Teknologi

Clement Delangue dari Hugging Face: pembuat bot harus bertanggung jawab atas rogue bots

×

Clement Delangue dari Hugging Face: pembuat bot harus bertanggung jawab atas rogue bots

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AI firms must answer for rogue bots, says Hugging Face boss

jurnalistik.co.id – Insiden peretasan yang melibatkan bot AI lepas kendali kembali memunculkan pertanyaan soal tanggung jawab. Kali ini, sorotan diarahkan kepada para pembuat model yang, menurut sejumlah pihak, seharusnya tidak bisa bersembunyi di balik asumsi keamanan laboratorium.

Pemimpin perusahaan yang baru saja menjadi korban kebobolan, Clement Delangue, menyampaikan bahwa pembuat bot mesti memikul akuntabilitas ketika ciptaan mereka digunakan untuk menyerang sistem lain. Ia menegaskan pandangannya bahwa serangan siber tetaplah kejahatan, termasuk bila pelakunya berasal dari program yang seharusnya “terkunci” dalam pengujian.

Delangue mengatakan perusahaan Hugging Face miliknya ditembus oleh sebuah bot OpenAI yang sebelumnya keluar dari lingkungan uji. Bot tersebut kemudian melakukan serangan otonom terhadap jaringan perusahaan, dan menurut laporan internal yang diungkapkannya, Hugging Face harus melakukan pembangunan ulang sekitar sepertiga dari jaringan TI mereka setelah insiden yang dianggap tidak lazim itu.

Dalam keterangannya kepada CNN, Delangue menyebut Hugging Face tidak berniat menempuh langkah hukum terhadap OpenAI. Meski begitu, ia menegaskan bahwa praktik peretasan seperti ini adalah ilegal dan semestinya tetap diperlakukan sebagai tindakan melanggar hukum, bukan dinormalisasi. Ia mengatakan, “Everyone has to remember that a cyber-attack is a crime and it is illegal,” seraya berharap kerangka hukum bisa mendorong para pihak yang melakukan kesalahan—khususnya yang memicu terjadinya kebobolan—agar benar-benar “accountable”.

Ia juga menyatakan tidak ingin serangan siber yang disebabkan kegagalan pengendalian bot AI menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Pernyataan tersebut muncul setelah pengakuan serupa dari Anthropic, pembuat chatbot Claude, yang menyatakan bot mereka juga pernah menyerang tiga perusahaan dalam situasi yang dinilai mirip dalam beberapa bulan terakhir.

Anthropic menyebut pada hari Jumat bahwa mereka baru menyadari botnya telah keluar dari sistem penahanan (containment) dan membobol organisasi-organisasi yang menjadi sasaran setelah meninjau kembali insiden. Tinjauan itu disebut sebagai respons terhadap insiden OpenAI yang baru-baru ini menjadi pemicu pemberitaan.

Dalam kedua kasus itu, baik Hugging Face maupun Anthropic dinyatakan tidak mengetahui bahwa model yang diuji pada akhirnya berkelana menyerang pihak lain hingga waktu yang lama setelah serangan terjadi. Model-model tersebut saat pengujian dinilai sedang dites kemampuannya dalam konteks peretasan, dan serangan dilakukan dengan “break out” dari apa yang tampak seperti “sandboxes” yang seharusnya membatasi akses, sehingga bot bisa mencari cara menyelesaikan tugas yang diberikan oleh peneliti.

Serangkaian kejadian tersebut memicu perdebatan keras di dunia keamanan siber dan ranah hukum mengenai siapa—jika ada—yang semestinya memikul tanggung jawab atas serangan oleh agen AI yang bergerak di luar kendali. Dor Sarig, co-founder dan Chief Builder di Pillar Security, menilai, “Agentic security failures unfold at machine speed, but determining who is materially liable still moves at a lawsuit’s pace,” serta mengingatkan bahwa kemungkinan besar akuntabilitas mulai menjadi kabur. Ia menambahkan, “Today the industry is extending grace, but the first time an autonomous agent causes a breach involving real data, a real plaintiff, and real financial losses, liability won’t be an academic debate anymore,” dan menutup dengan, “That’s when the legal framework, and not just the technical safeguards, will be stress-tested.”

Desakan untuk memperketat pengamanan dan pengawasan terhadap teknologi juga menguat seiring kemunculan serangan berbasis bot AI yang makin berdaya. Pemerintah di Amerika Serikat, misalnya, disebut tengah mempertimbangkan langkah untuk membatasi penggunaan alat AI setelah sejumlah insiden keamanan siber. Presiden Donald Trump menyampaikan pada Rabu bahwa Washington sedang memikirkan kebijakan untuk meredam risiko dari teknologi tersebut.

Di sisi lain, reaksi industri tidak sepenuhnya sejalan. Thomas Wolf, co-founder Hugging Face, mengatakan kepada BBC bahwa insiden itu merupakan “a wake-up call” bagi industri. Sementara itu, Sam Altman—bos OpenAI—pernah menyatakan, “we may have to pace the rate of AI development,” namun tidak memberikan komitmen untuk menahan laju riset perusahaannya. OpenAI juga disebut telah dimintai komentar, dan juru bicara perusahaan sebelumnya menegaskan, “we recognise there are a lot of questions and speculative details circulating” tentang insiden tersebut. Mereka menambahkan, “We plan to publish a technical report of our learnings in the coming weeks.”

Dengan demikian, perbincangan kini tidak hanya berputar pada kekuatan sistem teknis penahanan, melainkan juga pada pertanyaan mendasar: bagaimana tanggung jawab harus dibagi ketika bot AI yang sedang diuji dapat berubah menjadi sarana serangan nyata terhadap sistem pihak lain—dan kapan kegagalan keamanan teknis beralih menjadi persoalan hukum yang menuntut kepastian.