jurnalistik.co.id – Studi National Bureau of Economic Research (NBER) terbaru menyoroti pola penggunaan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja: pemakaiannya sudah meluas, tetapi efeknya terhadap produktivitas dan tenaga kerja belum tampak jelas dalam data. Riset ini melibatkan sekitar 6.000 CEO, chief financial officer (CFO), dan eksekutif perusahaan di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, serta Australia.
Dari survei tersebut, sekitar dua pertiga responden menyatakan AI sudah digunakan dalam aktivitas kerja mereka. Namun, pemanfaatannya rata-rata masih terbatas, yakni sekitar 1,5 jam per minggu.
Dalam gambaran yang lebih detail, seperempat dari kelompok eksekutif mengaku belum pernah memakai AI sama sekali dalam pekerjaannya. Temuan ini memberi sinyal bahwa adopsi yang terjadi saat ini belum sepenuhnya menjadi kebiasaan operasional.
Yang paling menonjol, hampir 90 persen perusahaan menilai AI belum memberikan pengaruh berarti terhadap produktivitas maupun jumlah tenaga kerja selama tiga tahun terakhir. Meski demikian, penilaian tersebut tidak membuat para petinggi perusahaan kehilangan keyakinan terhadap potensi AI di masa depan.
Para responden menyebut ekspektasi mereka bahwa AI pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas sebesar 1,4 persen dan mendorong output perusahaan sebesar 0,8 persen pada tahun 2029. Artinya, meski dampak langsung belum terasa, orientasi perencanaan tetap diarahkan pada manfaat jangka menengah.
Paradoks Solow yang kembali muncul
Fenomena ini mengingatkan pada pola yang pernah terjadi ketika teknologi komputer mulai meluas pada akhir 1980-an. Kala itu, komputer disebut-sebut akan membuat perusahaan jauh lebih efisien, tetapi manfaatnya tidak segera terlihat dalam statistik produktivitas.
Istilah yang kemudian dikenal untuk kondisi serupa adalah “Paradoks Solow”. Ekonom peraih Nobel Robert Solow pernah menyampaikan, “era komputer bisa dilihat di mana-mana, kecuali dalam statistik produktivitas”. Dalam konteks yang sama, banyak pihak menilai AI kini memperlihatkan kemiripan pola: penerapannya cepat, sementara jejak dampaknya belum langsung terbaca dalam indikator ekonomi.
Berita Terkait
Belum terlihat pada produktivitas, pekerjaan, hingga inflasi
Kepala Ekonom Apollo, Torsten Slok, menyatakan AI memang sudah hadir di berbagai sektor. Akan tetapi, dampaknya belum terlihat pada data ekonomi, baik dari sisi produktivitas, lapangan kerja, maupun inflasi.
Pendekatan yang menekankan perbedaan waktu antara adopsi teknologi dan perubahan indikator kinerja juga selaras dengan hasil survei NBER. Dalam dua tingkat yang berbeda, perusahaan bisa saja mulai menggunakan AI, tetapi perubahan produktivitas yang terukur memerlukan penyelarasan proses, investasi, serta penyesuaian cara kerja.
Manfaat sudah muncul di level individu
Riset lain turut memberi latar mengapa dampak produktivitas di tingkat perusahaan belum terasa. Survei MIT pada 2023 menemukan bahwa penggunaan AI dapat meningkatkan performa pekerja hingga hampir 40 persen dibandingkan pekerja yang tidak menggunakan teknologi tersebut.
Namun, peningkatan yang dilaporkan sejauh ini lebih menonjol pada tingkat individu. Sementara itu, dampak terhadap produktivitas perusahaan maupun perekonomian secara keseluruhan dinilai belum terlalu signifikan dalam periode pengamatan yang ada.
Selain itu, Survei Global Talent Barometer 2026 yang dilakukan ManpowerGroup terhadap hampir 14.000 pekerja di 19 negara juga disebut sebagai referensi untuk memahami konteks yang lebih luas. Meski uraian temuannya tidak dipaparkan sampai detail dalam bagian yang tersedia, ukuran sampel dan cakupannya menunjukkan riset ini mencoba melihat respons tenaga kerja lintas negara.
Secara keseluruhan, studi NBER dan berbagai rujukan yang disebut di dalamnya menggambarkan situasi yang “nyaring di permukaan, tetapi belum mengubah statistik”. Perusahaan sudah banyak mencoba AI, namun penilaian terhadap efek nyata di produktivitas serta tenaga kerja masih cenderung menunggu pembuktian lebih panjang.






