jurnalistik.co.id – PEKANBARU, kabut asap mulai tampak di sejumlah wilayah Riau pada Rabu (12/8/2026). Dari pantauan di area Pekanbaru, asap terlihat menyelimuti permukiman warga, meski pada awalnya masih berstatus tipis.
Di langit dan ruas jalan, bayangan gedung-gedung perkotaan tampak samar. Pengamatan juga menunjukkan jarak pandang mendatar berada di kisaran 2 sampai 3 kilometer.
Aktivitas warga di luar ruang turut menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Sejumlah pengendara di jalan raya terlihat sudah memakai masker untuk mengurangi paparan asap.
Indra (38), warga asal Kabupaten Kampar, mengaku sudah merasakan dampaknya sejak beberapa hari terakhir. Ia menyebut, saat berangkat kerja ke Pekanbaru kabut asap disertai bau yang cukup menyengat.
“Sudah tiga hari ini pas berangkat kerja ke Pekanbaru, terasa asapnya bau menyengat,” kata Indra ketika ditemui Kompas.com pada Rabu.
Untuk mengantisipasi kondisi di jalan, Indra memilih menggunakan masker saat berkendara. Ia mengatakan, hingga saat ini belum merasakan keluhan sesak, namun bau sisa terbakar tetap terasa.
Menurutnya, jarak pandang sekitar 2 kilometer dan situasi bisa berubah seiring waktu. “Kalau sesak belum ada. Cuma terasa bau sisa terbakar gitu. Kalau jarak pandang sekitar 2 kilometer. Tapi kalau sudah siang asapnya berkurang,” ujarnya.
Selain Indra, Irwan (32) warga Pekanbaru juga melihat asap mulai memasuki wilayahnya. Ia mengatakan asap sudah terlihat dalam beberapa hari terakhir, dan pada pagi hari tingkatnya sempat lebih tebal.
Irwan menuturkan pada pagi hari, asap terasa cukup pekat. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan dampak kebakaran lahan di sekitar wilayah.
“Iya nih, sudah mulai berasap dalam beberapa hari ini. Tadi pagi cukup pekat asapnya. Mungkin ini asap karena kebakaran lahan,” kata Irwan.
Meski begitu, Irwan menyampaikan dirinya belum merasakan dampak yang signifikan. Ia mengaku masih khawatir apabila kondisi berlanjut dalam durasi yang lebih panjang.
Berita Terkait
“Belum ada terasa dampaknya. Tapi kalau lama-lama menghirup asap ini jadi khawatir juga,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Warjono menyampaikan bahwa pihaknya mendeteksi adanya udara bercampur asap. Ia menyebut kondisi tersebut teridentifikasi sebagai haze atau kekaburan udara.
“Ya, kita mendeteksi ada asap yang bercampur haze (kekaburan udara),” kata Warjono saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp pada Rabu.
Warjono menjelaskan, asap yang teramati di Riau bisa berasal dari karhutla di daerah lain. Ia menambahkan, meski demikian, di wilayah Riau sendiri masih terpantau titik panas.
Menurutnya, asap dapat pula berasal dari Jambi atau Sumatera Selatan. Di sisi lain, ia menyebut adanya hotspot di Kabupaten Indragiri Hulu.
“Bisa juga dari Jambi atau Sumsel. Tapi, ada terdeteksi hotspot (titik panas) di Kabupaten Indragiri Hulu,” ujar Warjono.
Dalam sepekan terakhir, beberapa daerah di Riau dilaporkan mengalami karhutla. Wilayah yang disebut terdampak meliputi Indragiri Hulu, Rokan Hilir, Bengkalis, dan Kampar.
Salah satu kebakaran terbesar berada di Indragiri Hulu. Lahan yang terbakar merupakan gambut, yang menghasilkan asap ketika mengalami kebakaran.
Dengan kondisi itu, kabut asap yang mulai menyelimuti Pekanbaru menjadi bagian dari gambaran cuaca bercampur haze akibat kebakaran hutan dan lahan. Warga pun terlihat berupaya menyesuaikan aktivitas, terutama ketika jarak pandang menurun dan asap tampak lebih tebal pada pagi hari.
Kondisi tersebut juga membuat aktivitas di luar rumah berlangsung lebih hati-hati, terutama saat pagi ketika asap terlihat lebih pekat. Sejumlah warga memilih lebih sering memantau perkembangan sebelum beraktivitas, mengingat ketebalan kabut berubah mengikuti waktu dan intensitasnya.
Di tengah kabut asap itu, jarak pandang mendatar yang sempat berada di kisaran beberapa kilometer membuat pandangan ke arah jalan dan area sekitar tampak tidak setajam hari normal. Warga yang melintas menilai perubahan paling terasa saat pagi, sedangkan memasuki siang kabut berangsur mereda sehingga suasana terasa sedikit lebih longgar untuk beraktivitas.
BMKG menilai pemantauan udara bercampur haze perlu terus dilakukan karena asap dapat terbentuk dari proses kebakaran lahan di berbagai wilayah. Warjono juga menegaskan bahwa selain berpotensi datang dari luar Riau, di daerah ini tetap terdeteksi hotspot, khususnya di Indragiri Hulu, yang menunjukkan adanya sumber asap yang dapat memperpanjang kemunculan kabut.












