Entertainment

Penuaan Membuat Wajah Cekung: Volume Berkurang dan Kontur Kendur

×

Penuaan Membuat Wajah Cekung: Volume Berkurang dan Kontur Kendur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mengatasi Tanda Penuaan Wajah Cekung dan Kehilangan Volume

jurnalistik.co.id – Seiring bertambahnya usia, perubahan pada wajah sering tidak hanya terlihat dari munculnya kerutan. Ada pergeseran lain yang biasanya berlangsung pelan, namun efeknya jelas terhadap tampilan keseluruhan.

Bagian tengah wajah, terutama area pipi dan bawah mata, dapat kehilangan volume. Proses ini terkait dengan berkurangnya produksi kolagen serta menipisnya bantalan lemak alami yang selama ini ikut menopang struktur wajah.

Jika bantalan tersebut menyusut, wajah cenderung tampak lebih cekung dan terlihat lebih lelah. Akibatnya, penampilan bisa terasa lebih tua dari usia sebenarnya, karena kontur wajah menjadi kurang “penuh”.

Dalam temu media di Jakarta (3/7/2026), dr.Elizabeth Lisa, founder Beauty Sister Clinic, menjelaskan hubungan volume dan penuaan.

“Pertambahan usia akan membuat volume lemak berkurang, tulang pipi turun, sehingga wajah kendur (shaggy),” kata dr.Elizabeth Lisa, founder Beauty Sister Clinic, dalam acara temu media di Jakarta (3/7/2026).

Ia menambahkan, wajah yang tampak makin kosong juga kerap dialami ketika seseorang mengalami penurunan berat badan secara signifikan. Pada kondisi tertentu, perubahan yang terjadi tidak hanya berasal dari faktor usia, tetapi juga dari dinamika berat badan.

“Pada orang yang olahraga berat dan turun berat badan lebih dari 5 kg, pasti lemak di bagian wajah ikut berkurang. Termasuk juga orang yang pakai obat penurun berat badan, akan mengalami penurunan lemak di bagian samping wajah sampai dahi,” papar dr.Lisa.

Dengan kata lain, kontur wajah bisa berubah karena tubuh “mengurangi cadangan” lemaknya. Area yang berhubungan dengan struktur pipi dan garis wajah akan menjadi salah satu yang paling cepat menunjukkan efeknya.

Kolagen dan bantalan lemak sebagai penopang tampilan

Penurunan kolagen juga turut memperjelas perbedaan pada wajah. Kolagen adalah protein paling melimpah di kulit yang berfungsi sebagai “rangka” atau penopang alami kulit.

Kolagen memberi kekuatan, kekenyalan, dan kekencangan, sehingga kulit cenderung tampak halus, elastis, dan awet muda. Ketika produksinya menurun, kekenyalan berkurang dan kulit lebih mudah terlihat kendur.

Dalam praktiknya, perubahan yang terpantau pada wajah cekung biasanya merupakan gabungan dari berkurangnya dukungan lemak dan melemahnya struktur kulit. Karena itu, solusi yang dipilih juga perlu menyesuaikan penyebab yang mendasari.

Menunda penuaan dengan pendekatan perawatan yang tepat

Untuk mengembalikan volume lemak yang hilang, salah satu prosedur yang banyak dilakukan di klinik estetika adalah penyuntikan filler berbahan dasar asam hialuronat (hyaluronic acid filler). Tindakan ini kerap dipilih karena berhubungan langsung dengan pengisian dan penataan kontur.

Meski begitu, dr.Lisa menegaskan kekhawatiran masyarakat tidak selalu beralasan bila prosedur dikerjakan dengan benar. Ia mengingatkan bahwa kekeliruan sering terjadi bukan pada idenya, melainkan pada siapa yang menjalankannya.

“Di dunia tiktok filler seolah menyeramkan, karena itu dikerjakan oleh oknum-oknum yang bukan dokter kompeten. Untuk merawat wajah, bukan cari mana yang lebih murah, tapi carilah dokter yang tekniknya bagus,” tuturnya.

Menurutnya, cara pandang terhadap tren estetika juga mulai bergeser. Alih-alih mengejar tampilan yang drastis, banyak orang kini memilih hasil yang lebih natural dan elegan.

“Kalau generasi sekarang kebanyakan pengen terlihat awet muda dan optimal, tapi enggak mau ketahuan treatment apa saja,” tuturnya.

Terapi kombinasi: stimulator kolagen dan filler

Selain filler, tren perawatan yang berkembang untuk mengatasi masalah wajah kendur, keriput, sekaligus mengisi volume menggunakan terapi kombinasi. Pendekatan yang disebut dr.Lisa melibatkan collagen stimulator PLLA-SCA serta filler NASHA & OBT.

PLLA-SCA (Poly-L-Lactic Acid – Sterile Carboxymethylcellulose) dipaparkan sebagai stimulator kolagen generasi terbaru. Zat ini bekerja dengan merangsang produksi kolagen alami tubuh.

“Hasilnya kulit tampak lebih kencang dan lifting secara bertahap, karena kita kan merangsang kolagen alami, jadi tidak bisa instan,” katanya.

Sementara itu, NASHA dan OBT merupakan teknologi filler dari Galderma yang mengkombinasikan dua karakteristik untuk karakter jaringan yang berbeda. Setiap area wajah, menurut penjelasan dr.Lisa, memiliki kebutuhan yang tidak sama.

Area yang membutuhkan struktur biasanya memerlukan gel yang lebih kokoh (NASHA). Adapun area yang banyak bergerak cenderung memerlukan gel yang lebih fleksibel (OBT).

“Ketika collagen stimulator dikombinasikan dengan filler, maka hasilnya sangat optimal. Filler memiliki efek instan dalam face contouring mengisi cekungan, sedangkan collagen stimulator itu efeknya muncul bertahap, dan semakin lama akan semakin terlihat hasilnya,” jelas dr. Lisa.

Catatan untuk pemula sebelum mencoba

Bagi mereka yang baru mempertimbangkan prosedur estetika, dr.Lisa memberi saran yang berfokus pada kehati-hatian. Ia menganjurkan konsultasi dengan dokter yang kompeten.

Jangan hanya mengikuti tren di sosial media tanpa pendampingan profesional. Pilihan perawatan yang tepat biasanya perlu disesuaikan dengan kondisi wajah masing-masing, termasuk pertimbangan volume, kolagen, dan kebutuhan kontur.

Dengan pendekatan yang sesuai, tujuan yang ingin dicapai bisa lebih realistis: memperbaiki tampilan wajah yang tampak cekung, mengembalikan proporsi yang menurun, dan membantu menjaga agar perubahan terlihat lebih terkontrol seiring waktu.