Olahraga

Vasseur: Christian Horner yang “mencari pekerjaan” dinilai jadi gangguan bagi Ferrari

×

Vasseur: Christian Horner yang “mencari pekerjaan” dinilai jadi gangguan bagi Ferrari

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Formula 1: Ferrari's Frederic Vasseur says Christian Horner is proving a distraction

jurnalistik.co.id – Selepas Grand Prix Azerbaijan, Frederic Vasseur menyampaikan bahwa situasi di sekeliling Christian Horner dinilai mengganggu konsentrasi tim Ferrari. Menurutnya, percakapan di sekitar Horner telah menyita porsi besar perhatian.

Horner sendiri diberitakan “mencari pekerjaan” setelah statusnya sebagai team principal Red Bull berakhir pada Juli 2025. Dalam wawancara bersama The Times pekan ini, Horner mengatakan Ferrari adalah satu-satunya tim Formula 1 yang ia mau kerjakan tanpa syarat kepemilikan saham, dan menyebutnya sebagai “the dream”.

Vasseur menilai pernyataan itu berimbas ke fokus Ferrari saat musim berjalan. Ia menyebut tim tidak berada dalam kondisi “perfect serenity”, baik bagi internal tim maupun untuk media yang terus menanyakan hal tersebut.

“We are not working in the perfect serenity. “For me, first, but for everybody in the team, for the media, for 50% of the questions [to be] about this, it’s a bit of a frustrating situation,” ujar Vasseur. Ia menambahkan bahwa Ferrari sedang berupaya mengejar posisi di klasemen.

Menurut Vasseur, saat tim sedang berjuang untuk P3, topik yang berkembang justru makin sering menjadi bahan diskusi. Ia juga menilai bahkan di garasi, pembahasan yang sama menjadi “the best discussion that we can have”, meski sebenarnya itu bukan arah perhatian yang ideal.

“We are fighting for P3 [third place] in the championship, and at the end of the day, we are all speaking a lot about this, and even for the guys in the garage, to discuss about this, it’s the best discussion that we can have,” kata Vasseur.

Vasseur kemudian menegaskan bahwa persoalan itu berada di luar kendalinya. Ia menyatakan semua orang mengetahui bahwa Horner “mencari pekerjaan”, lalu menekankan fokus yang masih bisa dikejar Ferrari lewat kerja dan motivasi tim.

“But it is what it is, it’s not in my hands. Mr Horner is looking for a job – that everybody knows – everywhere. But what can I do? Just try to do my best to push the team, to rise them to be motivated, focus on what is better today.”

Ketika ditanya apakah ia bercanda saat menilai Horner sebagai gangguan, Vasseur menjawab tegas. “I was very serious.”

Dalam pertanyaan lanjutan apakah ia bersedia bekerja bersama Horner, Vasseur juga tidak menutup kemungkinan, tetapi mengarahkan jawabannya pada pihak asistennya. “This you have to ask my assistant.” Pernyataan itu disebut merujuk pada situasi yang menyertai kepergian Horner dari Red Bull pada Juli 2025.

Pemberitaan menyebut Horner dituduh melakukan pelecehan seksual dan perilaku yang dinilai bersifat memaksa serta mengendalikan seorang karyawan perempuan. Tuduhan itu menjadi publik pada Februari 2024, namun Red Bull menolak tuduhan tersebut setelah dua investigasi internal.

Horner kemudian diberhentikan dari peran sebagai chief executive officer dan team principal Red Bull setelah British Grand Prix 2025. Keputusan itu disebut disertai dinamika panjang selama 18 bulan, ketika sejumlah figur senior meninggalkan tim, termasuk Adrian Newey, serta performa yang mengalami kemerosotan.

Hingga saat ini, Red Bull tidak memberikan penjelasan publik rinci terkait pemecatan Horner. Dua pihak dilaporkan menyepakati penyelesaian, dengan nilai yang disebut sumber mencapai 60 juta euro (£51.5 juta).

Persaingan Ferrari: dari polemik Horner hingga masalah performa mesin

Ferrari memasuki musim dengan harapan menjadi penantang gelar, menyusul penerapan regulasi baru pada sasis dan mesin di Formula 1. Di awal musim, mobil mereka disebut mampu tampil baik di tikungan, namun performa mesin dinilai belum mampu menyamai kecepatan yang dimiliki Mercedes dan Red Bull.

Dalam konteks balapan di Baku, kekurangan tenaga itu terlihat pada lintasan lurus panjang. Setelah Charles Leclerc finis dengan catatan yang tidak sesuai harapan di balapan tersebut—ia tergelincir kembali dalam race setelah mencatat posisi kualifikasi kedua—Ferrari juga menempatkan Lewis Hamilton di posisi keenam.

Vasseur menggambarkan dampak masalah mesin secara langsung ke strategi balapan. Ia mengatakan bahwa situasi tenaga membuat Ferrari kehilangan posisi di setiap putaran, lalu mengubah arah jalannya lomba.

“With the situation that we are in the engine, we are losing one position per lap, and then we lose the path of the race.”

Ia menyebut bahwa pada hari balapan tersebut tim sempat terkejut bisa berada di barisan depan. “Honestly we were surprised to be in the first row, because Baku is the most demanding in terms of engine, and was not expecting to do so.”

Meski begitu, Vasseur menilai mereka sudah mengantisipasi kesulitan di tahap awal, termasuk skenario ketika balapan harus restart setelah safety car. “But we knew even starting from the first row that the opening laps, or in case of restarting safety car and so, it would be difficult. And it was.”

Menjelang sisa musim, Vasseur juga menyampaikan komitmennya terhadap perannya di Ferrari. Ia menekankan bahwa motorsport adalah pekerjaannya dan ia akan terus mendorong tim hingga balapan terakhir yang tinggal.

“Motorsport is my life, it’s my business. I’m trying to do my best. I’m there to do my job. I have the best job in the world, heh. But, it is like it is. We have still seven races to go, and I will push until the last corner.”

Ferrari sendiri terakhir kali menjuarai kejuaraan dunia pada 2008, dan sejak itu mereka jarang memiliki paket mobil yang benar-benar mampu bersaing secara penuh. Sementara itu, di sisi Horner, ia menyatakan dalam wawancaranya bahwa Ferrari adalah “the dream” bagi dirinya.

Horner juga menyebut Ferrari sebagai merek terbesar di Formula 1, menggambarkannya sebagai “the sleeping giant of Formula 1”. Bagi Vasseur, namun, narasi tersebut justru berdampak pada fokus tim ketika Ferrari sedang berusaha mengamankan posisi penting di klasemen.