Pendidikan

Kepala sekolah diduga pelaku kekerasan: para korban bersatu mencari keadilan hingga akhirnya menikah

×

Kepala sekolah diduga pelaku kekerasan: para korban bersatu mencari keadilan hingga akhirnya menikah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Our head teacher was an abuser. We joined forces to get justice - now we're married

jurnalistik.co.id – Yusron Azzahidi mengaku sempat merasa perutnya “jatuh” saat menerima telepon dari nomor yang ia kenali, setelah sang adik mengirim pesan yang mendesak agar ia segera menghubungi keluarga. Namun di ujung lain telepon itu bukan kerabatnya, melainkan kepala sekolah lamanya.

Ahmad Imanuddin Sumar, yang biasa dipanggil “Abah” oleh para murid, dikenal sebagai pimpinan pesantren asrama Islam di Lombok. Ia kemudian berbicara dengan Yusron dalam konteks tuduhan pelecehan seksual terhadap dirinya.

Dalam rekaman percakapan yang disampaikan Yusron, Abah terdengar meminta agar bukti dan kesaksian yang dikumpulkan tidak sampai dibuka ke publik. Ia juga memohon agar Yusron menjaga “aib” atas tindakan yang dituduhkan itu.

“Cover the shame of your teacher. Everyone makes mistakes, my child,” kata Abah dalam telepon tersebut. Yusron menyatakan ia justru merekam setiap kata yang diucapkan gurunya.

Di tengah kasus pelecehan yang belum pernah sepenuhnya menjangkau proses peradilan, kisah para mantan siswa menjadi perhatian setelah mereka bertahun-tahun mengumpulkan keterangan dan bukti untuk menuntut keadilan.

Kesaksian awal dan terbentuknya kerja sama

Yusron mulai mengarahkan penyelidikan setahun lebih awal. Dorongan itu muncul dari pengungkapan seorang teman sekolahnya, Ziadatur Rahmah, yang akrab dipanggil Zia.

Ketika mereka sama-sama kuliah—Yusron di Jakarta dan Zia di Kairo, Mesir—Zia menceritakan bahwa Abah pernah melakukan pelecehan seksual saat ia berusia 16 tahun.

Zia mengatakan ia sempat harus pergi ke toilet saat pelajaran. Menurut ceritanya, Abah kemudian menghentikannya di area kebun sekolah dan meminta agar ia mengikuti Abah ke rumah gurunya yang berada di lingkungan pesantren.

Di dalam rumah, Zia menceritakan Abah menyatakan perasaannya, lalu melakukan tindakan yang membuat ia merasa “sangat kotor”. Dalam penuturannya kepada layanan BBC World Service, ia menyebut: “He pulled me down so I was sitting on his lap… Then he started kissing me… He was stroking and touching my body,” serta menjelaskan bahwa Abah memberitahunya untuk melakukan hal yang sama.

Zia juga menuturkan ada momen ketika salah satu anak Abah mengetuk pintu depan hingga terdengar keras. Abah memberi isyarat agar ia segera pergi, lalu ia berlari keluar melalui bagian belakang rumah.

Setelah mendengar laporan Zia, Yusron merasa ragu harus mengambil langkah apa. Di sekolah mereka, ada semboyan yang diajarkan kepada para siswa: “Sami’na wa ata’na” dengan terjemahan “We hear, and we obey”.

Meski demikian, Yusron tetap memikirkan dampak yang dialami Zia. Ia lalu mengusulkan agar ia dan Zia mengumpulkan bukti pendukung, bersama beberapa teman Zia lainnya, yaitu Wanda Hamidah dan Mahima Eka.

Proses pengumpulan keterangan berjalan pelan, seiring percakapan di antara para mantan siswa. Mereka saling membagikan temuan dari ingatan masing-masing melalui aplikasi perpesanan, sampai akhirnya muncul kesaksian yang dianggap paling penting.

Tuduhan berlapis dan dokumen yang disusun

Kesaksian paling signifikan datang dari seorang teman Wanda. Ia menceritakan bahwa saat tahun terakhir sekolah, malam hari, ia melihat seorang gadis yang lebih muda menangis di kamar mandi. Ia juga menyebut bahwa Abah kemudian mencari gadis tersebut dengan wajah merah dan napas terengah.

Gadis itu adalah Sukma Rohana, yang saat itu masih berada di sekolah. Sukma kemudian menceritakan pengalamannya kepada BBC.

Saat Sukma berusia 17 tahun, Abah menurut kesaksian itu meminta Sukma untuk bergabung dalam doa tahun baru. Sukma mengatakan ketika ia masuk ke rumah Abah, Abah menutup mulutnya lalu menyuruhnya berbaring. Ia juga menceritakan Abah kemudian melepaskan pakaiannya di bawah pinggang.

“He kept talking, saying he couldn’t control himself any more,” kata Sukma. Dalam penuturannya, Sukma mengungkap: “He was feeling me up through my knickers… He tried to rape me.”

Ia menuturkan menemukan kesempatan untuk melarikan diri setelah menendang keras perut Abah. Sukma juga menyebut saat ia berlari, ia sempat menoleh dan melihat senter Abah mencari dirinya.

Ketika keterangan seperti ini mulai terkumpul, Yusron berperan mengoordinasikan lanjutan komunikasi dengan para siswa yang membuat tuduhan. Ia menuliskan catatan rinci dan menyusun dokumen berisi uraian dugaan pelecehan terhadap Sukma, Zia, serta empat mantan siswa lain.

