Teknologi

BMKG Jelaskan Penyebab Hujan Es di Medan saat Musim Kemarau

×

BMKG Jelaskan Penyebab Hujan Es di Medan saat Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ungkap Asal Muasal Hujan Es Turun di Medan, Padahal Kemarau - Teknologi

jurnalistik.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan hujan es yang terjadi di Medan, Sumatra Utara, pada Kamis (24/9/2026). Fenomena itu muncul pada kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan berintensitas tinggi.

BMKG menyebut kejadian tersebut berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat kuat. Awan jenis ini dapat berkembang hingga ketinggian dengan kondisi suhu yang lebih rendah dibanding lapisan udara yang ada di permukaan.

Pelaksana Tugas Deputi Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, proses pembentukan hujan es bermula ketika butiran air di dalam awan Cumulonimbus terbawa oleh arus udara naik. Arus naik tersebut disebut updraft, yang mendorong partikel menuju lapisan atmosfer yang suhunya berada di bawah titik beku.

“Arus udara ini membawa uap air dan butiran air ke lapisan atmosfer yang suhunya berada di bawah titik beku,” kata Andri dalam penjelasannya pada Bloomberg Technoz , Jumat (25/9/2026).

Pada tahap selanjutnya, BMKG menjelaskan bahwa tidak semua butiran air langsung membeku begitu berada di bawah 0 derajat Celsius. Sebagian butiran air tetap bertahan dalam bentuk cair meski suhunya sudah berada pada kondisi di bawah titik beku.

Menurut BMKG, air dalam kondisi tetap cair di bawah 0 derajat Celsius ini disebut supercooled water. Kondisi tersebut membuat butiran air bersifat tidak stabil, sehingga mudah berubah menjadi es ketika bertemu pemicu pembekuan.

Andri menambahkan bahwa pembekuan akan terjadi ketika air superdingin tersebut mengalami pertumbuhan melalui proses tumbukan dengan kristal atau partikel es. Ketika bertumbukan, air akan membeku dan memicu proses yang memperbesar ukuran butiran es.

Dengan kata lain, tumbukan dengan kristal atau partikel es menjadi pemicu utama agar proses pembentukan dan pertumbuhan butiran es berlangsung. Setelah butiran es terbentuk dan membesar, material tersebut kemudian dapat jatuh ke permukaan sebagai hujan es.

BMKG juga menekankan adanya potensi kemunculan kembali hujan es dalam waktu dekat. Lembaga itu memperingatkan peluang kejadian serupa dapat terjadi dalam tiga hari ke depan setelah kejadian di Medan.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa kondisi atmosfer yang mendukung awan Cumulonimbus kuat belum tentu langsung hilang setelah satu kali kejadian. Selama pola cuaca masih memungkinkan updraft mengangkut uap air dan butiran air ke lapisan dengan suhu di bawah titik beku, proses yang sama berpotensi terulang.

Penjelasan BMKG ini memberi gambaran mengenai hubungan antara dinamika awan Cumulonimbus dan perubahan fase air di dalam atmosfer. Dari sisi mekanisme, kunci utamanya berada pada updraft yang mengangkat partikel, keberadaan lapisan bersuhu di bawah titik beku, serta peran kristal atau partikel es dalam memicu pembekuan.

Dengan memahami alur proses tersebut, masyarakat dapat menyikapi potensi cuaca ekstrem dengan lebih tepat. BMKG telah menginformasikan agar kejadian hujan es yang sempat terjadi di Medan tidak dianggap mustahil terulang, mengingat peringatan potensi kejadian kembali dalam tiga hari ke depan.

BMKG juga menggambarkan bahwa pertumbuhan awan berintensitas tinggi memberi ruang bagi butiran air untuk berpindah ke tingkat atmosfer yang temperaturnya berbeda dari lapisan dekat permukaan. Perubahan suhu vertikal ini menjadi bagian dari prasyarat agar proses pembekuan dapat terjadi di dalam awan.

Dalam penjelasan lanjutan, butiran yang sudah berada pada suhu di bawah titik beku tidak langsung berubah menjadi es. Ketika air tetap dalam fase sangat dingin, kondisi di dalam awan menjadi lebih mudah terganggu, sehingga butiran lebih cepat bertransformasi begitu ada partikel pemicu pembekuan.

Karena itu, lembaga meteorologi menilai peluang kemunculan hujan es dapat berulang selama kondisi atmosfer yang sama masih mendukung terbentuknya updraft dan mengalirkan uap air ke wilayah bersuhu rendah. Peringatan BMKG yang menempatkan potensi kejadian dalam tiga hari ke depan menjadi dasar agar masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi dari BMKG.