Hukum & Kriminal

Ancaman gugatan, British Museum siapkan tur Bayeux Tapestry dengan deskripsi audio bagi tuna netra

×

Ancaman gugatan, British Museum siapkan tur Bayeux Tapestry dengan deskripsi audio bagi tuna netra

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – British Museum menyatakan akan menyiapkan tur Bayeux Tapestry dengan deskripsi audio setelah seorang pria tuna netra mengancam menempuh langkah hukum. Keputusan ini diumumkan menyusul surat pra-tindakan yang dikirim oleh tim kuasa hukumnya.

Pihak museum menyebut tur deskripsi audio akan diberikan secara langsung selama masa pameran berlangsung. Museum juga menyampaikan sedang meninjau kemungkinan menghadirkan tur serupa melalui aplikasi panduan audio.

Ancaman proses hukum itu disampaikan oleh Dr Yusuf Ali Osman dari Croydon. Ia mengatakan akses bagi penyandang tunanetra belum tersedia dalam bentuk tur berdeskripsi audio untuk pengunjung yang memiliki gangguan penglihatan.

Menurut Osman, tindakan tersebut melanggar Equality Act. Ia mengklaim British Museum tidak memenuhi kewajiban kesetaraan layanan bagi pengunjung penyandang disabilitas dalam penyelenggaraan Bayeux Tapestry.

Leigh Day, selaku kantor hukum Osman, mengirimkan surat pra-tindakan pada 24 September. Setelah itu, British Museum kemudian menyatakan rencana memberikan tur deskripsi audio tatap muka selama periode pameran.

Ancaman gugatan dan respons museum

Dalam keterangannya, British Museum menyampaikan akan mengadakan tur in-person yang menyediakan deskripsi audio. Museum menyatakan format tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian layanan selama Bayeux Tapestry dipamerkan.

Selain menyediakan tur langsung, museum juga menyatakan sedang mempertimbangkan opsi lain. Salah satunya adalah menambahkan tur berdeskripsi audio sebagai bagian dari panduan audio berbasis aplikasi pameran.

Osman menghubungi museum pada bulan Juli untuk menanyakan apakah tur deskripsi audio tersedia. Ia tak memiliki penglihatan di kedua mata, dan kabarnya bertanya secara spesifik mengenai ketersediaan tur tersebut.

Leigh Day menyebut, menurut informasi yang disampaikan museum kepada Osman, kunjungan mandiri akan diprioritaskan dibanding tur serta kegiatan. Alasan yang diberikan adalah pembatasan waktu paparan cahaya untuk Bayeux Tapestry.

British Museum menyatakan bahwa batasan mengenai berapa lama kain bordir itu dapat terkena cahaya setiap minggu berimbas pada jumlah pengunjung. Pembatasan tersebut, dalam penjelasan museum, ikut menentukan kapasitas layanan selama pameran.

Berdasarkan klaim yang disampaikan kuasa hukum Osman, ia menempuh langkah hukum dengan menuntut ganti rugi serta deklarasi bahwa dirinya mengalami diskriminasi. Ia juga meminta adanya perintah agar museum mengubah kebijakannya, sekaligus memberikan pelatihan kesadaran disabilitas kepada staf yang relevan.

Osman menyampaikan harapannya agar proses hukum mendorong pertimbangan yang lebih baik sejak awal perencanaan pameran berskala besar. Ia mengatakan, “I hope that this legal action will help make sure that blind and partially sighted people are properly considered when major exhibitions are planned, so that we can enjoy and engage with our national cultural institutions on a more equal footing,”

Kuasa hukumnya, Kate Egerton, juga menyoroti dasar kewajiban yang menurut mereka perlu dipenuhi penyedia layanan. Ia menyatakan, “The Equality Act places obligations on service providers to anticipate the needs of disabled people and take reasonable steps to avoid substantial disadvantage.”

Egerton menambahkan bahwa kliennya menuntut kesempatan yang setara untuk merasakan pameran. Ia berkata, “Our client is asking for the same opportunity as sighted visitors to experience this exhibition.”

Aksesibilitas selama pameran

Seorang juru bicara British Museum menyatakan museum berkomitmen agar pameran Bayeux Tapestry dapat diakses seluas mungkin. Pihak museum menyebut telah bekerja sama dengan konsultan aksesibilitas yang memiliki spesialisasi di bidang tersebut.

Juru bicara itu mengatakan, “Provisions include a sensory map to help visitors prepare for their visit, as well as dedicated tours during the exhibition run which will include an in-person audio-described tour,”

Ia juga menegaskan bahwa museum sedang menilai opsi menghadirkan tur berdeskripsi audio yang terpisah. Menurut pernyataan juru bicara, hal itu akan dimasukkan dalam panduan audio berbasis aplikasi untuk pameran.

Dengan rencana tersebut, museum berharap layanan aksesibilitas dapat mencakup kebutuhan pengunjung yang membutuhkan deskripsi audio secara lebih terstruktur. Tur tatap muka menjadi satu bentuk respons yang diharapkan menjawab kekhawatiran Osman.

Dalam informasi yang disampaikan terkait pameran, Bayeux Tapestry digambarkan sebagai bordir sepanjang 70 meter atau sekitar 230 feet. Karya itu memuat peristiwa yang mengarah pada Norman Conquest pada tahun 1066.

Pihak museum menyebut Bayeux Tapestry merupakan koleksi yang dipinjam dari Prancis. Saat ini, karya tersebut dipamerkan di British Museum dengan jadwal hingga 11 Juli 2027.

Periode pameran yang panjang memberi ruang bagi museum untuk menerapkan dan memperluas layanan aksesibilitas selama masa pameran. Keputusan menyediakan tur deskripsi audio secara langsung juga menempatkan aspek kebutuhan pengunjung tunanetra sebagai bagian dari rencana layanan.

Kasus ini menunjukkan bagaimana isu aksesibilitas di museum dapat menjadi titik tumpu perubahan kebijakan layanan. Dalam perkembangannya, rencana tur audio-described itu menjadi respons yang muncul setelah komunikasi dan surat pra-tindakan dari tim Osman.

British Museum pada akhirnya menegaskan bahwa komitmen aksesibilitas dilakukan melalui sejumlah langkah yang disebutkan, mulai dari sensory map hingga tur khusus selama pameran. Dengan rencana tur in-person berdeskripsi audio dan evaluasi opsi berbasis aplikasi, museum menyampaikan upaya untuk membuat pameran bisa dinikmati dengan cara yang lebih setara.