Olahraga

Piala Dunia 2026: Kontroversi Balogun, mampukah mengguncang Infantino?

×

Piala Dunia 2026: Kontroversi Balogun, mampukah mengguncang Infantino?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Is Balogun the scandal that could bring down Infantino?

jurnalistik.co.id – Selama sepuluh tahun terakhir, Gianni Infantino memimpin FIFA dan masa jabatannya kerap dibayangi kontroversi. Di tengah persiapan Piala Dunia 2026, polemik terbaru seputar Folarin Balogun muncul sebagai pertanyaan besar: apakah kejadian ini bisa mengguncang posisi Infantino menjelang pemilihan berikutnya?

Infantino akan menjalani pemilihan ulang tahun depan. Beragam sorotan sebelumnya—mulai dari Fifa Peace Prize hingga harga tiket Piala Dunia yang dinilai melonjak—membuat dukungan kepadanya tidak lagi diterima begitu saja.

Situasi terbaru berawal dari keputusan FIFA yang membatalkan skorsing kartu merah Balogun untuk pertandingan babak 16 besar Amerika Serikat melawan Belgia. Sebelumnya, Balogun sempat mendapat kartu merah saat turnamen berjalan, tetapi ia tetap tersedia untuk laga tersebut meski aturan Piala Dunia tidak memberi ruang banding atas kartu merah.

FIFA mengumumkan pembatalan skorsing itu melalui pernyataan tertulis yang panjangnya mencapai 871 kata, lebih dari 24 jam setelah keputusan awal. Meski demikian, pernyataan tersebut dinilai tidak menawarkan penjelasan yang cukup terang mengenai alasan pemilihan langkah itu.

Di sinilah narasi politik mulai menguat. Donald Trump menyatakan bahwa ia meminta peninjauan terhadap kasus Balogun. Saat ditanya apakah ia menghubungi Infantino, Trump mengatakan, “I’m the one that got them to do it,” lalu menambahkan, “all” yang ia lakukan adalah meminta review, dan menegaskan ia tidak memerintahkan Infantino untuk menghentikan larangan tersebut.

Trump juga menutup kemungkinan bahwa ia secara langsung meminta Infantino untuk memberi sanksi baru. Namun, fakta bahwa intervensi semacam itu mungkin terjadi tetap menjadi perhatian di sepak bola.

Di Amerika Serikat, percakapan publik lebih banyak menyoroti aspek ketidakadilan. Balogun dianggap tidak seharusnya melewatkan pertandingan lain, meski kartu merah yang ia terima saat melawan Bosnia-Herzegovina dan membuatnya absen pada laga tersebut digambarkan sebagai hukuman yang sudah setimpal.

Infantino sendiri menolak anggapan adanya campur tangan politik. Ia menyatakan bahwa komite disiplin bersifat independen. Namun, persepsi di masyarakat sering kali sama pentingnya dengan klaim institusional.

Keputusan itu, menurut kritik, tidak hanya menguntungkan “siapa pun”. Perhatian khusus diarahkan kepada negara tuan rumah bersama, yang kali ini dipimpin oleh Trump—seorang tokoh yang kerap tampil berdampingan dengan Infantino dan menyebut presiden FIFA sebagai sahabatnya.

Kritik itu bahkan membuat keputusan skorsing terasa seperti “pengampunan kepresidenan”. Jurgen Klopp, mantan pelatih Liverpool, menilai situasinya bermasalah. Ia mengatakan, “This is our sport, not theirs,” dan menambahkan, “If Donald Trump and Gianni Infantino really sorted this out between themselves, it is madness; it calls everything into question.”

Aturan netralitas politik dan bayangan kedekatan dengan Trump

Dalam statuta FIFA, campur tangan politik dalam sepak bola tidak dibenarkan. Sejumlah negara pernah dikenai sanksi hingga diskors dari kompetisi internasional karena keterlibatan pemerintah pada asosiasi sepak bola nasional. Pakistan, misalnya, disebut telah diskors tiga kali dalam rentang delapan tahun.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah “aturan yang sama” berlaku ketika kasus menyangkut Infantino dan Trump. Dalam momen pengundian Piala Dunia, Trump menerima Fifa Peace Prize perdana, yang oleh sebagian pihak dilihat sebagai puncak kedekatan Infantino dengan presiden Amerika Serikat selama dua tahun terakhir.

Infantino pernah menyampaikan kalimat dukungan kepada Trump saat acara pemberian penghargaan. Ia mengatakan, “You can always count, Mr President, on my support, on the support of the entire football community to help you make peace and make the world prosper all over the world,”

Kelompok kampanye hak asasi manusia FairSquare kemudian mengajukan keluhan kepada komite etika FIFA pada bulan Desember. Mereka menilai Infantino melanggar aturan netralitas politik dalam pembentukan Peace Prize. Tidak ada respons, dan bulan lalu 50 anggota parlemen Eropa (MEPs) menulis surat baru kepada komite etika untuk meminta tindakan.

Sebagaimana banyak situasi lain dalam sepak bola, kurangnya jawaban memperpanjang kecurigaan. Di turnamen ini, Trump disebut tidak menghadiri satu pun pertandingan Piala Dunia. Namun, ia tetap mengambil kepemilikan atas kasus Balogun, seolah menyatakan peran langsung dalam keputusan FIFA.

