Entertainment

Alasan Banyak Orang Terpikat Film Romantis yang Berakhir Patah Hati

×

Alasan Banyak Orang Terpikat Film Romantis yang Berakhir Patah Hati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mengapa Banyak Orang Suka Nonton Film Romantis Sedih

jurnalistik.co.id – Ada daya tarik yang sulit dijelaskan secara rasional ketika seseorang memilih menyaksikan kisah cinta yang sejak awal tampak akan berujung patah hati. Padahal, garis akhirnya sering terasa sudah “terbaca” bahkan sebelum adegan terakhir hadir.

Fenomena ini terlihat jelas pada genre romansa pilu. Mulai dari film seperti Me Before You, The Notebook, One Day, hingga A Walk to Remember, serta adaptasi terbaru Wuthering Heights, tontonan dengan jalan cerita romantis tragis kerap terus menempati daftar tontonan dan bacaan terlaris.

Yang menarik, respons penonton tidak berhenti pada rasa sedih semata. Banyak orang justru kembali mencari cerita serupa, meski tahu sensasi menyakitkan itu akan datang dan membuat dada sesak serta mata berkaca-kaca.

Dalam kajian yang dirujuk dari Real Simple, kegemaran pada kisah berakhir pilu dipandang bukan kebetulan. Para ahli menilai, daya tarik tersebut terkait erat dengan cara manusia membentuk ikatan emosional sejak dini, lalu memproyeksikannya ke dalam cara seseorang memaknai cinta, kedekatan, dan rasa aman.

Michelle Cantrell, konselor klinis profesional berlisensi sekaligus pendiri Center for Growth and Connection, menyebut bahwa respons emosional semacam ini beresonansi dengan kebutuhan terdalam yang tersusun dalam pola kelekatan. Ia menuturkan, “Kisah cinta tragis beresonansi karena mencerminkan kebenaran tentang kelekatan manusia. Cinta dan kerentanan tidak bisa dipisahkan,” melansir Real Simple, Senin (6/7/2026).

Dengan kata lain, yang dipeluk penonton bukan hanya alur cerita, melainkan pengalaman emosional yang dianggap “bermakna” untuk diri mereka. Kerentanan yang tampil dalam narasi tragis membuat hubungan yang rumit terasa lebih bisa dipahami, sekaligus lebih dekat dengan kenyataan psikologis yang pernah dirasakan.

Gaya kelekatan: mengapa romansa tragis terasa familiar

Lauren Dummit, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi sekaligus seksolog klinis, melihat daya tarik romansa pilu sebagai cerminan pola kelekatan masing-masing individu. Menurutnya, tiap gaya kelekatan memiliki cara berbeda dalam merespons tema kerinduan, kehilangan, dan ketidakpastian yang mengiringi kisah-kisah tragis.

Bagi individu dengan gaya kelekatan anxious, cinta sering kali terasa mendesak sekaligus rapuh. Dummit menyatakan, “Kisah cinta tragis sering kali sangat dekat dengan gaya kelekatan ini karena berpusat pada tema kerinduan, emosi yang naik turun, dan ketakutan kehilangan seseorang yang penting,” ujar dia.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa kerinduan yang dibangun dalam narasi romansa tragis bisa terasa tidak asing. “Kerinduan yang digambarkan dalam kisah romansa tragis bisa terasa familier, bahkan memvalidasi perasaan,” tambah Dummit.

Pada titik ini, sedih yang muncul bukan sekadar emosi yang lewat, melainkan pengakuan batin bahwa perasaan tertentu memang pernah hidup dalam diri penonton. Narasi tragis menjadi semacam bahasa yang mewadahi kerentanan yang sulit diucapkan dalam kehidupan nyata.

Berbeda dengan anxious, pemilik gaya kelekatan avoidant cenderung menjaga kemandirian. Bagi kelompok ini, keintiman kadang dipersepsikan sebagai sesuatu yang berlebihan, sehingga muncul kecenderungan untuk menjauh ketika kedekatan terasa terlalu intens.

Namu, Dummit menjelaskan ada alasan mengapa mereka tetap tertarik pada romansa pilu. “Menonton cerita tentang cinta dan kehilangan yang mendalam memungkinkan individu dengan kelekatan avoidant untuk terlibat secara emosional, tapi tanpa kerentanan seperti dalam hubungan nyata,” papar Dummit.

Artinya, fiksi memberi jarak yang aman. Emosi bisa hadir, tetapi penonton tidak harus menanggung konsekuensi langsung yang biasanya melekat pada hubungan nyata, termasuk kerentanan yang menuntut respons dan keterikatan mendalam.

Sementara itu, individu dengan gaya kelekatan disorganized acap kali berada dalam kebingungan. Mereka dapat mendambakan kedekatan, namun pada saat yang sama takut pada keintiman itu sendiri, sehingga respons emosinya sering terasa bertabrakan.

Dalam konteks tersebut, kisah cinta tragis yang memuat konflik emosional, pengkhianatan, atau trauma dapat terasa sangat relevan. Dummit mengatakan, “Kisah cinta tragis yang mengeksplorasi tema konflik emosional, pengkhianatan, atau trauma, mungkin sangat beresonansi dengan pola kelekatan ini,” kata dia.

Ketika narasi menampilkan pergulatan batin yang serupa, penonton seolah menemukan cermin yang menjelaskan mengapa kedekatan bisa menjadi sumber rindu sekaligus ancaman.

Adapun bagi individu dengan gaya kelekatan secure, keseimbangan antara kemandirian dan kedekatan cenderung lebih stabil. Dummit menilai audiens ini bisa melihat tayangan sedih sebagai gambaran kompleksitas sebuah hubungan, bukan sekadar rangkaian peristiwa yang tragis.

“Audiens ini sering kali mengapresiasi narasi yang menggambarkan pengabdian, ketahanan, dan pertumbuhan emosional ketimbang sekadar intensitas romantis,” terang Dummit.

Alih-alih hanya terikat pada intensitas perasaan, mereka memandang perjalanan emosional sebagai bagian dari proses yang lebih luas. Di sinilah tragedi menjadi medium untuk membaca makna relasi secara lebih dewasa: bagaimana seseorang bertahan, mengelola emosi, dan bergerak menuju pemahaman yang lebih utuh.

Ruang aman untuk menjelajahi emosi

Di luar perbedaan gaya kelekatan, ada satu elemen yang sama: cerita sedih kerap memicu refleksi. Penonton tidak hanya mengikuti adegan, tetapi juga meninjau kembali pola hubungan masa lalu dalam kepala mereka sendiri.

Alur cerita fiktif sering berperan seperti cermin. Ia menghadirkan situasi yang mungkin pernah dialami, lalu memberi kesempatan untuk melihatnya dari sudut pandang baru tanpa harus mengulang pengalaman yang sama secara langsung.

Karena itu, sensasi sedih yang ditinggalkan tidak serta-merta dipandang sebagai sesuatu yang ingin dihindari. Banyak orang justru mencari pengalaman emosional yang “melengkapi” pemahaman mereka tentang cinta, kedekatan, dan rasa aman.

Pada akhirnya, ketertarikan pada romansa pilu dapat dipahami sebagai kebutuhan batin untuk merasakan—sekaligus menafsirkan—kerentanan dalam bentuk yang terkontrol. Fiksi memungkinkan emosi mengalir, namun tetap memberi ruang bagi penonton untuk berjarak, memaknai, dan melanjutkan hidup setelah kisah itu selesai.