Internasional

Desakan penyelidikan publik atas pemberitaan “witchhunt” terhadap Jason Arday

×

Desakan penyelidikan publik atas pemberitaan “witchhunt” terhadap Jason Arday

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Calls for public inquiry into Jason Arday media 'witchhunt'

jurnalistik.co.id – Sejumlah figur publik dan kolega Jason Arday menyerukan penyelidikan publik atas pemberitaan media yang mereka nilai menekan setelah profesor Cambridge itu ditemukan meninggal pada Jumat sore di Battersea, London selatan.

Desakan ini disampaikan melalui surat kepada Perdana Menteri dan Menteri Kebudayaan Inggris, yang juga ditandatangani puluhan ribu orang.

Surat tersebut memuat klaim bahwa kematian Arday dipicu “two weeks of relentless harassment” atau dua pekan “pelecehan yang tak henti-henti”.

Di antara pihak yang terlibat adalah Labour MP Diane Abbott dan aktris Jameela Jamil, yang disebut masuk dalam kelompok penandatangan berjumlah sekitar 30.000 orang.

Pengirim surat adalah Good Law Project, sebuah kelompok kampanye yang sebelumnya mewakili Arday saat ia memilih mengundurkan diri dari perannya di Universitas Cambridge, menyusul sengketa terkait tuduhan plagiarisme.

Good Law Project juga menyampaikan bahwa banyak penandatangan telah memperingatkan media secara privat mengenai intensitas peliputan terhadap Arday.

Dalam surat itu, para penandatangan meminta digelarnya “immediate public inquiry into how to ensure a responsible press”, yakni penyelidikan publik segera untuk memastikan pers menjalankan tanggung jawabnya.

Lords Simon Woolley, yang menjabat Principal di Homerton College, Cambridge, menilai Arday mengalami perundungan yang sangat merusak.

Menurut Woolley, Arday ditundukkan pada “toxic, vicious witchhunt”, sebuah “witchhunt” yang ia sebut beracun dan kejam.

Woolley juga mengatakan ia dan sejumlah teman dekat bertemu Arday pada Senin, empat hari sebelum Arday ditemukan meninggal.

Ia menyebut Abbott dan aktivis sosial Misan Harriman termasuk di antara mereka yang berkumpul untuk memberikan dukungan, setelah mengalami “horrible media attention” atau perhatian media yang buruk.

Dalam pernyataannya, Woolley mengatakan Arday merasa “hounded”, sementara liputan media yang intens itu berubah menjadi “a bloodsport”.

“Diane said to him, she held his hand, and said we will help you get through this,” kata Woolley mengutip Abbott berbicara kepada Arday.

Ia melanjutkan, “But on that day, we saw a man half his body weight and desperate beyond belief.”

Woolley menekankan bahwa isu plagiarisme di ranah akademik bukan hal baru, namun ia menilai ada perbedaan perlakuan yang dialami Arday.

Ia menyatakan masalahnya bukan semata tuduhan, melainkan perhatian yang diterima Arday dibandingkan sejumlah pihak lain yang juga pernah dituduh melakukan plagiarisme.

Dalam pembahasan terpisah, Woolley menyebut pertanyaan yang menurutnya belum banyak dibicarakan.

Ia mengatakan perlu menyoroti “racism” dan melihat “negatively differential treatment”, atau perlakuan yang secara negatif berbeda.

Arday berusia 41 tahun dan ditemukan meninggal di sebuah alamat di Battersea pada Jumat sore.

Peristiwa itu terjadi setelah ia mengundurkan diri sebagai profesor di Cambridge pada 5 Agustus, seiring tuduhan plagiarisme serta pertanyaan terhadap beberapa pencapaiannya.

Arday membantah tuduhan tersebut.

Liverpool John Moores University, yang memberikan gelar PhD kepada Arday pada 2015, menyimpulkan bahwa Arday tidak melakukan plagiarisme.

Ketegangan awal terkait tuduhan ini muncul setelah Nathan Cofnas, seorang akademisi lain yang menggambarkan dirinya sebagai “race realist”, mengatakan ia menemukan banyak contoh plagiarisme dalam karya Arday.

Cofnas diberhentikan dari perannya di Cambridge pada 2024.

Postingan Cofnas kemudian dihentikan, setelah muncul respons balik atas pandangannya yang menyatakan bahwa dalam meritokrasi yang benar, orang kulit hitam “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”.

Dalam narasinya, Woolley mengaitkan pengalaman Arday dengan bentuk tekanan media yang menurutnya tidak sebanding.

Cambridge mengumumkan adanya penyelidikan independen pada 6 Agustus terkait penunjukan Arday.

Universitas itu juga merayakan pengangkatan Arday sebagai profesor kulit hitam yang masih muda, dengan catatan bahwa ia termasuk dalam minoritas yang kecil namun terlihat di lingkungan akademik.

Rujukan yang disampaikan dalam teks menyebut hanya satu persen profesor di universitas Inggris yang berkulit hitam, sehingga setiap penunjukan dinilai sangat penting.

Para penandatangan surat juga mengangkat pertanyaan mengenai kewajiban kampus terhadap “duty of care” setelah Arday ditempatkan pada posisi yang menonjol.

Seiring berjalannya proses, telah terkumpul lebih dari £40.000 untuk keluarga Arday.

Penggalangan dana tersebut diprakarsai oleh Sir Patrick Vernon, yang juga disebut menjadi salah satu penandatangan petisi.

Surat itu tidak hanya melibatkan tokoh-tokoh dari kalangan politik dan figur publik, tetapi juga sejumlah nama lain yang disebut bergabung menandatangani pernyataan.

Di antara mereka terdapat pemimpin Partai Hijau Zack Polanski, serta para anggota parlemen Labour Bell Ribiero-Addy, Clive Lewis, dan Nadia Whittome.

Tokoh lain yang disebut ikut menandatangani adalah mantan pemain sepak bola Inggris Eni Aluko, Sekretaris Jenderal National Education Union Daniel Kebede, dan pembawa acara Carol Vorderman.

Keseluruhan pernyataan akhirnya bermuara pada permintaan agar pemerintah memfasilitasi penyelidikan publik mengenai bagaimana pers memastikan praktik pemberitaan yang bertanggung jawab.

Desakan itu juga memperlihatkan keyakinan para penandatangan bahwa pengalaman Arday layak ditinjau secara serius, terutama dalam cara publikasi media membentuk tekanan yang diterima seseorang.