Pendidikan

Sudah Berhijrah, Lantas Mengapa Masih Perlu Meminta Hidayah? Ini Penjelasannya

×

Sudah Berhijrah, Lantas Mengapa Masih Perlu Meminta Hidayah? Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sudah Hijrah, Tapi Mengapa Harus Terus Minta Hidayah? Ini Jawabannya

jurnalistik.co.id – Hijrah sering dipahami sebagai titik awal menuju hidup yang lebih baik. Namun perjalanan itu tidak berhenti pada perubahan lahiriah, sebab seorang hamba tetap membutuhkan hidayah, taufik, dan pertolongan Allah agar langkahnya terus lurus.

Hijrah bukan sekadar berganti kebiasaan atau memilih lingkungan pergaulan yang dianggap lebih “sesuai”. Di dalamnya ada proses meninggalkan sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu menggantinya dengan kehidupan yang makin dekat kepada-Nya.

Karena itulah, ketika seseorang mendapatkan kemampuan untuk menjauh dari maksiat, menjaga salat, rajin menimba ilmu, serta berupaya istiqamah dalam kebaikan, itu semestinya dipandang sebagai nikmat yang besar. Kemampuan untuk berubah bukan semata hasil tenaga diri, melainkan anugerah yang Allah berikan.

Dalam perspektif agama, hidayah adalah fondasi yang membuat perubahan itu bisa bertahan. Tanpa hidayah, kebajikan yang pernah dilakukan berisiko tidak memiliki kesinambungan, karena keteguhan hati juga butuh peneguhan dari Yang Maha Mengatur.

Hal ini ditegaskan melalui hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim. Allah Ta’ala berfirman, يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ “Wahai sekalian hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali yang Kuberi petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan Kuberi petunjuk.” (HR Muslim).

Pesan hadis tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak akan menemukan jalan yang benar hanya dengan mengandalkan kemampuan pribadi. Ada saat-saat ketika hati mudah goyah, sehingga yang dibutuhkan bukan sekadar semangat sesaat, melainkan petunjuk Allah yang menuntun.

Allah juga mengajarkan adab spiritual yang penting: setelah berikhtiar, hamba tetap diminta untuk terus meminta petunjuk. Artinya, orang yang sudah berhijrah tidak lantas merasa “cukup” dan berhenti memohon, karena hidayah adalah kebutuhan yang melekat pada setiap waktu.

Ketika seseorang menunaikan ketaatan—misalnya salat tepat waktu, berpuasa, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu agama, dan menjauhi maksiat—semua itu tidak lepas dari hidayah Allah. Termasuk ketika seseorang mulai merasakan manisnya iman, pengalaman batin itu pun berjalan seiring pertolongan-Nya.

Dalam praktiknya, sikap bersandar kepada Allah membuat seseorang tidak mudah merasa paling benar. Ia menyadari bahwa kebaikan yang dilakukan bukan karena kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan karena Allah membuka jalan, meneguhkan arah, dan memantapkan hati untuk tetap berada pada kebenaran.

Maka, jika ditanya tentang anugerah Allah yang paling besar bagi seorang hamba, hidayah termasuk yang tidak ternilai. Sebab, hidayah bukan hanya mengantarkan pada perubahan awal, tetapi juga menjaga agar proses itu tetap berjalan hingga akhir kehidupan.

Allah bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa meminta petunjuk. Perintah ini menunjukkan bahwa keteguhan tidak datang otomatis, melainkan ditopang oleh doa dan ketundukan. Dengan memohon kepada-Nya, seorang Muslim berharap hati terus diarahkan kepada kebenaran.

Di titik ini, hijrah dapat dipahami secara lebih utuh: ia adalah perjalanan yang menuntut pemeliharaan terus-menerus. Setelah meninggalkan keburukan, seorang hamba masih perlu dituntun agar tidak kembali pada kelalaian, tidak berhenti memperbaiki diri, dan tidak kehilangan arah.

Karena itu, memohon hidayah bukan tanda lemah, melainkan wujud kesadaran spiritual. Seorang yang sudah mulai berhijrah tetap membutuhkan pertolongan Allah untuk menjaga konsistensi, memperkuat tekad, dan menumbuhkan iman yang membuatnya betah dalam kebaikan.

Semoga pemaknaan ini membuat setiap langkah hijrah semakin bermakna. Ujung dari perjalanan itu bukan sekadar perubahan penampilan atau lingkungan, melainkan ketaatan yang menetap dan keyakinan yang bertumbuh, semuanya atas rahmat Allah.

Ketika semangat hijrah mulai diuji—entah oleh rasa lelah, godaan, atau suasana yang membuat hati lengah—yang meneguhkan bukan sekadar keyakinan diri, melainkan kerendahan untuk kembali memohon petunjuk. Kesadaran bahwa arah yang benar tetap datang dari Allah membuat seorang hamba lebih waspada, tidak membiarkan kebaikan berjalan tanpa penjagaan.

Dalam perjalanan itu, perubahan yang sudah terbentuk perlu dirawat agar tidak kehilangan ruhnya. Setelah meninggalkan hal yang tidak diridhai, seorang Muslim diminta untuk terus mengganti kebiasaan dengan ketaatan yang sama-sama bergantung pada hidayah, taufik, dan pertolongan Allah. Karena itu, hijrah yang utuh selalu disertai sikap rendah hati: memandang setiap langkah baik sebagai rahmat, lalu menjaga agar langkah berikutnya tetap sejalan dengan kebenaran.