jurnalistik.co.id – Generasi Alpha tumbuh di tengah banjir konten kecantikan di media sosial. Saat produk baru cepat viral, mereka tidak otomatis menerima promosi sebagai kebenaran.
Di China, kebiasaan itu terlihat dari cara konsumen muda menguji ulang informasi sebelum membeli. Mereka membandingkan ulasan, menelusuri komentar, mengecek rincian kandungan, hingga memakai bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk memperjelas keputusan.
“Mereka tidak mencari, mereka menggulir,” ujar pendiri perusahaan konsultan China Chozan, Ashley Dudarenok. Pernyataan itu menggambarkan bahwa proses menemukan produk sering dimulai dari rutinitas melihat layar, bukan dari rencana belanja sejak awal.
Setelah menemukan sebuah produk, Gen Alpha tidak berhenti pada tampilan yang menarik atau rekomendasi kreator semata. Mereka menelusuri pengalaman orang lain, termasuk respons yang muncul di kolom komentar, sebelum akhirnya memutuskan apakah produk layak dibeli.
Menurut laporan Jing Daily, praktik ini membuat ulasan dari pengguna biasa memegang peran yang makin menentukan. Di mata konsumen muda, kredibilitas tidak semata datang dari narasi penjual, melainkan dari bukti yang terlihat dalam penggunaan nyata.
Ulasan pengguna menjadi “filter” utama
Pendiri firma konsultasi butik C Cultural, Lisa Zheng, mengatakan bahwa “ulasan pembeli” dan konten yang menampilkan kegagalan produk dinilai lebih kredibel dibandingkan promosi dengan tampilan yang terlalu sempurna. Gagasan ini menempatkan pengalaman nyata sebagai bahan pertimbangan yang sulit digantikan oleh konten idealisasi.
Dalam pola seperti itu, komentar dan ulasan berfungsi sebagai semacam penanda kualitas. Konsumen muda cenderung membedakan antara klaim yang terdengar meyakinkan dengan informasi yang sudah diuji oleh orang lain.
Perubahan ini juga relevan karena Gen Alpha kerap hidup berdampingan dengan konten pendek yang mudah memengaruhi selera. Produk kecantikan dapat muncul sebagai tren hanya lewat video singkat, konten kreator, atau unggahan pengguna lain, tetapi daya tarik visual tidak otomatis cukup untuk memenangi keputusan pembelian.
Meski belum tentu memiliki daya beli sebesar generasi yang lebih tua, pengaruh mereka terhadap arah tren tetap terasa. Produk yang terlihat baru, unik, atau “menonjol” dapat segera menjadi bahan pembicaraan, sementara proses menemukan produk berlangsung saat mereka sedang menggulir.
Dengan kata lain, tren memang menyebar cepat, tetapi keputusan berbelanja justru melalui tahap verifikasi. Tahap inilah yang membedakan konsumen muda yang lebih kritis dari pola konsumsi impulsif.
Berita Terkait
AI ikut dipakai, namun tidak otomatis dianggap benar
Kebiasaan membandingkan informasi kemudian diperkuat dengan kehadiran AI. Berdasarkan survei terhadap 1.200 konsumen kecantikan di China, lebih dari 76 persen responden pernah menggunakan AI untuk membantu keputusan terkait kecantikan atau perawatan kulit.
Lebih rinci, sekitar 42,79 persen responden menggunakan AI untuk menilai kecocokan kandungan. Sekitar 39,88 persen memakainya untuk membandingkan produk atau merek, sedangkan 37,23 persen menggunakannya untuk menentukan apakah sebuah produk layak dibeli.
Angka-angka itu menunjukkan peran AI bukan sekadar “alat tambahan”, melainkan bagian dari proses seleksi yang lebih sistematis. AI digunakan untuk memecah informasi menjadi bagian yang lebih mudah dinilai, terutama ketika konsumen berhadapan dengan banyak klaim pemasaran.
Namun, penggunaan AI tidak berarti seluruh responden otomatis percaya pada hasilnya. Sekitar 35,07 persen responden masih mempertanyakan keakuratan AI, sementara 29,44 persen menganggap ulasan manusia lebih autentik.
Situasi ini memperlihatkan adanya keraguan yang tetap hidup dalam ekosistem digital. Konsumen muda tampaknya memposisikan AI sebagai alat bantu, bukan penentu akhir yang kebal koreksi.
Jika ulasan pengguna memberi konteks tentang pengalaman langsung, AI sering dipakai untuk menyaring detail teknis seperti kandungan dan perbandingan antarproduk. Tetapi ketika akurasi dipertanyakan, kepercayaan tidak sepenuhnya berpindah dari manusia ke mesin.
Keputusan belanja yang makin “berlapis”
Dengan pola seperti ini, keputusan pembelian Gen Alpha menjadi berlapis: dimulai dari eksplorasi konten, lalu berlanjut ke verifikasi melalui ulasan, komentar, serta informasi kandungan. Penggunaan AI mempercepat tahap pengecekan, sementara kredibilitas tetap diuji melalui tanggapan pengguna lain.
Kesimpulannya, tren kecantikan di media sosial memang tetap berperan besar, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya dasar. Konsumen muda di China menunjukkan kecenderungan untuk menguji ulang informasi sebelum membeli, termasuk mempertimbangkan kegagalan produk yang pernah dialami orang lain.
Di tengah persaingan produk yang cepat berganti, pendekatan kritis ini memberi pesan yang jelas: popularitas tidak cukup tanpa verifikasi. Bagi Gen Alpha, membeli produk kecantikan adalah proses penilaian, bukan sekadar ikut arus yang sedang ramai.







