hingga anak-anak.
Kharchenko menyatakan ada rencana menambah tempat perlindungan di berbagai titik di dalam kota. Ia juga menyebut pemasangan lebih banyak jaring anti-drone di lokasi yang paling ramai dan paling rentan.
Berita Terkait
Selain itu, katanya, film anti-“shatter” sedang diterapkan pada jendela di sekolah, rumah sakit, dan bangunan publik. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi dampak serpihan saat terjadi insiden ledakan.
Kharchenko juga mengaku merasa takut. “Personally, I’m very afraid,” katanya, lalu menambahkan bahwa pada malam tertentu ia harus tidur di lantai koridor rumah.
Ia tinggal di apartemen gedung tinggi pada lantai tujuh. Menurutnya, ia tidak memiliki bunker pribadi dengan penjagaan ketat, melainkan tetap menjalani kehidupan sehari-hari seperti orang kebanyakan.
Walau pasukan Ukraina berhasil mendorong pasukan Rusia beberapa kilometer menjauh dari kota, serangan ke Zaporizhzhia justru meningkat. Salah satu penyebab yang disebut adalah meningkatnya penggunaan drone FPV berukuran kecil namun mematikan, yang sebelumnya tidak mampu menjangkau kota.
Menurut Sam Cranny-Evans dari lembaga kajian Royal United Services Institute, ada beberapa kemungkinan yang membuat kondisi makin berubah. Ia menjelaskan pasukan Rusia memakai drone jarak lebih jauh sebagai “mothership” untuk mengantarkan beberapa drone kecil, lalu perangkat-perangkat itu menyebar dan menarget sasaran yang sebelumnya sulit dijangkau.
Cranny-Evans juga menyebut penggunaan teknologi jaringan nirkabel berbasis “mesh”. Teknologi ini disebut lebih sulit dijam dan memungkinkan sinyal radio diteruskan dari drone ke drone, sehingga cakupan serangan bisa diperluas.
Faktor lain yang mungkin, menurut Cranny-Evans, adalah “reduced Ukrainian electronic warfare [activity]”. Ia menilai hal itu bisa terjadi karena ada fokus yang lebih besar pada tempat lain, sementara unit-unit Rusia meningkatkan fokus mereka terhadap Zaporizhzhia.
Pihak berwenang setempat menyebut telah mengintersep 884 drone Rusia hanya dalam pekan terakhir bulan Juni. Sementara itu, meski pasukan Rusia terdorong mundur di bagian selatan Zaporizhzhia, mereka masih bergerak maju di tempat lain, namun dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dibanding sebelumnya.
Kemajuan Rusia belakangan juga terhambat oleh kampanye serangan Ukraina terhadap kilang minyak, penyimpanan bahan bakar, serta logistik di wilayah pendudukan. Serangan semacam ini ikut memengaruhi kemampuan dorongan pasukan.
Bagi sebagian besar warga, tidak ada rencana besar untuk segera mengungsi. Namun, ancaman ofensif Rusia tetap menjadi tekanan yang konstan setelah hampir empat setengah tahun perang.
Anna Holovchenko mengatakan ia memiliki kebutuhan sehari-hari berupa makanan dan bahan bakar, sehingga ia tidak melihat alasan kuat untuk pergi. “We’ve got food and fuel, why would I leave? Maybe I’m not the easily scared type,” katanya.
Ia mengakui pikiran untuk meninggalkan kota sempat muncul, tetapi ia tidak ingin Zaporizhzhia berakhir menjadi kota lain yang dihancurkan oleh Rusia. “We’re just trying to stay safe and we’re doing all we can to survive until our victory,” ujarnya.












