jurnalistik.co.id – Berau, Kalimantan Timur, berada di bawah tekanan karhutla yang makin mendekati kawasan penting bagi perlindungan orangutan. Kebakaran hutan dan lahan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan itu sudah terpantau sejak 8 Agustus 2026.
Dalam perkembangan terbaru, api tidak lagi menjadi ancaman jauh dari pusat rehabilitasi. Pada 20 Agustus 2026, jarak titik kebakaran dengan kandang orangutan di pusat rehabilitasi tercatat sekitar 500 meter.
Tak hanya menyisakan panas di sekitar lokasi, abu dari kebakaran juga terbawa angin sampai masuk ke area kandang salah satu orangutan bernama Ambon. Kondisi hewan tersebut kemudian menjadi perhatian langsung pengelola pusat rehabilitasi.
Direktur Centre for Orangutan Protection (COP) Daniek Hendarto menyampaikan bahwa hingga Sabtu (22/8/2026), Ambon masih dalam keadaan baik. Ia menjelaskan bahwa meski situasi terkendali, pihak COP sudah menyiapkan langkah evakuasi bila api terus mengarah ke lokasi kandang.
“Dua hari yang lalu itu cuma 550 meter dari camp pusat rehab kami di KHDTK Labanan . Abu yang terbang sudah sampai kandang orangutan yang bernama Ambon,” kata Daniek saat dikonfirmasi, Sabtu.
Daniek menegaskan bahwa kondisi di sekitar pusat rehabilitasi pada saat itu masih tergolong kondusif. Namun, tim tetap bekerja dengan skenario terburuk karena di area belakang lokasi pusat rehabilitasi masih terdapat titik api yang aktif.
Ia menambahkan, COP menyiapkan rencana evakuasi Ambon ke lokasi BORA di Kampung Tasuk, Berau. Dengan rencana tersebut, pengelola berusaha memperkecil risiko bila kebakaran berubah intensitas atau jaraknya makin dekat.
“Sejauh ini, hingga sekarang, Ambon masih baik-baik saja dan lokasi masih terjaga,” ujarnya.
Berita Terkait
Di lapangan, pemantauan dan pemadaman dilakukan secara berkelanjutan untuk mencegah api meluas. Tim COP bersama Manggala Agni dan BP2SDM terus melakukan pengawasan sambil mengupayakan pemadaman agar kawasan rehabilitasi tetap berada dalam batas aman.
Daniek menjelaskan bahwa proses pemadaman karhutla bukan pekerjaan sederhana. Ia menekankan pentingnya pengelolaan lahan tanpa pembakaran agar tidak memunculkan sumber api baru yang memperbesar kerusakan ekosistem.
“Karena memang pemadaman ini bukan pekerjaan yang mudah, sehingga apa pun caranya pengelolaan lahan tidak perlu dilakukan lagi dengan pembakaran lahan,” katanya.
Dari sisi penilaian dampak, pendiri COP Hardi Baktiantoro memandang karhutla sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem. Menurutnya, kerugian yang ditimbulkan tidak berhenti pada ukuran lahan yang terbakar.
Ia mengingatkan bahwa kebakaran juga mengganggu habitat dan kehidupan satwa di dalam hutan. Dalam konteks rehabilitasi, ancaman itu menjadi lebih nyata karena hewan yang dirawat berada di lokasi yang harus dijaga kestabilannya.
Saat kondisi di KHDTK Labanan terus dipantau, muncul pula titik api baru di sekitar area yang berada di belakang pusat rehabilitasi. Perkembangan ini membuat tim perlu mempertahankan kewaspadaan sekaligus memastikan langkah proteksi berjalan cepat bila diperlukan.
Dengan api yang sudah berada pada jarak dekat, fokus pengelola bukan hanya memadamkan kebakaran, melainkan juga menjaga keselamatan individu orangutan yang berada di kandang. Hingga Sabtu (22/8/2026), Ambon masih terpantau baik, sementara rencana evakuasi tetap disiapkan sebagai bagian dari respons atas risiko yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Situasi tersebut menggambarkan betapa karhutla dapat berdampak langsung pada upaya konservasi dan pemulihan satwa. Di tengah kondisi hutan yang terus menghadapi ancaman, kerja pemantauan dan pemadaman menjadi penentu agar ekosistem yang tersisa tetap memiliki kesempatan pulih.












