jurnalistik.co.id – Belgia mengaku merasakan “a sense of injustice” setelah keputusan FIFA yang membatalkan larangan otomatis satu pertandingan Folarin Balogun, tepat sebelum laga 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Amerika Serikat di Seattle. Meski kontroversi memanas di luar lapangan, skuad asuhan Belgia tetap menuntaskan urusan di rumput.
Perasaan itu disampaikan Nicolas Raskin, gelandang Belgia yang menegaskan suasana di ruang ganti berubah setelah keputusan FIFA diumumkan. Baginya, momen tersebut menjadi pemantik motivasi agar tim bereaksi langsung saat pertandingan dimulai.
Balogun, pemain berusia 25 tahun, sebelumnya tampak hampir pasti absen karena mendapat kartu merah langsung pada pertandingan sebelumnya. Ia melakukan pelanggaran yang membuatnya dikenakan straight red card ketika duel babak sebelumnya melawan Bosnia-Herzegovina dan keputusan awal memunculkan ban satu laga.
Namun pada Minggu, FIFA menyatakan bahwa larangan otomatis satu pertandingan itu ditangguhkan selama 12 bulan. Dampaknya terasa luas, karena keputusan tersebut memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk UEFA, Belgia, dan pelatih Inggris Thomas Tuchel.
Senin, Presiden AS Donald Trump menyatakan ia meminta FIFA untuk meninjau kembali ban Balogun. Trump mengungkap kekhawatirannya bahwa bila larangan tersebut benar-benar dijalankan, keputusan itu akan meninggalkan “a big stain” pada turnamen.
Kontroversi ini lantas dibaca Belgia sebagai gangguan yang tak seharusnya terjadi pada konteks disiplin pertandingan. Raskin menjelaskan bahwa dalam dua hari terakhir sebelum laga, timnya justru merasakan ketidakadilan yang menyatu menjadi tekad.
Raskin mengatakan, “A lot has happened off the pitch over the last two days”. Ia menambahkan, “There was a sense of injustice within the squad, and we were determined to respond on the field.”
Kapten Belgia, Youri Tielemans, juga menegaskan bahwa urusan tersebut memberi mereka dorongan psikologis agar segera menunjukkan respons melalui permainan. Menurutnya, fokus utama adalah mengubah emosi menjadi performa.
Tielemans menyatakan, “We told ourselves we had to respond on the pitch. That’s what we did.” Pernyataan itu menegaskan bahwa tim memilih tidak terjebak pada polemik, melainkan memprioritaskan rencana taktis saat bersua lawan.
Setelah hasil akhir, Belgia mencatat kemenangan meyakinkan 4-1 atas tuan rumah bersama dalam fase knockout. Bahkan ketika Balogun akhirnya berstatus bebas bermain dan menjadi bagian dari starting line-up, Belgia tetap menemukan ritme untuk mematahkan strategi lawan.
Raskin menggambarkan suasana yang berubah menjadi fokus pada respons di lapangan, bukan sekadar reaksi emosional. “There was a sense of injustice within the squad” menjadi bahan bakar, sementara permainan menjadi jawaban yang mereka pilih.
Reaksi setelah gol dan gaya sindiran
Selepas Belgia mencetak gol keempat, beberapa pemain terlihat merayakan dengan gaya yang mirip “Trump dance”. Gaya tersebut dikenal karena gerakan yang menggoyangkan pinggul dan memompa tangan secara perlahan.
Selain di lapangan, akun Instagram resmi tim nasional Belgia juga ikut menanggapi peristiwa itu. Mereka memunculkan gambar penyerang Romelu Lukaku dengan pose menyentuh telinga serta caption “overturn this”.
Unggahan itu seolah menjadi sindiran terhadap rangkaian keputusan dan pembatalan larangan yang sempat menimbulkan perdebatan. Namun, inti sikap Belgia tetap sama: memastikan kontroversi tidak mengalihkan fokus pertandingan.
Usai pertandingan, pelatih kepala Belgia Rudi Garcia menceritakan bahwa Balogun “came to talk” setelah laga. Garcia mengatakan ia benar-benar menghargai percakapan tersebut.
Garcia menyatakan, “I really liked that,” dan melanjutkan, “It’s not his fault, he’s not the one to blame and that’s what I told him.” Ia menekankan bahwa isu yang diperdebatkan bukan kesalahan pemain yang bersangkutan.
