Bisnis & Ekonomi

RI Masih Tertinggal, Ini Daftar Negara yang Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

8
×

RI Masih Tertinggal, Ini Daftar Negara yang Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: RI Belum Punya, Ini Daftar Negara Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

jurnalistik.co.id – Indonesia dinilai masih tertinggal dalam penguasaan teknologi pengolahan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), meski pemerintah mulai menunjukkan komitmen untuk mengembangkan komoditas strategis tersebut. Di saat sejumlah negara sudah lebih dulu memiliki teknologi pemrosesan dalam skala ekonomi, Indonesia masih berada pada tahap awal pengembangan.

Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan, pengalaman Indonesia dalam menggarap LTJ masih sangat terbatas. Menurut dia, negeri ini belum punya basis teknologi dan penguasaan industri yang memadai untuk masuk ke tahap pengolahan komersial.

“Jadi kalau kita bicara logam tanah jarang di Indonesia ini sebenarnya belum ada yang pengalaman, Pak. Jadi kita masih pada tahap awal,” jelas Irwandy dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Irwandy menyebut dominasi pengolahan LTJ saat ini masih dikuasai China. Negara tersebut bukan hanya memimpin pada sisi penambangan, tetapi juga memegang hampir seluruh rantai pemisahan dan pemurnian global melalui perusahaan seperti Shenghe Resources Holding Co dan China Northern Rare Earth.

“68 sampai 70% produksi tambang logam tanah jarang dunia dari Tiongkok. Lebih 90% persisnya kurang lebih 91% itu proses pemurnian dan pemisahan global dikuasai oleh mereka juga. Timur Tengah memiliki minyak tetapi Tiongkok memiliki logam tanah jarang,” papar Irwandy.

Selain China, India juga telah memiliki fasilitas pengolahan melalui Indian Rare Earths dengan teknologi caustic cracking. Di Asia Tenggara, Malaysia lebih dulu berkembang sebagai pusat pengolahan LTJ global lewat pabrik milik perusahaan Australia, Lynas Rare Earths, yang beroperasi di Pahang.

“Lynas Corporation yang dari Australia yang punya pabrik di Malaysia, ini salah satu yang pernah dirintis diupayakan untuk kerja sama dengan Timah tapi kemudian belum berhasil. Itu sebenarnya kita lihat ini lokasinya di Pahang, Malaysia,” jelasnya.

Sejumlah negara lain juga disebut sudah memiliki peta jalan teknologi yang lebih matang. Kanada melalui Medallion Resources disebut telah masuk tahap pra-komersial, sementara Australia lewat Hastings Technology Metals kini bersiap melakukan konstruksi.

Adapun Indonesia, sejauh ini baru memiliki rintisan pengolahan dalam skala laboratorium dan beberapa pilot plant berskala kecil. Fase tersebut belum cukup untuk disebut sebagai pengolahan LTJ skala ekonomi.

“Sampai dengan saat ini Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan atau pemrosesan logam tanah jarang yang mencapai skala ekonomi. Ada beberapa yang mencoba untuk sampai ke skala laboratorium tentunya sudah ada, dan ada yang sudah sampai ke skala pilot di Tanjung Ular misalnya di Bangka,” kata Irwandy.

Ia menegaskan, tantangan utama Indonesia ada pada keterbatasan fasilitas pengolahan dan pemurnian. Akibatnya, nilai ekonomi mineral belum bisa dimaksimalkan karena hilirisasi belum ditopang teknologi yang memadai.

“Nilai ekonomi mineral belum dapat dimaksimalkan karena belum mempunyai teknologi hilirisasi yang memadai. Ini yang tantangan utamanya. Tetapi di samping tantangan utama ada peluang strategis yaitu penguasaan teknologi pemrosesan LTJ yang risetnya sedang dilakukan oleh BIM atas penugasan dari Presiden,” tandasnya.

Potensi Logam Tanah Jarang di RI

Irwandy menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Unsur-unsur itu dibagi ke dalam dua kelompok besar, yakni logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.

Kelompok tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).

Pembagian berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi elektron orbital. Kelompok berat dinilai lebih langka dan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok ringan.

“Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian yaitu logam tanah jarang yang berat, heavy rare earth element dan yang ringan. Yang ringan itu elektron tak berpasangan lebih banyak sedangkan yang berat itu lebih langka dan bernilai tinggi serta kemudian berdasarkan sifat magnetik dan kimia yang berbeda,” papar Irwandy, dalam webinar yang sama, dikutip Senin (18/5/2026).

Di Indonesia, LTJ umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari penambangan timah, nikel, dan bauksit. Beberapa mineral yang mengandung LTJ di dalam negeri antara lain monasit, xenotim, dan zirkon, yang banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain mineral ikutan, pemerintah juga mengidentifikasi keberadaan cadangan LTJ tipe primer di Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan ini menjadi perhatian baru karena kadarnya lebih tinggi dibandingkan mineral ikutan, sehingga membuka peluang bagi Indonesia membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.

“Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan,” jelas Irwandy.

Berdasarkan data penelitiannya, kadar total LTJ di Mamuju disebut mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Bangka Belitung yang berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm.

Irwandy juga menyebut Sumatera Utara memiliki potensi LTJ dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm yang berasal dari pelapukan batuan granit.

“Tingkat pasokan yang terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi yang terbesar 31% itu serium. Yang kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen,” tuturnya.

Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen dinilai paling strategis karena menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ pun diproyeksikan naik dari porsi 29% pada 2023 menjadi 41% pada 2034.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *