jurnalistik.co.id – Laporan besar terkait panti ibu dan bayi, lembaga Magdalene Laundries, serta rumah-rumah kerja di Irlandia Utara akan dirilis pada Selasa. Dokumen ini disusun dari arsip serta kesaksian para korban dan penyintas, termasuk keluarga mereka, serta mereka yang pernah bekerja atau menjadi relawan di lembaga tersebut.
Rilis laporan tersebut juga memuat sejumlah temuan dan rekomendasi, termasuk poin-poin yang akan menjadi perhatian dalam inkuiri publik yang direncanakan. Selain itu, laporan menyoroti “pathways and practices” atau jalur serta praktik yang mengantarkan perempuan ke institusi, termasuk panti, fasilitas laundries, dan rumah kerja.
Menurut informasi yang dihimpun, lebih dari 10.000 perempuan, perempuan hamil, dan anak perempuan melewati lembaga-lembaga tersebut sejak era 1920-an hingga 1990-an. Banyak di antaranya, lembaga-lembaga itu dijalankan oleh ordo-ordo keagamaan.
Dalam rangka pengumpulan bukti, panel juga menelusuri konteks ketika kehamilan terjadi akibat tindak kejahatan seksual. Laporan menempatkan pengalaman para penyintas sebagai bagian penting dari proses pemahaman yang lebih menyeluruh atas apa yang terjadi.
Lingkup penyelidikan: dari institusi hingga praktik pengasuhan
Penyelidikan tidak berhenti pada institusi semata. Laporan juga mencakup sistem perawatan, praktik foster care, dan adopsi, serta berbagai institusi terkait seperti “baby homes” dan rumah sakit perawatan swasta.
Di dalamnya, panel juga memeriksa pemindahan lintas wilayah dan internasional terhadap perempuan serta anak-anak. Dengan pendekatan itu, laporan berupaya memperlihatkan bagaimana praktik-praktik tersebut bekerja dan bagaimana dampaknya bertahan dalam waktu panjang.
Kesaksian yang dihimpun untuk laporan ini nantinya akan menjadi masukan bagi inkuiri publik yang direncanakan. Dengan begitu, proses penetapan fokus inkuiri tidak berdiri sendiri, melainkan dibangun dari bahan bukti yang lebih terstruktur.
Panel Truth Recovery: dibentuk pada 2023
Panel Truth Recovery Independent Panel dibentuk pada 2023 oleh Northern Ireland Executive. Panel ini terdiri dari 10 orang dengan keterlibatan ahli di bidang hak asasi manusia, genealogi, dan pengarsipan, sekaligus melibatkan perwakilan penyintas yang memiliki pengalaman langsung terkait sistem adopsi maupun lembaga-lembaga tersebut.
Keberadaan panel tersebut juga diarahkan untuk memastikan proses penyelidikan tidak hanya mengandalkan satu jenis sumber. Arsip dan kesaksian dipadukan agar rekonstruksi peristiwa lebih utuh, serta memberi ruang bagi perspektif mereka yang terdampak.
Dalam prosesnya, panel bekerja mengumpulkan bukti yang relevan, termasuk menilai jalur masuk ke institusi dan praktik yang menyertainya. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu inkuiri publik yang akan datang menelusuri persoalan secara lebih mendalam.
Legislasi dan jadwal inkuiri publik
Pada Juni 2026, Northern Ireland Assembly mengesahkan undang-undang untuk membentuk inkuiri publik serta skema ganti rugi finansial yang berkaitan dengan panti ibu dan bayi serta institusi serupa. Inkuiri publik diperkirakan berlangsung sekitar tiga tahun dan menelan biaya sekitar £14 juta.
Berita Terkait
Lebih lanjut, untuk memungkinkan inkuiri serta skema ganti rugi dibuka secara formal, diperlukan legislasi tambahan pada musim gugur. Perencanaan tahap lanjutan ini menjadi bagian dari proses transisi dari kerja panel menjadi pelaksanaan inkuiri.
Skema ganti rugi: standar £12.000 dan kompensasi keluarga
Dalam skema ganti rugi finansial, setiap ibu atau anak yang menghabiskan waktu di sebuah institusi akan berhak menerima pembayaran standar sebesar £12.000. Besaran tersebut ditetapkan sebagai kompensasi bagi mereka yang mengalami dampak langsung dari sistem institusi.
Sebanyak £2.000 juga akan dibayarkan kepada anggota keluarga dari ibu dan anak yang meninggal sejak 28 April 1953. Komponen pembayaran ini menegaskan bahwa dampak yang ditinggalkan institusi tidak berhenti pada mereka yang masih hidup pada saat skema berjalan.
Pemerintah devolusi memperkirakan skema tersebut akan menerima sekitar 10.000 permohonan, dengan total pembayaran mencapai £90 juta. Angka-angka ini menjadi dasar perencanaan anggaran untuk proses kompensasi.
Reaksi penyintas dan pandangan tentang proses inkuiri
Mark McCollum, yang lahir di institusi Marianvale di Newry, menyebut Selasa sebagai “important day”. Ia menyatakan hari itu menandai tonggak terkait kemajuan proses, serta menyebut banyak pihak telah berkontribusi pada laporan tersebut.
McCollum menambahkan bahwa ia menantikan untuk membaca laporan itu. Ia juga menilai, “It does seem that progress is now being made and things are starting to happen,” yang menggambarkan keyakinannya bahwa langkah-langkah perbaikan mulai berjalan.
Sementara itu, Adele Johnston dari Birthmothers and their Children for Justice NI menyampaikan bahwa Selasa merupakan “momentous day for us”. Ia awalnya khawatir mengenai pemeriksaan silang, namun menyebut bahwa cara proses yang kini dijelaskan “totally different”.
Johnston menegaskan tidak ada keraguan dalam dirinya, dan ia berharap inkuiri akan “tear down the veil of secrecy and shame”. Ia juga menyoroti bahwa institusi-institusi selama ini belum pernah dimintai pertanggungjawaban.
Prof Phil Scraton dari Queen’s University Belfast, yang ikut menjadi bagian dari kelompok penyusun terms of reference panel, menekankan bahwa pengumpulan bukti membutuhkan waktu. Ia menyatakan bahwa yang sedang dibicarakan melibatkan puluhan tahun keterlibatan di institusi yang harus diungkap.
Menurut Scraton, proses ini panjang dan menyeluruh, sehingga para korban dan penyintas harus berada di pusat perhatian. Ia juga menggambarkan bahwa investigasi kebenaran yang terintegrasi perlu menata bukti dengan cermat serta menghormati pandangan para penyintas.
Scraton menilai gagasan adanya panel independen sebelum inkuiri publik yang bersifat statutory adalah hal yang “absolutely crucial”. Ia menjelaskan, meski inkuiri statutory berjalan baik, persoalan yang ia lihat adalah ketika kesaksian diberikan lalu masuk ke pemeriksaan silang secara literal.
Dalam kerangka itulah, rilis laporan menjadi penanda bahwa proses penggalian informasi tidak berhenti pada pengumpulan dokumen, melainkan diarahkan agar kebenaran dapat ditata dengan cara yang lebih menghormati pengalaman mereka yang terdampak langsung.










