jurnalistik.co.id – Seorang pria yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan berkasus dingin terhadap turis asal Amerika Serikat di Jerman pada 1994 kini menjalani proses persidangan. Jaksa menilai kejahatan itu terjadi hampir tiga dekade lalu dan baru menemukan titik terang setelah penelusuran forensik diperbarui.
Dalam persidangan di Jerman, terdakwa berusia 82 tahun menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup. Pengakuan yang disampaikan dalam sidang menjadi bagian dari perkara yang selama puluhan tahun membingungkan warga Kota Koblenz.
Korban bernama Amy Lopez, perempuan berusia 24 tahun dari Texas. Menurut kronologi yang disebut dalam berkas perkara, Lopez terakhir kali terlihat hidup pada September 1994 saat melakukan tur keliling Eropa dan menuju Ehrenbreitstein Fortress di Koblenz.
Badan Lopez ditemukan di lokasi tersebut sekitar dua jam kemudian. Kasus ini kemudian dikenal sebagai cold case karena penanganan berjalan lambat dalam waktu yang lama sebelum temuan biologis mengarah pada seseorang yang dicurigai.
Terdakwa ditangkap pada bulan Februari lalu di sebuah panti pensiun di wilayah sekitar Koblenz. Penangkapan dilakukan setelah jejak DNA pada pakaian Lopez dicocokkan dengan sampel air liur yang pernah diberikan terdakwa dalam investigasi cold case.
Jaksa menjelaskan bahwa nama lengkap terdakwa tidak dipublikasikan, sejalan dengan aturan privasi di Jerman. Namun, inisial Hans S disebut sebagai pihak yang diduga melakukan tindak pidana tersebut.
Penuntut umum meyakini terdakwa bertemu Lopez secara kebetulan di jalur menanjak menuju benteng. Mereka menyebut terdakwa kemudian membujuk korban ke area terpencil di bawah benteng, yang dikenal sebagai General von Aster room—ruang yang dinamai setelah seorang jenderal Prusia abad ke-19.
Dalam dakwaan, terdakwa dituduh melakukan penyerangan seksual serta menusuk Lopez sebanyak sembilan kali. Jaksa juga menyinggung motif “base motives to satisfy his sexual urges” dalam uraian dakwaan terhadap terdakwa.
Sidang hari pertama berlangsung dengan suasana yang padat. Terdakwa masuk ke ruang sidang dengan berjalan menggunakan alat bantu, dan ketika pengacara pertahanan menyatakan ia mengakui perbuatannya, hakim ketua meminta konfirmasi langsung.
Berita Terkait
Di hadapan hakim, terdakwa menjawab “Yes”. Rangkaian pengakuan ini menjadi sorotan mengingat perkara tersebut telah lama menjadi misteri bagi masyarakat setempat di wilayah Koblenz.
Selain pengakuan, terdapat pula penilaian kejiwaan yang diminta oleh pihak jaksa. Meski demikian, pendapat penilaian tersebut menyatakan bahwa terdakwa dianggap bertanggung jawab secara pidana pada saat kejahatan terjadi, namun kesimpulan akhir baru akan diperoleh setelah seluruh persidangan selesai.
Putusan diperkirakan diumumkan pada awal bulan depan. Pada tahap ini, hakim juga masih menunggu evaluasi menyeluruh di sepanjang persidangan sebelum menjatuhkan vonis.
Dari sisi perkembangan teknis perkara, jejak DNA baru dapat dideteksi sekitar empat tahun lalu. Saat itu, fragmen kulit yang ditemukan pada celana korban berhasil memberikan petunjuk melalui teknik forensik yang mengalami peningkatan.
Namun, setelah temuan tersebut, pergerakan kasus sempat terbatas selama beberapa dekade. Baru pada tahun lalu, otoritas Koblenz membentuk tim khusus untuk menyelesaikan cold case, yang kemudian membuka kembali peluang penemuan bukti.
Dalam proses tersebut, pihak berwenang beberapa kali mengajukan permohonan informasi kepada publik. Kasus ini bahkan sempat disorot dalam sebuah acara televisi nasional bertema kejahatan yang belum terpecahkan pada tahun lalu.
Menurut uraian jaksa, sejumlah petunjuk sempat muncul dari program tersebut. Akan tetapi, penangkapan baru terjadi ketika polisi mulai mengambil sampel air liur dari relawan di sekitar Koblenz.
Jaksa menyebut ada pencocokan DNA yang jelas untuk salah satu jejak yang mengarah pada terdakwa. Ketika ditanya mengenai alasan terdakwa memberikan sampel, pengacara terdakwa menyampaikan kepada kantor berita DPA bahwa beban kasus tersebut “weighed heavily” dan ia ingin menemukan penutupan (closure).
Di sisi lain, polisi mengetahui bahwa terdakwa sebelumnya telah dihukum atas tindak pidana seksual pada tahun 1999. Akan tetapi, pada waktu itu pihak penyidik belum memiliki bukti DNA yang cukup untuk mengaitkan Hans S dengan pembunuhan terhadap Amy Lopez pada 1994.
Dengan demikian, pengakuan terdakwa kini berada pada titik akhir dari rangkaian panjang pencarian bukti. Perkara ini juga menggambarkan bagaimana metode forensik modern dan penelusuran ulang dapat menghidupkan kembali kasus yang sebelumnya nyaris tidak bergerak.