Yusron menyebut ia mengetik dokumen setebal tujuh halaman yang merinci dugaan kekerasan seksual. Dari sisi organisasi sekolah, Wanda lalu mengatur pertemuan dengan perwakilan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), organisasi yang menjalankan pesantren mereka dan juga mendukung sebagian studi siswa di Kairo.

Menurut pengakuan para teman, pertemuan berjalan baik. Perwakilan NWDI diklaim mengatakan mereka akan membantu membawa kasus ini ke pihak kepolisian.

Tekanan setelah dokumen bocor dan rekaman telepon

Tiga pekan setelah pertemuan itu, keadaan berbalik. Yusron menerima pesan dari adiknya yang mendesak agar ia kembali menghubungi Abah yang saat itu berada di ujung telepon di rumah keluarganya.

Dalam rekaman Yusron, Abah mengungkap ketakutannya jika dokumen dan bukti yang dikumpulkan tersebar. Abah terdengar berkata, “If this is leaked to the media… I’ll be destroyed.”

Abah dalam rekaman itu juga meminta Yusron berbohong dan memberikan serangkaian cerita penutup agar Yusron bisa menarik kembali dokumen bukti yang telah disusun. Yusron mengatakan tekanan serupa kemudian turut diarahkan kepada Zia, dan Zia juga merekam panggilan tersebut.

Dalam percakapan itu, Abah menurut rekaman mengakui ia melakukan pelecehan kepada Zia, tetapi tetap memohon agar Zia tidak bersuara.

Sementara itu, Sukma menuturkan bahwa ia dipanggil ke rumah Abah dan menemukan dua petugas polisi serta seorang pengacara dari NWDI menunggunya. Sukma mengaku mereka memaksa ia menandatangani dokumen yang menyatakan semua tuduhannya adalah kebohongan.

Menurut Sukma, kisahnya juga didukung rekaman rahasia yang ia buat ketika menantang Abah bersama istrinya, Hurmiati. Hurmiati dalam rekaman terdengar mengatakan agar Sukma menghormati “agreement” bahwa tidak terjadi apa-apa, termasuk dengan kalimat: “Do you want this to haunt you for the rest of your life? Do you want it to damage the chances of you getting married?”

Tekanan juga menjangkau keluarga. Sukma menyebut Abah meminta orang tua Yusron untuk terbang ke Jakarta guna mencari Abah, namun mereka tidak menemukan Abah karena ia disebut bersembunyi di sebuah hotel. Dari situ, Yusron mengatakan ibunya menanggung tekanan berat sampai ia akhirnya menghentikan penyelidikan.

Meski penyelidikan Yusron berhenti, hubungan Yusron dan Zia justru makin dekat. Yusron menggambarkan persahabatan mereka berkembang menjadi hubungan jarak jauh yang dijalani melalui telepon secara rutin, sambil memperhatikan bahwa Zia masih terus bergulat dengan ingatan yang ia alami.

Bangkitnya kembali langkah hukum

Delapan bulan kemudian, Yusron mendengar adanya kelompok yang menyuarakan kesadaran terkait kekerasan seksual di sekolah-sekolah Islam. Kelompok tersebut didirikan oleh Ayu Masruroh, yang pernah membantu temannya mendapatkan keadilan setelah pelecehan seksual di sekolah lain dilakukan oleh seorang guru bernama Moch Subchi Azal Tsani.

Ayu, menurut Yusron, aktif mengunggah kebutuhan untuk berbicara. Dorongan itu membuat Zia juga memublikasikan ajakan di Instagram untuk siswa Indonesia yang mengalami kekerasan agar menghubungi pihak terkait.

Pada fase ini, meski Abah sempat menahan dan menjanjikan perubahan, muncul dugaan bahwa ia kembali melakukan pelanggaran. Ada seorang orang yang pernah sealmater dengan Zia yang kemudian menghubungi Zia dan mengatakan ia pun mengalami eksploitasi seksual oleh Abah.

Para pihak menyebut dugaan pelecehan terjadi hampir setahun setelah janji Abah kepada Zia dan Yusron. Zia mengatakan, “It made me realise [Abah] hadn’t really changed at all… all the things he said about stopping… It was all just lies.”

Keluarga Yusron akhirnya menyetujui agar ia kembali membantu Zia dan Sukma melanjutkan upaya keadilan. Namun kali ini, mereka memutuskan melakukan langkah berbeda.

Mereka menghubungi Ayu, dan Ayu menyatakan satu hal yang dianggap penting: mereka harus mendapatkan bantuan pengacara. Ayu mempertemukan mereka dengan seorang pengacara yang berpengalaman menangani kasus penyintas kekerasan seksual.

Pengacara tersebut, menurut cerita para korban, menilai kasus Sukma adalah yang terkuat untuk memastikan proses penuntutan.

Pihak BBC menyatakan mereka telah menghubungi Abah dan Hurmiati terkait tuduhan tersebut, tetapi tidak mendapat respons. NWDI menyatakan masih meneliti dugaan di dalam organisasi dan membantah adanya upaya menutup-nutupi klaim pelecehan seksual.

NWDI juga menyampaikan, “a duty to safeguard the organisation from being tarnished by the alleged actions of individuals”. Sukma sendiri mengajukan laporan terkait dugaan pelecehan kepada polisi pada Februari tahun lalu.