jurnalistik.co.id – Kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tidak berhenti pada perasaan atau ungkapan sesaat. Dalam sejumlah pengajaran, cinta kepada beliau diposisikan sebagai komitmen yang tampak lewat tindakan dan kesungguhan menjalankan ajarannya.
Gagasan itu menguat melalui salah satu hadis yang banyak dikenal tentang percakapan Rasulullah SAW dengan seorang Arab Badui terkait hari Kiamat. Ketika Badui tersebut menanyakan kapan Kiamat terjadi, Rasulullah SAW justru mengarahkan pertanyaan balik: apa yang telah disiapkan untuk menghadapi hari Kiamat.
Badui itu menjawab bahwa dirinya tidak mempersiapkan banyak salat dan puasa. Namun, ia menyatakan hal lain yang ia pegang teguh: ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW tidak menyalahkan maupun merendahkan pengakuan itu. Sebaliknya, beliau memberikan kabar yang menggembirakan, yaitu “Al-mar’u ma’a man ahabba,” yang berarti seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.
Dalam pengajaran yang sama, pesan hadis tersebut dipahami sebagai penegasan betapa besar kedudukan cinta kepada Rasulullah SAW. Cinta yang dimaksud bukan sekadar kalimat yang diucapkan, melainkan sesuatu yang hidup dalam perilaku.
Karena itu, cinta kepada beliau perlu dibuktikan melalui sikap yang konsisten. Keteladanan dan kesungguhan mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah SAW menjadi ukuran nyata dari kecintaan tersebut.
Ketika membicarakan bukti cinta, para sahabat disebut sebagai contoh yang luar biasa. Mereka tidak hanya memperbanyak selawat, tetapi juga rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi membela Rasulullah SAW dan agama yang beliau bawa.
Teladan itu memberi gambaran bahwa cinta kepada Nabi Muhammad SAW menuntut keberanian dan pengorbanan. Cinta tidak berhenti di lisan, melainkan menjelma menjadi kerja nyata, terutama ketika agama dan perjuangan Rasulullah SAW membutuhkan dukungan.
Lantas, bagaimana umat Islam di zaman sekarang dapat membangun dan menunjukkan kecintaan itu? Pengajian yang bertajuk “Edisi Cinta Rasul” menyoroti hal tersebut dengan mengajak umat menata sikap, bukan sekadar memelihara wacana.
Ustaz Muchlis Al-Mughni, seorang dai lulusan Al-Azhar Mesir, menjelaskan sejumlah cara untuk menumbuhkan dan membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Inti arah pembahasannya adalah menghadirkan cinta yang berdampak pada cara pandang dan cara hidup.
Berita Terkait
Mencintai Rasulullah SAW melebihi diri sendiri
Salah satu cara yang ditekankan adalah menempatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW di atas kecintaan kepada diri sendiri. Artinya, cinta kepada beliau menjadi prioritas, bukan sekadar bagian dari perasaan yang muncul sesekali.
Kecintaan tersebut juga ditempatkan lebih tinggi daripada ikatan kepada keluarga maupun kecintaan kepada manusia lain. Dengan demikian, ketika pilihan dan keadaan menuntut keputusan, arah hati tidak tercerai dari teladan Rasulullah SAW.
Penguatan prinsip ini selaras dengan pesan hadis tentang “seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” Bila cinta benar-benar berakar, ia akan memengaruhi orientasi batin dan cara seseorang menempatkan nilai.
Karena itu, kecintaan yang tertanam akan mendorong seseorang untuk menjaga perilaku agar sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW. Dari sini, ibadah seperti salat dan puasa ditempatkan sebagai bagian dari upaya mendekat, bukan sekadar rutinitas terpisah dari sikap hati.
Dalam kisah Badui, ia mengaku tidak mempersiapkan banyak salat dan puasa, tetapi ia tetap menyampaikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kabar menggembirakan, yang menunjukkan bahwa pengakuan cinta memiliki bobot dan makna yang besar.
Di sisi lain, contoh para sahabat memperlihatkan bahwa cinta yang dipegang sungguh-sungguh akan terlihat pada kesediaan berkorban. Ketika ada panggilan untuk membela Rasulullah SAW, cinta tidak menjadi penonton, melainkan penggerak.
Dengan kerangka itu, pembahasan tentang cinta kepada Nabi Muhammad SAW mengajak umat menilai ulang sikap sehari-hari. Apakah kecintaan tersebut benar-benar terlihat dalam keteladanan, atau hanya tinggal pada ungkapan.
Kesungguhan mengikuti ajaran Rasulullah SAW menjadi penegas bahwa cinta bukan sekadar kata. Ia adalah komitmen yang dibawa dalam tindakan, ketekunan, dan keberanian untuk menempatkan nilai yang benar di atas kepentingan pribadi.
Melalui pesan hadis dan teladan sahabat, cinta kepada Rasulullah SAW akhirnya dipahami sebagai jalan untuk menyatukan orientasi hati. Ketika hati memilih beliau sebagai yang paling dicintai, langkah dan pilihan pun akan ikut berubah sesuai tuntunan ajaran beliau.







