Peristiwa

Usai Gempa Magnitudo 7,7, Warga Reroroja Sikka Tetap Mengungsi ke Kebun

×

Usai Gempa Magnitudo 7,7, Warga Reroroja Sikka Tetap Mengungsi ke Kebun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Masih Trauma, Warga Reroroja Sikka Mengungsi ke Kebun Setelah Gempa M 7,7

jurnalistik.co.id – Warga Reroroja di Kabupaten Sikka, NTT, masih memilih bertahan di tempat pengungsian pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) pagi. Mereka mengaku trauma dan terus diliputi kekhawatiran akan terjadinya gempa susulan.

Gempa itu membuat warga Dusun Koro dan Dusun Magelo, Desa Reroroja, mengalami ketakutan yang belum benar-benar mereda. Sejumlah keluarga akhirnya memutuskan untuk tidak kembali sepenuhnya ke rumah masing-masing.

Kepala Desa Reroroja, Yosefina Ndena, mengatakan bahwa para warga sudah mengungsi sejak kejadian gempa. Menurutnya, kekhawatiran utama datang dari kemungkinan gempa susulan yang kembali mengguncang.

“Sejak kemarin warga sudah mengungsi. Mereka cemas terjadi gempa susulan,” ujar Yosefina saat dihubungi, Minggu (16/8/2026) malam. Pernyataan itu menggambarkan kondisi psikologis warga yang masih memegang rasa takut setelah guncangan pertama.

Untuk warga Dusun Magelo, Yosefina menyebut pilihan pengungsian dilakukan di lapangan. Sementara itu, warga Dusun Koro mengungsi ke sekolah, dan sebagian lagi memilih bertempat di kebun masing-masing.

“Mereka ada yang mengungsi ke kebun,” katanya. Dengan beragam titik pengungsian tersebut, pola bertahan warga tetap sama: menunggu situasi lebih aman sebelum kembali.

Di lokasi pengungsian, warga membangun tenda-tenda darurat secara swadaya. Mereka melengkapi kebutuhan dasar seadanya, termasuk perlengkapan tidur yang tersedia terbatas.

Yosefina menyampaikan bahwa warga sudah berada di pengungsian selama dua malam. Pada siang hari, sebagian warga pulang ke rumah masing-masing, namun pada malam hari mereka kembali ke tempat pengungsian karena masih dihantui rasa takut akan gempa susulan.

“Saat ini para pengungsi sangat membutuhkan bantuan, terutama terpal untuk alas tidur dan makanan,” katanya. Kebutuhan tersebut mencerminkan kondisi pengungsian yang berjalan sambil menyesuaikan keterbatasan logistik di lapangan.

Selain membantu kebutuhan sementara, pihak desa juga masih melakukan pendataan rumah yang terdampak gempa. Pendataan dilakukan untuk mengetahui dampak yang dialami warga dan memastikan informasi kerusakan tersusun dengan lebih rapi.

Gempa magnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah di NTT pada Sabtu pagi. BMKG Stasiun Geofisika Kupang menyebut sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di bagian utara Pulau Flores.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan bahwa aktivitas sesar serupa juga pernah berkaitan dengan gempa pada 1992. “Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 92. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief.

Menurut keterangan BMKG, gempa berpusat di Kabupaten Nagekeo, dengan titik gempa 30 km arah Timur Laut serta kedalaman 15 km. Rincian parameter itu menjelaskan karakter gempa yang menjadi pemicu kepanikan warga di Desa Reroroja.

Hingga berita ini disusun, warga Reroroja tetap bertahan di tempat pengungsian sambil menunggu perkembangan kondisi dan berharap rasa takut akibat gempa susulan dapat segera mereda. Ketidakpastian pascgempa terus memengaruhi keputusan harian warga, mulai dari aktivitas siang hingga pilihan kembali ke pengungsian pada malam hari.

Di tengah jeda waktu yang terasa lebih tenang pada siang hari, sebagian warga memilih kembali menengok rumah mereka. Namun ketika malam datang, mereka kembali lagi ke titik pengungsian karena ketenangan belum sepenuhnya terasa, terutama akibat ingatan atas guncangan pertama.

Warga juga terus berupaya menata kebutuhan sehari-hari selama berada di pengungsian. Mereka menyiapkan tenda-tenda darurat secara gotong royong dan menggunakan perlengkapan tidur yang jumlahnya terbatas. Karena itu, bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah terpal untuk alas tidur serta pasokan makanan agar aktivitas bertahan bisa berjalan lebih layak.

Sementara itu, penjelasan BMKG menegaskan bahwa gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di bagian utara Pulau Flores. Rangkaian informasi parameter gempa, termasuk kedalaman dan jarak pusat gempa dari wilayah Nagekeo, turut menjadi dasar pemahaman mengapa warga masih waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.