jurnalistik.co.id – Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali memicu gangguan perjalanan udara di kawasan Jakarta–Singapura. Abu vulkanik menyebabkan rencana terbang berantakan dan membuat 301 penerbangan RI–Singapura terdampak di Bandara Soekarno-Hatta serta Bandara Changi.
Gangguan terjadi sebagai efek langsung aktivitas vulkanik yang menghasilkan abu. Di kedua bandara, dampaknya mencakup pembatalan, penundaan, hingga pengalihan rute penerbangan.
Merujuk data penerbangan pada Minggu (6/9/2026) pukul 01.30–13.30, Bandara Soekarno-Hatta mencatat 233 penerbangan domestik yang terdampak. Di sisi lain, terdapat 58 penerbangan internasional dan 10 penerbangan kargo yang ikut terkena imbas.
Komposisi gangguan itu memperlihatkan bahwa dampak erupsi tidak hanya menyentuh penerbangan jarak dekat. Aktivitas logistik dan konektivitas lintas negara pun ikut terganggu dalam rentang waktu yang padat.
Di Singapura, Bandara Changi melaporkan sedikitnya 19 penerbangan Singapore Airlines (SIA) dibatalkan. Kondisi ini membuat sejumlah penumpang baru mengetahui pembatalan setelah mereka tiba di bandara.
Akibatnya, rencana semula yang sudah tersusun mengalami perubahan mendadak. Penumpang harus menyesuaikan agenda setelah informasi pembatalan tidak didapat sejak awal keberangkatan.
Salah satu penumpang yang merasakan dampak tersebut adalah Catrine Carina, 31 tahun, yang sedang hamil tujuh bulan dan hendak kembali ke Indonesia untuk melahirkan. Ia mengaku awalnya tidak mengetahui penerbangannya telah dibatalkan.
“Kami tadinya berpikir penerbangan dua jam seharusnya aman-aman saja bagi saya, tapi tiba-tiba hal ini terjadi,” ujarnya, dikutip Channel News Asia (CNA), Senin (7/9/2026).
Pengalaman Catrine menegaskan bahwa gangguan akibat abu tidak selalu memberi ruang bagi penumpang untuk mempersiapkan alternatif sejak jauh hari. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk melanjutkan perjalanan menjadi semakin sulit.
Penumpang lain juga menghadapi ketidakselarasan informasi dari sistem maskapai. Tina Seng, 47 tahun, menyatakan ia menerima pesan pembatalan penerbangan, tetapi aplikasi SIA masih menampilkan status “dikonfirmasi”.
“Kami masih mempertimbangkan apakah akan melanjutkan perjalanan, karena kami tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi,” katanya.
Berita Terkait
Kesenjangan antara pesan pembatalan dan tampilan aplikasi memunculkan ketidakpastian yang memengaruhi pengambilan keputusan. Penumpang terpaksa menunggu perkembangan sambil menimbang kemungkinan perubahan mendadak.
Ketidakpastian juga dirasakan oleh Muhammad Akbar, pengusaha asal Tanzania, ketika ia sudah berada di tahap akhir perjalanan. Ia mengetahui penerbangannya ke Bangkok dibatalkan setelah melewati imigrasi dan berada di gerbang keberangkatan.
“Saya sudah mendapatkan boarding pass. Saya sudah melewati pemeriksaan imigrasi. Saya bahkan sudah berada di gerbang keberangkatan, lalu mereka memberi tahu kami bahwa penerbangan dibatalkan dan kami diminta untuk keluar kembali,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti ini, proses yang telah dijalani penumpang sebelumnya tidak otomatis menjamin keberangkatan berjalan. Setelah informasi pembatalan datang, penumpang harus segera mengikuti instruksi untuk kembali dan menata rute yang baru.
Di terminal Bandara Soekarno-Hatta, antrean panjang dilaporkan mengular. Banyak penumpang mencoba mendapatkan penerbangan pengganti, mengurus pengembalian dana, atau mencari rute alternatif agar tetap bisa sampai ke tujuan.
Namun, tidak semua penumpang langsung memperoleh kejelasan. Sebagian lainnya terpaksa menunggu berjam-jam tanpa kepastian yang memadai untuk menentukan langkah berikutnya.
Gangguan operasional di Bandara Soekarno-Hatta semula berlaku hingga pukul 05.30 WIB. Namun, penutupan kemudian diperpanjang beberapa kali karena masih adanya abu vulkanik.
Perpanjangan durasi penutupan memperlihatkan bahwa evaluasi keselamatan penerbangan menjadi faktor penentu yang berubah mengikuti kondisi. Saat jadwal terus menyesuaikan, penumpang juga ikut terdampak pada penjadwalan ulang yang berlapis.
Setelah itu, operasional dijadwalkan kembali pada pukul 22.30 waktu Singapura. Walau jadwal pembukaan kemudian ditentukan, dampak erupsi terlanjur membuat penumpang harus mengatur ulang jadwal penerbangan, akomodasi, hingga agenda pekerjaan dan keluarga.
Bagi banyak orang, perubahan jadwal penerbangan tidak berdiri sendiri. Penundaan dan pembatalan turut mengganggu rencana sehari-hari, termasuk kebutuhan logistik di tempat tujuan serta komitmen yang sudah dijadwalkan.
Secara keseluruhan, rangkaian pembatalan dan penundaan di dua bandara menunjukkan bahwa erupsi Anak Krakatau menimbulkan efek yang melebar dari sisi keselamatan penerbangan menjadi gangguan mobilitas lintas negara. Dengan 301 penerbangan terdampak dalam periode pengamatan tersebut, keterhubungan RI–Singapura ikut mengalami tekanan akibat abu vulkanik.












