Peristiwa

Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Bandara Wunopito Lewoleba Berlaku Penutupan Sementara

×

Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Bandara Wunopito Lewoleba Berlaku Penutupan Sementara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: rupsi Gunung Ile Lewotolok, Bandara Wunopito Lewoleba Ditutup Sementara

jurnalistik.co.id – Bandar Udara Wunopito Lewoleba di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditutup sementara pada Selasa (11/8/2026). Penutupan ini dilakukan menyusul dampak sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Ile Lewotolok.

Penutupan sementara tersebut dibenarkan oleh Kepala Bandara Wunopito, Sudarmana. Ia mengatakan abu vulkanik memengaruhi operasional penerbangan di bandara setempat.

“Hari ini ditutup sementara karena abu vulkanik Gunung Ile Lewotolok,” ujar Sudarmana saat dihubungi, Selasa.

Dampak penutupan berdiri pada pembatalan penerbangan. Salah satunya, Wings Air untuk rute Kupang–Lewoleba dan sebaliknya terpaksa dibatalkan pada hari itu.

Dalam keterangannya, Sudarmana menyampaikan bahwa langkah yang diambil bandara menyesuaikan perkembangan kondisi aktivitas Gunung Ile Lewotolok. Artinya, keputusan operasional tidak bersifat permanen melainkan mengikuti perubahan di lapangan.

“Penutupan sementara sampai hari ini, tapi tergantung dari kondisi Gunung Ile Lewotolok,” katanya.

Erupsi Gunung Ile Lewotolok dilaporkan terjadi pada Selasa sekitar pukul 07.11 Wita. Gunung api bertipe strato itu memuntahkan kolom abu setinggi sekitar 500 meter di atas puncak.

Ketinggian puncak Gunung Ile Lewotolok mencapai sekitar 1.423 meter di atas permukaan laut. Dengan kondisi tersebut, sebaran abu yang muncul dari aktivitas erupsi berpotensi mengganggu jarak pandang dan keselamatan penerbangan.

Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Pengamatan juga menyebutkan kolom abu condong ke arah tenggara.

Berdasarkan pemantauan seismik, erupsi terekam pada seismogram. Amplitudo maksimum yang tercatat sekitar 40 milimeter dengan durasi sekitar 1 menit 11 detik.

Selain rekaman aktivitas melalui seismograf, peristiwa erupsi juga disertai suara gemuruh. Intensitas suara gemuruh dilaporkan berada pada kategori sedang.

Dengan adanya kondisi tersebut, pengelolaan aktivitas penerbangan di Bandara Wunopito Lewoleba diarahkan untuk mengurangi risiko akibat abu vulkanik. Penutupan sementara menjadi langkah awal sambil menunggu perkembangan aktivitas gunung api.

Ke depan, operasional bandara akan mempertimbangkan perubahan kondisi yang terjadi di Gunung Ile Lewotolok. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sudarmana bahwa penutupan sementara hingga hari itu bersifat kondisional.

“Penutupan sementara sampai hari ini, tapi tergantung dari kondisi Gunung Ile Lewotolok,” ujar Sudarmana kembali menegaskan batas waktu yang masih bergantung pada evaluasi lanjutan.

Bila sebaran abu berkurang dan kondisi dinilai memungkinkan, penerbangan dapat kembali diatur sesuai prosedur keselamatan. Namun untuk saat ini, pembatalan penerbangan menjadi konsekuensi langsung dari keberadaan abu vulkanik di sekitar wilayah bandara.

Penutupan sementara ini juga menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan ketika gunung api berstatus aktif. Sebab, perubahan kecil dalam intensitas erupsi dapat berpengaruh pada jarak pandang dan kondisi lingkungan yang dibutuhkan pesawat selama proses lepas landas maupun pendaratan.

Seiring evaluasi berjalan, penyesuaian operasional bandara diharapkan tetap mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Ile Lewotolok. Warga yang hendak melakukan perjalanan udara diminta mengikuti perkembangan pengumuman dari pihak bandara.

Untuk penerbangan yang terkena dampak, jadwal dan rute dapat menunggu pembaruan setelah kondisi dinyatakan aman. Pada Selasa (11/8/2026), rute Kupang–Lewoleba dan sebaliknya menjadi contoh pembatalan yang terjadi akibat penutupan bandara.

Otoritas setempat menilai sebaran abu vulkanik berpotensi mengganggu kondisi lingkungan di sekitar bandara. Karena itu, keputusan operasional diarahkan untuk menekan risiko selama pesawat melakukan proses lepas landas dan pendaratan. Meski penutupan dilakukan sementara, pihak bandara menempatkannya sebagai bagian dari langkah pengamanan yang mengikuti pembacaan kondisi di lokasi.

Menurut laporan aktivitas gunung, erupsi Gunung Ile Lewotolok terjadi pada Selasa sekitar pukul 07.11 Wita. Kolom abu yang dimuntahkan dilaporkan mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, dengan ketinggian puncak sekitar 1.423 meter di atas permukaan laut. Pengamatan juga mencatat warna kolom abu putih hingga kelabu serta kecenderungan condong ke arah tenggara, yang selanjutnya ikut memengaruhi area terdampak penerbangan.

Dalam situasi seperti ini, pihak bandara dan operator penerbangan perlu melakukan penyesuaian cepat terhadap jadwal yang terdampak. Pembatalan yang sudah terjadi menjadi indikasi langsung dari perubahan kondisi penerbangan akibat abu vulkanik. Selanjutnya, perjalanan udara dapat kembali mengikuti pengaturan setelah evaluasi menyatakan keadaan aman, sementara calon penumpang diminta tetap mengikuti pengumuman resmi dari bandara.