Perhatian pada soal “ketertutupan” juga dikaitkan dengan episode lain. Pernyataan Infantino terkait nasib wasit Somalia Omar Artan muncul sebagai contoh serupa: Artan disebut tidak diberi akses ke Amerika Serikat oleh pejabat imigrasi, sementara Infantino dituduh kehilangan kontrol atas Piala Dunia. Saat menghadapi pertanyaan media bulan lalu—untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun—Infantino merespons dengan kalimat, “Just, you know, chill, relax,”

Kontroversi yang “menggumpal di bawah permukaan” juga dikaitkan dengan kejadian pada Jumat sebelumnya. FIFA disebut sempat mengubah waktu kick-off pertandingan babak 16 besar Inggris melawan Meksiko, lalu berbalik (U-turn) setelah lima jam, sambil seolah-olah menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak pernah terjadi.

Rangkaian polemik lain dan suara yang menuntut transparansi

Dalam deretan isu, BBC juga menyinggung keputusan alokasi final Piala Dunia 2030 dan 2034 yang diputus dua tahun lalu. Edisi 2030 direncanakan berlangsung di tiga benua—Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan. Konsekuensinya, edisi 2034 harus jatuh ke Asia atau Oseania.

Karena minim persaingan yang realistis, hal itu dinilai efektif mengunci tuan rumah Saudi Arabia, seperti halnya Qatar yang juga disebut memiliki pertanyaan terkait catatan hak asasi manusia. Federasi sepak bola Norwegia disebut memilih abstain dan menilai proses bidding melemahkan “Fifa’s reforms for good governance” serta menantang “trust in Fifa”.

Klub World Cup juga disebut dipersoalkan. Turnamen musim panas ini digambarkan tidak banyak dicari, namun FIFA menciptakannya untuk mengamankan bagian dari ekosistem sepak bola klub dan sumber pendapatan. Sergio Marchi, presiden serikat pemain global FIFPRO, mengatakan tahun lalu turnamen ini dibuat “without dialogue, sensitivity, and respect”.

Dalam konteks yang lebih luas, mantan presiden FIFA Sepp Blatter menulis di X dengan nada peringatan bahwa, “Football must never become a playground for political power,”. Blatter sendiri sebelumnya dipaksa mundur dari kursi presiden FIFA setelah skandal korupsi, dan digantikan oleh Infantino pada 2016.

Jawaban yang pro dan kontra: apakah basis suara Infantino cukup aman?

Setelah keputusan Balogun, UEFA disebut menentang keras. Organisasi itu menyatakan FIFA “crossed a red line” dan menggambarkannya sebagai keputusan “unprecedented, incomprehensible and unjustifiable”. Akan tetapi, konflik yang melibatkan FIFA dan UEFA bukan sesuatu yang baru.

Pada Mei 2025, presiden UEFA Aleksander Ceferin memimpin delegasi Eropa untuk melakukan walk-out saat istirahat Konferensi FIFA. Pada saat yang sama, Infantino dikatakan sedang tur diplomatik Timur Tengah bersama Trump dan tiba dua jam 17 menit lebih lambat.

UEFA juga dikaitkan dengan upaya memberikan sinyal politik tertentu selama Piala Dunia, termasuk membandingkan harga tiket Euro 2028 yang disebut lebih murah. Dalam kerangka itu, UEFA juga menyatakan tidak akan menerapkan jeda hidrasi, atau kartu merah bagi pemain yang menutup mulut.

Walau gesekan ada, narasi “posisi Infantino pasti runtuh” tidak sepenuhnya diterima. Menurut pandangan yang lebih besar, Infantino tetap populer di banyak federasi. Salah satu alasan yang disebut adalah pembangunan dan pengembangan sepak bola lewat program FIFA Forward, yang mengucurkan pendanaan bagi proyek-proyek di berbagai belahan dunia.

Piala Dunia juga disebut diperluas memberi kesempatan lebih banyak negara. Enam belas tambahan tim kini berhak lolos, dengan mayoritas berasal dari konfederasi yang memiliki kedalaman skuad lebih terbatas. Eropa hanya disebut memperoleh tiga dari tambahan jatah tersebut.

Piala Dunia yang digelar dengan format itu juga dipakai sebagai argumen bahwa Asia dan CONCACAF masih punya pekerjaan besar untuk menjadi kompetitif. Namun, di sisi lain, kesempatan tampil dianggap menghadirkan mimpi bagi negara yang sebelumnya jarang mendapat panggung, seperti Cape Verde, Curacao, Jordan, dan Uzbekistan.

Meski format 48 tim menuai kritik, ada penilaian bahwa format tersebut memberi Cape Verde peluang mewujudkan impian mereka. Model ini juga disebut bisa membantu negara-negara nontradisional agar permainan mereka tumbuh dan menjadi lebih kuat.

Lalu ada “syarat” yang tidak bisa diabaikan: proyek-proyek semacam itu ditopang oleh penyelenggaraan turnamen dan pendapatan dari harga tiket yang besar. Tahun ini, FIFA diperkirakan meraup $9bn (£7.9bn).

Akhirnya, faktor suara pemilihan juga disebut menjadi penentu. FIFA memiliki 211 negara anggota. Setiap negara memiliki hak suara, dan 106 suara diperlukan untuk memenangkan pemilihan. Dalam skema dukungan yang diuraikan, Conmebol pada April menyatakan 10 negaranya mendukung Infantino. Tiga minggu kemudian, CAF menyebut dukungan bulat dari 54 asosiasi anggotanya, dan setelah itu Konfederasi Sepak Bola Asia disebut mengikuti dengan dukungan dari 47 negara.

Dengan angka itu, Infantino disebut sudah memiliki 111 suara. Ia juga disebut tidak pernah menghadapi lawan dalam pemilihan sebelumnya—2019 dan 2023—yang berarti, untuk mengubah keadaan pada 2027, dibutuhkan sesuatu yang benar-benar luar biasa untuk menantang, apalagi mengalahkannya.