jurnalistik.co.id –
Uji coba manajemen nyeri personal untuk penderita endometriosis mulai berjalan di Inggris, dengan pendanaan total £2,3 juta. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan yang selama ini bergelut dengan nyeri kronis akibat kondisi tersebut.
Endometriosis bukan sekadar persoalan nyeri saat menstruasi. BBC menjelaskan bahwa penyakit ini melibatkan proses inflamasi di seluruh tubuh, ketika sel-sel yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di bagian lain tubuh, lalu berkembang biak dan menimbulkan luka yang “raw and angry sores”.
Bagi banyak perempuan, diagnosis bisa terlambat hingga bertahun-tahun, sementara tidak ada obat permanen yang benar-benar menyelesaikan masalah. Kondisi itu kemudian memengaruhi berbagai aspek kehidupan—mulai dari hubungan personal, pekerjaan, pendidikan, hingga kesehatan mental.
Salah satu peserta yang berbagi pengalamannya adalah Charlotte McCann. Ia menghadapi nyeri berat endometriosis sejak usia 14 tahun, dan sebagai orang dewasa, rasa sakitnya menjadi begitu tidak tertahankan hingga harus meninggalkan karier yang ia pilih.
Charlotte (27) tinggal di Huntly, Aberdeenshire, dan sekarang bekerja sebagai pet-sitter lepas ketika kondisinya memungkinkan. Ia pernah berada dalam fase endometriosis stadium 4, serta mengalami gangguan pada kandung kemih dan penyebaran gejala ke bagian lain tubuh.
“I would wake up in the night vomiting and I was always worried that maybe my appendix had burst or I had a kidney infection or something like that,” she recalled. “The pain would come on so strong, I wouldn’t be able to even sit up straight, I wouldn’t be able to stand up.”
Menurut Charlotte, rasa sakit itu merusak rutinitas sehari-hari. “It was heavily disrupting my life. I couldn’t focus on anything, and I couldn’t sleep or eat because of the pain.” Ia juga menegaskan bahwa pekerjaannya sangat sulit dijalani. “There’s no way I could continue my nine-to-five job when I could barely sit up.”
Ia menceritakan bahwa bertahun-tahun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Baru setelah pemeriksaan MRI, endometriosis terkonfirmasi. “It affected her bladder, and has spread to other parts of her body,” demikian narasi BBC merangkum kondisi yang ia alami.
Saat ini Charlotte mengandalkan obat pereda nyeri opioid yang sangat kuat, tetapi efeknya justru membuatnya merasa mual. “I am now on very strong opioid painkillers to try to get on top of the pain, but they make me feel very sick, to the point I can’t eat, so I have lost a lot of weight now as well,” she said.
Charlotte juga menggambarkan hari-hari di mana ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ia memerlukan alat bantu berjalan karena nyeri di punggung yang muncul sebagai bagian dari gejala endometriosis. Ia bahkan sempat menjalani tindakan bedah untuk mengangkat jaringan yang bermasalah, namun gejalanya kembali.
Menanggapi uji coba yang sedang diuji, Charlotte menyampaikan harapan. “Endometriosis has had a huge impact on my life, and I am delighted to hear that they are looking at new ways to help the millions of women who are suffering with this every single day.”
Bagaimana uji coba ini bekerja
Berita Terkait
Pekerjaan persiapan untuk studi lima tahun kini telah dimulai. Proyek ini didanai National Institute for Health and Care Research (NIHR), dan akan melibatkan perekrutan peserta sebelum program personal diberikan.
Setelah peserta bergabung, mereka mengikuti program yang berlangsung 12 minggu. Program tersebut dinamai endometriosis-specific pain management programme (e-PMP), dengan pendekatan personal untuk menguji apakah strategi ini mampu memberi perawatan yang lebih efektif.
Penelitian ini menargetkan perempuan yang nyerinya tidak terkontrol secara memadai oleh tindakan operasi atau obat. Tujuannya adalah mengevaluasi apakah rencana terpadu dapat menghasilkan perbaikan jangka panjang dalam kualitas hidup.
Komponen program mencakup psikoterapi berbasis cognitive behavioural therapy (CBT), fisioterapi spesialis, serta bimbingan mengenai hubungan, intimasi, dan komunikasi. Selain itu, terdapat juga pemberian obat yang bertujuan mengurangi efek samping.
Bagi perempuan yang belum memasuki masa menopause, peneliti membagi dua skenario. Sebagian menerima e-PMP bersama perawatan standar yang sudah ada, sementara sebagian lain hanya menerima perawatan standar. Hasil dari kedua pendekatan kemudian dibandingkan.
Direktur klinis studi dipimpin oleh dokter spesialis kandungan, Dr Lucky Saraswat. Ia menjabat sebagai honorary senior lecturer di universitas dan menjadi lead untuk Aberdeen Endometriosis Centre di NHS Grampian.
Landasan klinis dan harapan jangka panjang
Dr Lucky Saraswat mengatakan, “Endometriosis is one of the most common yet under researched causes of chronic pain.” Ia menambahkan, “Many women continue to suffer even after surgery or medication.”
Ia juga menjelaskan tujuan penelitian. “This study will help us understand whether a tailored, interdisciplinary pain management programme can offer meaningful, long term improvements in quality of life.”
Menurutnya, bila terbukti efektif, e-PMP bisa menjadi opsi terapi baru yang penting, terutama bagi perempuan yang ingin menghindari operasi berulang atau terapi hormonal, atau yang sedang merencanakan kehamilan. “If effective, e-PMP could become a vital new treatment option, particularly for women who wish to avoid repeated surgery or hormonal therapies, or who are planning a pregnancy.”
Selain hasil klinis, studi ini juga akan menilai efektivitas biaya. Prof Anthony Gordon, direktur health technology assessment programme di NIHR, menekankan bahwa banyak perempuan menghadapi gejala yang berlangsung bertahun-tahun dengan pilihan jangka panjang yang terbatas.
“High-quality research is essential to break this cycle and deliver treatment that addresses the full, complex impact of endometriosis,” he said. “By evaluating tailored, non-surgical pain management, this trial could revolutionise care – providing desperately needed support, improving daily lives, and offering long-term relief when standard treatments haven’t worked.”
Emma Cox, Chief Executive Endometriosis UK, menambahkan bahwa gejala endometriosis—termasuk chronic pelvic pain—dapat berdampak besar terhadap kesehatan fisik dan mental. Ia menyebut penelitian ini sebagai sesuatu yang sangat dibutuhkan. “We welcome this much-needed research and look forward to working with the team to see how an endometriosis specific pain management programme could support those with the disease in the future.”












