jurnalistik.co.id – Letusan gunung Anak Krakatau di Indonesia membuat ratusan ribu penumpang tertahan, menyusul keputusan otoritas memperpanjang penutupan bandara akibat abu vulkanik. Dampaknya, lebih dari 2.000 penerbangan dibatalkan atau tertunda, sehingga banyak penumpang tidak bisa terbang pada hari kedua.
Pelaksanaannya dimulai setelah Anak Krakatau, yang berada sekitar 150 km dari Jakarta, mulai erupsi pada Jumat malam. Gunung tersebut melontarkan air mancur lava dan menyelimuti wilayah ibu kota serta Provinsi Lampung dengan abu vulkanik.
Kondisi kegempaan gunung dilaporkan tetap aktif sepanjang akhir pekan. Pemerintah kemudian memperpanjang penutupan operasional sejumlah bandara hingga Senin pukul 18:00 waktu setempat setelah abu vulkanik terdeteksi di ruang udara di sekitar lokasi bandara tersebut.
Penutupan operasional diperpanjang, penerbangan terdampak
Otoritas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, serta tiga bandara lainnya, memutuskan untuk melanjutkan penutupan hingga Senin petang. Penyesuaian ini dilakukan setelah deteksi abu vulkanik pada rute penerbangan di area sekitar bandara.
Di tengah situasi itu, aktivitas belajar di wilayah terdampak juga dialihkan menjadi pembelajaran daring. Sementara itu, beberapa operasi pelayaran dilaporkan turut mengalami gangguan akibat situasi lingkungan di sekitar perairan.
Pada Senin, antrean panjang terbentuk di ruang keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Para penumpang yang terdampar berupaya mendapatkan pengembalian dana dan mencari informasi terbaru mengenai kapan penerbangan dapat kembali beroperasi.
Sejumlah penumpang menyatakan kekecewaan karena rencana perjalanan mereka mundur lebih lama dari yang diperkirakan. Amir Hamzah, 29 tahun, yang baru menghabiskan satu pekan di Bali bersama pasangan yang baru menikah, mengatakan kepada Bernama bahwa ia diberi tahu penerbangan berikutnya menuju Kuala Lumpur tidak akan tersedia hingga 11 September.
“What are we going to do here for another five days? We only prepared enough money for our honeymoon and [were supposed] to go home yesterday,” kata Amir Hamzah. Ia juga menambahkan, “We thought we would just sleep at the airport for a few hours and then take the morning flight home [on Monday]. We never thought we would end up being stuck here for days,”
Pengalihan jadwal juga dialami Suhardi, 58 tahun, yang rencananya bepergian dari Jakarta ke Lampung untuk urusan pekerjaan. Ia menyampaikan bahwa situasi ini tidak bisa dikendalikan dan harus diterima, sembari menunggu pembaruan dari maskapai. “This is nature, after all. So I have to accept it, because when it comes to nature, there’s no choice. Now I’m just waiting for the next update from the airline,” ujarnya.
Ancaman erupsi susulan dan peringatan keselamatan
Pada Senin, Badan Geologi Indonesia memperingatkan bahwa peluang erupsi lanjutan pada periode berikutnya masih tinggi. Penilaian tersebut muncul setelah aktivitas vulkanik yang terus berlangsung dan menandai adanya potensi perubahan dalam kondisi atmosfer.
Berita Terkait
Menurut BMKG, abu vulkanik sempat menjangkau ketinggian hingga 6.000 meter di sisi Jawa dan 15.000 meter di sisi Sumatra. Di beberapa bagian Provinsi Banten, yang berada di sisi barat paling jauh dari Jawa, dampaknya juga dilaporkan dapat terdeteksi.
Anak Krakatau berada di Selat Sunda, kira-kira di tengah jarak antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Badan terkait mencatat erupsi paling baru terjadi pada pukul 20:23 pada Minggu.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pihaknya tidak dapat memastikan kapan kondisi ini akan berakhir. “We cannot ascertain when this ‌will end due to the dynamic weather,” ujarnya, terkait penutupan sementara bandara yang terdampak.
Dudy juga menjelaskan bahwa otoritas melakukan pengujian setiap 30 menit. Pemeriksaan itu ditujukan untuk mengantisipasi apakah sebaran abu vulkanik melebar atau justru mereda, sehingga keputusan operasional bandara dapat disesuaikan dengan perkembangan lapangan.
Selain itu, otoritas mengingatkan agar masyarakat tidak mendekati atau melakukan aktivitas di radius 3 km dari kawah aktif. Untuk aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda, juga diberlakukan larangan memasuki zona pengecualian dengan radius 3 km dari kawah.
Dalam keterangan yang beredar, otoritas juga menegaskan tidak ada peringatan tsunami yang terkait dengan aktivitas terbaru gunung tersebut.
Riwayat aktivitas Anak Krakatau
Anak Krakatau, yang berarti “Child of Krakatoa”, telah menunjukkan aktivitas sporadis sejak muncul dari laut pada awal abad lalu. Gunung ini terbentuk di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan Krakatoa pada 1883.
Pada Desember 2018, gunung tersebut mengalami runtuh yang memicu tsunami besar. Tsunami itu dilaporkan menewaskan lebih dari 400 orang, serta menyebabkan perpindahan penduduk dan ribuan orang terluka di wilayah pesisir sekitar Sumatra dan Jawa.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa sebagian bongkahan batu yang tergelincir saat runtuh memiliki ketinggian sekitar 70–90 meter.
Secara lebih luas, wilayah Pasifik dikenal sebagai sabuk “Pacific Ring of Fire”, yakni rangkaian gunung api, pusat gempa, dan lempeng tektonik di sekeliling Samudra Pasifik. Wilayah ini membentang sejauh 40.000 km, dari ujung selatan Amerika Selatan hingga Selandia Baru.
Data yang disampaikan dalam laporan menyebutkan sekitar 90% gempa terjadi di area tersebut. Selain itu, sabuk ini juga memuat sekitar 75% gunung api aktif di Bumi, yang merujuk pada 452 gunung api aktif.
Dengan status yang masih aktif dan potensi erupsi susulan yang dianggap tinggi, keputusan penutupan bandara dan langkah pencegahan akan terus mengikuti perkembangan abu vulkanik serta hasil pemantauan rutin di lapangan.












