jurnalistik.co.id – BTS mengawali penampilan perdana mereka di Inggris setelah jeda panjang sejak 2019 dengan suasana yang hangat sekaligus penuh candaan. Di Tottenham Hotspur Stadium, para personel merayakan kemenangan Inggris 3-2 atas Meksiko melalui obrolan yang langsung disambut tawa penonton.
Momen itu bermula saat RM, yang memimpin jalannya acara, menyampaikan ucapan “Congrats on the win last night,” sambil menutupnya dengan kalimat penuh humor. Ia lalu berkata, “We always bring the luck to every place we play.”
RM kemudian mengembangkan guyonan tersebut dengan contoh sebelumnya. “When we played in Belgium, Belgium won. Now that we’re in London, Britain won. You see?” ujarnya di hadapan penonton.
Tak hanya membahas pertandingan, grup ini juga menyapa para penggemar Inggris terkait jarak yang panjang antarsesi konser. “Congrats on the win last night,” menjadi pembuka sebelum BTS menaruh perhatian pada penantian fans terhadap penampilan mereka di London.
Mereka mengingatkan bahwa penampilan terakhir di Inggris terjadi pada 2019, ketika BTS menjadi artis Korea Selatan pertama yang mengisi Wembley Stadium sebagai konser utama. Setelah itu, rencana kembali pada 2020 harus kandas akibat pandemi, termasuk pembatalan tur besar mereka, Map of the Soul.
RM menjelaskan kondisi yang membuat BTS harus jeda lebih lama. “There was Covid, there was military, and now we’re here in 2026 together,” katanya. Ia menambahkan, “I missed you so much, and thank you for all coming.”
Suga turut menyampaikan terima kasih atas kesabaran ARMY. “I’m still feeling the emotion I felt seven or eight years ago,” ujarnya, lalu menilai, “I don’t think you guys have changed. You’re still in a passionate country.”
Di sisi lain, J-Hope menyebut penampilan di Tottenham sebagai penghormatan tersendiri. Ia mengatakan itu adalah “an honour” karena stadion tersebut pernah menjadi tempat Son “Sonny” Heung-min meniti namanya.
Son belakangan juga meminta maaf terkait perjalanan timnya di Piala Dunia. Hal itu terjadi setelah ia dan tim gagal melaju dari fase grup, yang kemudian mendapat perhatian dari para penggemar sepak bola setempat.
Di lapangan, BTS menghadirkan panggung dengan daya tarik visual yang besar. Stadion dipenuhi sekitar 65.000 penonton, yang membawa light sticks serta berbagai tanda buatan tangan untuk menyapa idola mereka.
Sejumlah tulisan di tribun turut menarik perhatian. Misalnya ada slogan “I’m 59 and BTS keeps me young forever,” sementara penonton lain mengatakan, “I ran a half marathon listening to BTS.”
Ada pula pesan bercanda “Namjoon for Prime Minister,” lengkap dengan gambar RM yang ditempatkan pada bendera Inggris. Jin kemudian membalas hangat dengan mengangkat tulisan “BTS loves ARMY,” menggunakan nama panggilan untuk komunitas penggemar mereka.
Jarak penampilan yang panjang sempat memunculkan pertanyaan tentang kemampuan BTS mempertahankan momentum seperti di era 2010-an. Pada masa jeda, ketujuh anggota merilis materi solo dengan tingkat pencapaian yang berbeda-beda.
Dokumenter Netflix juga menangkap kegugupan mereka saat bersiap kembali sebagai satu kesatuan. Dalam proses rekaman, RM sempat menyampaikan, “I don’t have any real sense of what this album’s supposed to be,” sambil menegaskan kebutuhan akan “authenticity.”
Ia menyebut, “there’s a level of authenticity we need to have here.” Setelah rangkaian proses itu, BTS akhirnya benar-benar “pulled through” dengan album comeback mereka.
Album bertajuk Arirang diposisikan sebagai perayaan akar mereka. Nama tersebut diambil dari lagu rakyat Korea tradisional, dan di lagu pembuka “Body to Body,” melodi lagu tersebut disampel.
Arirang diluncurkan bersama singel “Swim” dan menempati peringkat nomor satu di 26 negara. Album itu juga telah masuk dalam berbagai daftar terbaik yang dirilis untuk tahun 2026.
Tur mereka yang ludes juga menjadi sorotan. Tur terjual habis membentang 88 tanggal di 23 negara, dan diprediksi mampu menyaingi skala pendapatan box office tur Eras milik Taylor Swift yang bernilai $2bn (£1.5bn).
