Pendidikan

Kenapa Kepribadian Kakak dan Adik Berbeda? Psikolog Jelaskan 3 Faktor Kuncinya

×

Kenapa Kepribadian Kakak dan Adik Berbeda? Psikolog Jelaskan 3 Faktor Kuncinya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kenapa Kakak Adik Berbeda Karakter? Psikolog Ungkap 3 Pengaruhnya

jurnalistik.co.id – Tumbuh dalam keluarga yang sama tidak otomatis membuat kakak dan adik memiliki karakter yang serupa. Meski berbagi orangtua, rumah, dan banyak peristiwa masa kecil, cara keduanya memaknai pengalaman bisa berjalan sangat berbeda.

Dalam pandangan psikologi, hubungan saudara kandung memang dipengaruhi berbagai faktor. Urutan kelahiran sering disebut, tetapi stereotip semacam itu tidak cukup untuk menjelaskan kepribadian seseorang secara utuh.

Urutan kelahiran tak selalu menentukan kepribadian

Anggapan bahwa anak sulung cenderung lebih bertanggung jawab atau lebih berprestasi, anak tengah lebih mudah beradaptasi, serta anak bungsu lebih bebas dan berani mengambil risiko, memang sudah lama beredar. Salah satu gagasan yang sering dikaitkan dengan pembagian seperti itu berasal dari psikolog Alfred Adler.

Namun, pandangan tersebut tidak bisa dipakai sebagai patokan tunggal. Pengalaman yang dialami masing-masing anak dalam dinamika keluarga dapat berbeda, sehingga karakter yang terbentuk pun tidak selalu mengikuti pola sederhana berdasarkan posisi lahir.

Penelitian yang dibahas dalam sumber juga menegaskan bahwa keterkaitan antara urutan kelahiran dan kepribadian bersifat lebih rumit daripada stereotip anak sulung, tengah, atau bungsu. Artinya, ketika seseorang tampak ā€œsesuaiā€ label tertentu, itu belum tentu karena urutan kelahirannya, melainkan karena konteks yang menyertainya.

Label keluarga dapat bertahan sampai dewasa

Selain faktor urutan, label yang ditempelkan dalam keluarga juga berpotensi ikut membentuk cara seseorang melihat dirinya. Psikolog Frances Fuchs Schachter menjelaskan konsep de-identification, yaitu ketika anak secara tidak sadar mengambil identitas yang berbeda dari saudara kandungnya untuk mengurangi persaingan.

Contohnya, ketika kakak dikenal sebagai sosok yang rapi, terorganisasi, dan rajin belajar, adik bisa memilih peran lain agar tidak berhadapan langsung dengan citra tersebut. Peran yang terbentuk sejak kecil tidak selalu selesai di masa kanak-kanak, karena proses pemaknaan bisa terus berpengaruh ketika seseorang sudah dewasa.

Kepekaan terhadap perasaan ā€œlebih rendahā€ juga dapat muncul dari bagaimana dinamika keluarga dipahami dari waktu ke waktu. Dr. Avidan Milevsky, ilmuwan perilaku, menggambarkan pengalamannya sebagai berikut: ā€œMisalnya, seorang rekan kerja meremehkan saya di tempat kerja dan saya terpuruk dalam depresi. Setelah saya merenungkannya, saya ingat bahwa kakak laki-laki saya lebih ā€˜sukses’,ā€ ungkap Ilmuwan perilaku, Dr. Avidan Milevsky.

Ia melanjutkan: ā€œSaat masih kecil, saya ditanya, ā€˜Mengapa kamu tidak bisa seperti dia?’ dan sekarang saya sensitif terhadap perasaan ā€˜lebih rendah’. Dinamika hubungan saudara kandung adalah intinya,ā€ tambahnya. Narasi itu memperlihatkan bagaimana pengalaman masa kecil dapat menjadi ā€œlensaā€ yang ikut memengaruhi respons ketika menghadapi penilaian atau merasakan tekanan.

Meski begitu, peran yang telah terbentuk sejak kecil bukan berarti tidak bisa diubah. Saat seseorang semakin dewasa, ia dapat meninjau ulang pola pikir dan cara memandang dirinya agar tidak terus terikat pada label yang dulu terasa menentukan.

Pengalaman bersama dapat dimaknai secara berbeda

Kakak dan adik memang tumbuh dengan sejarah keluarga yang sama. Akan tetapi, kesamaan ā€œkejadianā€ tidak selalu berarti kesamaan ā€œingatanā€ atau kesamaan cara memahami makna peristiwa.

Dalam beberapa situasi, dua orang bisa sama-sama mengalami peristiwa tertentu, tetapi interpretasinya berbeda. Perbedaan penafsiran inilah yang kemudian membentuk kebiasaan emosi, cara merespons konflik, hingga kecenderungan mengambil sikap tertentu dalam hubungan sehari-hari.

Karena itu, karakter kakak dan adik tidak hanya ditentukan oleh siapa yang lahir lebih dulu, atau label apa yang pernah melekat. Ia juga dipengaruhi bagaimana masing-masing individu menyusun cerita tentang dirinya sendiri dari interaksi keluarga yang dialami, termasuk dorongan, tekanan, serta kesempatan yang mereka terima.

Pada akhirnya, memahami perbedaan karakter kakak dan adik berarti melihat saudara kandung sebagai hubungan yang dinamis, bukan sekadar hasil dari aturan biologis. Urutan kelahiran bisa memberi gambaran awal, tetapi label keluarga dan cara memaknai pengalaman bersama sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan dalam perjalanan kepribadian hingga usia dewasa.