Berita Terkait
Ketika ditanya bagaimana urusan tersebut memengaruhi tim, Garcia menegaskan bahwa jalannya laga tetap bergantung pada rencana permainan. Ia menjelaskan, “Regardless of the US starting line-up, what really mattered to us is our game plan.”
Garcia menambahkan, “The group is very mature.” Menurutnya, tim sudah paham bahwa yang paling menentukan adalah apa yang mereka kerjakan sendiri sepanjang pertandingan.
Ia menegaskan pesan yang diberikan kepada pemain: “I told them what matters the most is us.” Dalam narasi itulah, polemik di luar lapangan akhirnya ditransformasikan menjadi disiplin menghadapi pertandingan.
Trump: minta tinjau, tapi tak mengarahkan
Dalam pernyataannya menjelang laga, Trump menyebut FIFA “made the right decision”. Ia menambahkan bahwa bila ban tersebut tetap dijalankan, hal itu akan meninggalkan “a big stain” pada turnamen.
Trump mengatakan ia meminta FIFA meninjau keputusan karena ia “didn’t think it was a foul”. Ia juga mengungkap bahwa ia telah berbicara dengan presiden FIFA Gianni Infantino, tetapi menekankan bahwa yang ia lakukan adalah meminta review.
Trump menyatakan, “I confirmed he had spoken to Fifa president Gianni Infantino but said “all” he did was ask for a review”. Ia menegaskan ia tidak memberi arahan bahwa Infantino harus menangguhkan ban Balogun.
Trump kemudian menambahkan, “I can’t tell them what to do.” Ia menutup dengan cara pandangnya sendiri, “I don’t believe they made the decision; I believe it was the commission that made the decision. And it was the right decision.”
Dari sisi Belgia, reaksi juga muncul dalam bentuk sikap resmi. Sebelum pertandingan, Royal Belgian Football Association (RBFA) menyatakan mereka “astonished” atas keputusan untuk menangguhkan ban Balogun.
RBFA bahkan menyampaikan bahwa mereka “contests the eligibility” Balogun untuk tampil pada laga tersebut. Mereka mengajukan banding, tetapi komite FIFA menyimpulkan Belgia bukan pihak yang berkepentingan karena tidak terlibat dalam keputusan awal.
Menurut penilaian komite, Belgia hanya menjadi lawan berikutnya AS, sehingga tidak masuk kategori pihak yang memiliki posisi untuk menentukan keputusan awal. Putusan itu lantas ikut memperlebar perdebatan soal batas intervensi dan prinsip sanksi.
UEFA dan Tuchel: preseden berbahaya
Thomas Tuchel menyebut keputusan tersebut menciptakan preseden yang berbahaya. Ia menilai persoalan utamanya ada pada garis batas penerapan aturan dan kapan intervensi dianggap melewati batas.
Tuchel menyatakan, “Where to draw the line is the question that I ask,” kemudian menambahkan, “I have no answer to that.” Pernyataan itu menggambarkan ketidakjelasan yang, menurutnya, muncul ketika keputusan terkait kartu merah dapat berubah pada konteks turnamen.
UEFA juga menyampaikan pandangan serupa, bahwa intervensi untuk membatalkan secara efektif sebuah larangan pada ajang Piala Dunia telah “crossed a red line”. Intinya, mereka memandang bahwa prinsip disiplin seharusnya tidak mudah terhapus oleh mekanisme peninjauan.
Dalam sorotan yang sama, disebutkan bahwa Jarell Quansah diusir dalam laga dramatis Inggris kontra Meksiko dengan skor 3-2 pada babak 16 besar. Kejadian itu mempertegas bahwa sanksi kartu merah berpengaruh langsung pada jalan turnamen.
Namun, dari 189 kartu merah lainnya di Piala Dunia, disebutkan hanya satu pemain yang pernah lolos dari sanksi. Kasus itu adalah Garrincha dari Brasil pada 1962, sebelum penerapan aturan larangan otomatis diberlakukan.
Dengan hasil 4-1 yang berpihak pada Belgia, kontroversi di sekitar Balogun tidak berubah menjadi penentu nasib skuad Belgia. Pada akhirnya, “sense of injustice” yang dirasakan Raskin berubah menjadi bahan bakar, sementara keputusan di luar lapangan tetap menjadi bagian dari diskusi sepak bola modern menjelang babak berikutnya.