Berita Terkait
Ketika BTS tampil di Tottenham, tema-tema dari album tersebut diwujudkan ke dalam pertunjukan. Sebelum naik ke panggung, penonton mendengar suara bel sakral King Seongdeck—sebuah warisan budaya Korea yang ditetapkan cast sejak lebih dari 1.200 tahun lalu.
Panggung 360 derajat yang megah juga dirancang dengan inspirasi dari Gyeonghoeru Pavilion di Istana Gyeongbokgung, Seoul. Lantai panggung turut memuat elemen visual terinspirasi dari bendera Korea Selatan.
Untuk tanggal London pertama ini, fokus penampilan lebih banyak diarahkan pada album Arirang. Hal itu membuat konsep terasa kembali ke akar hip-hop BTS, sebelum mereka benar-benar memulai rangkaian aksi di atas panggung.
Penonton disuguhi ledakan piroteknik dan kembang api saat BTS membawakan “Hooligan.” Pada segmen awal itu, gaya khas harmoni yang manis berpadu dengan rap yang tegas menjadi ciri yang menonjol.
Set pembuka juga diperkuat oleh sekitar 50 penari yang mengenakan busana serba hitam dari ujung kepala hingga kaki. Setelah itu, BTS melanjutkan dengan “Aliens” dan versi yang membekas dari “Run BTS.”
Puncak penampilan datang melalui medley yang menggabungkan “FYA” di tahun 2026 dan “Fire” dari 2016. Di bagian ini, penonton melonjak dengan begitu kuat hingga anggota BTS merespons energi yang terasa “secara fisik” di tribun.
Band kemudian bergerak aktif di berbagai sisi catwalk, berlari naik-turun mengikuti irama, sambil menyemprot air ke arah fans (dan sesama anggota). Energi itu mengiringi ketukan lagu-lagu yang terus bertambah intens.
“Swim” juga mendapat sambutan besar di stadion. Jimin bahkan sempat melepas ear piece pada chorus pertama agar bisa mendengar teriakan penonton dengan lebih jelas.
Setelah lagu tersebut, V menyampaikan pesan langsung kepada fans. “Honestly, you should just join the tour with us,” katanya, yang memancing reaksi teriakan lebih keras dari biasanya.
Menariknya, BTS tampak mengurangi penekanan pada koreografi dibandingkan tur sebelumnya. Dengan cara itu, interaksi lebih banyak memberi ruang pada kedekatan personal dengan audiens.
Hal tersebut terasa saat “Butter,” ketika Jungkook naik ke bahu Jin dan melakukan piggyback mengitari panggung. Selanjutnya, dalam “Idol,” para anggota berjalan menyusuri perimeter venue, berhenti untuk berpose foto, serta melambaikan tangan kepada penggemar.
Dancer di belakang panggung turut mengangkat bendera berukuran besar, menciptakan kesan visual yang konsisten sepanjang segmen itu. Namun BTS tidak sepenuhnya meninggalkan unsur tarian yang ketat, karena “2.0” menampilkan beberapa koreografi paling tajam yang bisa ditemui di konser bertaraf stadion.
Pada bagian “Dynamite,” BTS menghadirkan improvisasi dengan gaya yang merujuk pada Michael Jackson, termasuk gerakan khas “crotch-grabs” dan putaran di lantai. Perpaduan energi pertunjukan dan spontanitas membuat transisi antar lagu terasa mengalir.
Di penutupan, BTS juga menyiapkan lagu-lagu kejutan. Mereka membawakan “Life Goes On,” yang membawa nuansa nostalgia tentang menjaga koneksi selama masa karantina Covid, dan “Dionysus,” yang kembali menampilkan jejak lagu pembuka dari konser Wembley 2019.
Malam itu lalu ditutup dengan “Into The Sun,” membawa nada hangat sekaligus optimistis. Lagu tersebut terasa seperti janji agar BTS tidak akan absen dalam waktu yang terlalu lama di masa mendatang.
Fans yang datang dari Korea, Amerika Serikat, hingga berbagai negara Eropa menyebut perjalanan menunggu tersebut terbayar. Salah satu penggemar menyampaikan, “I’ve only been a fan since they were in the military, so I’m really excited to see them and confirm they’re real people.”
Penggemar lain menambahkan, “Everything about them transcends language and barriers,” sebelum menyatakan bahwa “There’s such a community around them.”
Pesan yang sama juga terdengar pada kesaksian penonton lainnya, “They connect the whole world together.” Keseluruhan rangkaian acara di Tottenham kemudian memperlihatkan bagaimana konser kali ini tidak hanya menjadi panggung musik, tetapi juga ruang bersama untuk merayakan penantian, harapan, dan kebersamaan.












