jurnalistik.co.id – Banyak orang tua berharap investasi pendidikan di sekolah yang mahal akan berbuah pada masa depan yang lebih cerah. Namun, gambaran tersebut tidak selalu sejalan dengan temuan ilmiah maupun riset yang bisa dijadikan pegangan.
Penulis mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan langsung antara biaya sekolah yang tinggi dengan kesuksesan anak kelak. Sebaliknya, faktor yang lebih menentukan justru berkaitan dengan karakter yang terbentuk serta pola asuh yang dijalankan di rumah.
Dalam buku Raising an Entrepreneur, Margot Machol Bisnow menyampaikan temuan setelah mewawancarai 70 orang tua dari anak-anak yang kemudian menjadi pengusaha dan pemimpin hebat. Dari hasil itu, kesuksesan anak dinilai lebih banyak dipengaruhi hal-hal yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga.
Memiliki sifat gigih (resilience)
Anak yang gigih cenderung tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan tantangan yang berat. Mereka biasanya terus mencari cara hingga menemukan solusi, atau memetik pelajaran dari kegagalan yang dialami.
Gambaran tersebut terlihat pada Jonathan Neman, pendiri jaringan restoran sehat Sweetgreen yang kini telah memiliki lebih dari 900 cabang. Ia pernah mengakui sering gagal ketika merintis berbagai bisnis di masa remaja, tetapi memilih untuk tidak berhenti.
Menurut Neman, “Kami terus berusaha. Saat gagal, kami mencoba lagi. Saya tidak lebih pintar dari orang lain, tapi saya gigih,”
Rasa penasaran yang tinggi (curiosity)
Kesuksesan juga sering berjalan seiring dorongan kuat untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar. Anak yang terus ingin tahu cenderung lebih berani mempelajari sesuatu lewat pengalaman langsung, bukan hanya larangan atau aturan semata.
Pola asuh yang memberi ruang untuk mencoba dinilai berperan besar dalam membentuk cara berpikir seperti seorang inovator. Dukungan semacam itu dapat membantu anak membangun keyakinan pada kemampuan diri untuk belajar dari situasi nyata.
Sifat itu tercermin pada Tania Yuki, pendiri sekaligus CEO Shareablee. Sejak kecil, ayahnya secara konsisten mendukung rasa penasaran Tania untuk menyentuh dan mencoba hal-hal baru, yang kelak ikut membentuk karakter mandiri saat merintis jalan hidupnya.
Minat dan hasrat yang kuat (passion)
Berita Terkait
Orang tua perlu belajar mempercayai pilihan anak ketika mereka menunjukkan ketertarikan yang mendalam pada suatu hal. Ketika minat tersebut didampingi secara konsisten, rasa percaya diri anak biasanya ikut tumbuh.
Robert Stephens menjadi contoh yang sering disebut dalam konteks ini. Ia gemar membongkar dan memperbaiki berbagai barang sejak kecil, dan dukungan penuh orang tuanya membantu ia mengembangkan kemampuan itu.
Hasilnya, Robert Stephens sukses mendirikan perusahaan reparasi bernilai jutaan dolar saat usianya masih 24 tahun. Pencapaian tersebut memperlihatkan bagaimana minat yang dipelihara sejak dini dapat berubah menjadi arah yang nyata.
Berani mengambil langkah pertama (initiative)
Kesuksesan tidak datang bagi mereka yang hanya menunggu. Karakter yang berani memulai sering menjadi titik balik ketika sebuah ide ingin diwujudkan menjadi sesuatu yang lebih besar.
Paige Mycoskie, pendiri merek fesyen Aviator Nation, menunjukkan keberanian untuk mengambil risiko sejak awal. Ia nekat memakai modal awal dari hadiah ulang tahun untuk membeli mesin jahit dan keluar dari pekerjaannya.
Keputusan berani itu kemudian membuahkan hasil. Perusahaannya berhasil meraih penjualan hingga ratusan juta dolar, menegaskan bahwa inisiatif dapat mempercepat perubahan dari rencana menjadi kenyataan.
Tidak takut gagal (fearlessness)
Ketakutan pada kegagalan kerap membuat seseorang ragu bergerak, padahal potensi yang dimiliki tidak akan berkembang jika setiap langkah selalu dihalangi oleh bayangan kehilangan. Banyak orang baru berani bertumbuh setelah belajar menerima risiko sebagai bagian dari proses.
Dhani Jones, pendiri Qey Capital, mengungkapkan bahwa inti keberhasilan anaknya ada pada keberanian mengambil risiko besar tanpa dihantui rasa takut akan kehilangan pencapaian masa lalu. Menurutnya, dukungan dalam bentuk kepercayaan diri menjadi fondasi yang membuat anak sanggup melangkah meski hasil belum tentu sesuai harapan.
Ia mengatakan, “Tetapi jika orang tua mereka menanamkan kepercayaan diri yang cukup pada mereka, mereka dapat menjalani hidup tanpa rasa takut,”
Uraian tersebut mempertegas pesan utama: sekolah memang bisa menjadi salah satu jalur, tetapi pembentukan karakter dan pola asuh di rumah berada pada posisi yang lebih menentukan dalam membentuk kesiapan anak menghadapi tantangan di masa depan.












