jurnalistik.co.id – Sebuah uji fase tiga melaporkan bahwa vaksin personalisasi berbasis mRNA yang diberikan bersama Keytruda menghentikan kanker kulit agar tidak kembali pada pasien melanoma berisiko tinggi selama periode pengamatan. Merck dan Moderna menyatakan hasil awal menunjukkan peningkatan lama masa bebas kanker pada pasien yang telah menjalani operasi, meski durasi manfaat jangka panjang masih belum jelas.
Menurut pengumuman kedua perusahaan, pendekatan kombinasi ini memperlihatkan perbedaan dibandingkan pemberian Keytruda saja. Namun, para pakar menekankan bahwa temuan masih tahap awal, karena rincian lengkap belum dipublikasikan dan belum melewati penelaahan sejawat (peer-review) oleh pakar independen.
Stephane Bancel, chief executive Moderna, menyebut temuan itu sebagai “pivotal moment” dalam riset kanker. Sejak pengumuman tersebut, saham Moderna dan Merck juga dilaporkan mengalami kenaikan.
Masih ada tahapan yang perlu dilalui sebelum terapi ini dapat dipakai lebih luas. Setelah uji klinis selesai, pengobatan tetap harus melewati proses persetujuan oleh regulator, lalu melalui tahapan persetujuan tambahan sebelum tersedia bagi pasien melalui NHS.
Vaksin yang dimaksud diberi nama Intismeran. Program terapi menyasar pasien dengan melanoma berisiko tinggi setelah mereka menjalani operasi, kemudian pemberian Intismeran dilakukan bersama Keytruda, yaitu obat imunoterapi yang telah dipakai dalam pengobatan kanker.
Jika dibandingkan dengan terapi menggunakan Keytruda secara tunggal, Merck dan Moderna mengatakan kombinasi dengan vaksin secara bermakna meningkatkan waktu pasien tetap bebas dari kanker. Perusahaan juga menyebut kombinasi tersebut menurunkan risiko penyakit menyebar hingga ke organ lain.
Uji fase tiga melibatkan lebih dari 1.000 pasien dengan melanoma berisiko tinggi pada stadium dua, tiga, atau empat. Variasi kondisi yang digolongkan dalam kelompok tersebut mencakup pasien dengan tumor besar pada area tertentu, hingga kasus yang telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Merck dan Moderna menggambarkan Intismeran sebagai vaksin personalisasi, karena cara kerjanya ditujukan pada tumor masing-masing pasien. Untuk merancang vaksin, ilmuwan menggunakan teknologi mRNA—yang pernah dipakai pada beberapa vaksin COVID-19—dengan tujuan menargetkan mutasi spesifik yang ada pada sel kanker pasien.
Proses pembuatannya dilakukan dengan mengambil sebagian kecil jaringan tumor pasien melalui tindakan pembedahan, lalu menyusun urutan DNA dari jaringan tersebut. Dari data DNA itu, vaksin disiapkan agar memuat instruksi bagi sistem imun untuk mengenali dan menyerang sel-sel tumor yang tersisa.
Berita Terkait
Dengan strategi tersebut, vaksin diarahkan menjadi terapi anti-kanker yang lebih spesifik terhadap karakter tumor individu, bukan pendekatan yang seragam untuk semua pasien. Perusahaan juga menyebut bahwa mereka sedang menguji vaksin personalisasi serupa untuk jenis kanker lain, termasuk kanker paru-paru, kandung kemih, dan ginjal.
Mengapa peneliti menyebut ini “terobosan”, tapi masih perlu kehati-hatian
Para ahli kesehatan menilai temuan ini berpotensi menjadi langkah penting dalam pengobatan melanoma, karena menunjukkan sinyal bahwa kanker tidak mudah kembali pada kelompok berisiko tinggi. Meski demikian, kehati-hatian tetap ditekankan sampai hasil lengkap dirilis dan dinilai secara independen.
Dr Talisia Quallo, kepala pencegahan dan deteksi dini di Cancer Research UK, menyatakan bahwa penelitian ini “shows promise”. Ia juga menekankan bahwa data sementara masih perlu ditinjau sepenuhnya, sebelum kesimpulan yang lebih pasti dapat ditarik.
“It’s vital that research like this continues to be funded so that more people with cancer can have personalised treatment options to help them live longer, better lives”, kata Quallo.
Sementara itu, Dr Lennard Lee—konsultan onkolog medik sekaligus associate professor di Universitas Oxford—menyebut kabar ini menggembirakan bagi pasien melanoma, tetapi juga menyoroti implikasi yang lebih luas. Ia mengatakan, “This is certainly good news for patients with melanoma, but the study has much wider implications. It provides proof of principle that personalised cancer vaccines work.”
Di saat yang sama, poin penting yang disebut Merck dan Moderna adalah bahwa meski masa bebas kanker pada pasien meningkat, periode pastinya belum bisa ditentukan. Ketidakjelasan durasi tersebut menjadi bagian dari alasan mengapa pengumuman masih dianggap sebagai tahapan awal.
Dengan kata lain, meskipun hasil interim menunjukkan sinyal efektivitas pada kelompok berisiko tinggi, komunitas medis tetap menunggu keluaran lengkap uji klinis—termasuk penilaian sejawat dan verifikasi independen—untuk memastikan manfaat yang konsisten dan berlangsung selama berapa lama.
Jika nantinya persetujuan regulator dapat diperoleh, terapi berbasis vaksin personalisasi seperti Intismeran yang dipadukan dengan Keytruda berpotensi membuka jalan bagi model pengobatan yang lebih presisi. Namun, proses persetujuan tersebut masih berada di depan, dan ketersediaannya bagi pasien akan mengikuti rangkaian evaluasi otoritas kesehatan.







