Teknologi

Snapchat bergabung dengan YouTube, LinkedIn, dan Substack untuk menekan ‘AI slop’

×

Snapchat bergabung dengan YouTube, LinkedIn, dan Substack untuk menekan ‘AI slop’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Snapchat joins other platforms in the fight against 'AI slop'

jurnalistik.co.id – Snapchat bergabung dengan sejumlah platform besar untuk menekan apa yang mereka sebut sebagai “AI slop”, yakni konten palsu berupa tulisan, gambar, maupun video yang dibuat sepenuhnya oleh alat kecerdasan buatan. Langkah ini muncul ketika layanan generatif makin mudah diakses dan semakin cepat menghasilkan materi yang terlihat meyakinkan.

Perusahaan di balik Snapchat, Snap, menyatakan pada hari Jumat bahwa mereka akan berhenti merekomendasikan “wholly AI-generated videos” di beranda Spotlight. Sebagai gantinya, rekomendasi akan diarahkan pada “authentic, human-made content.”

Dalam praktiknya, Snap tidak berusaha melarang seluruh konten yang melibatkan AI. Platform itu juga menyediakan alat AI miliknya untuk mengubah atau menyunting konten, sehingga materi yang “AI enhanced or edited” tetap dapat muncul dalam rekomendasi kepada pengguna.

Namun, Snap mengakui bahwa konten yang dibuat sepenuhnya oleh AI umumnya dinilai “low-quality” dan “repetitive”. Perusahaan juga menyebut jenis konten itu tidak sesuai dengan apa yang biasanya ingin dilihat pengguna Snapchat.

Snap merujuk pada riset terbaru terkait penerimaan audiens terhadap konten AI. Studi tersebut menunjukkan bahwa orang cenderung menyetujui deskripsi tentang rendahnya kualitas dan sifat repetitif dari konten semacam itu. Riset lain yang disebut dalam laporan juga menekankan bahwa semakin sering orang melihat konten AI palsu di feed media sosial, semakin kecil kemungkinan mereka menganggap apa yang mereka lihat sebagai sesuatu yang benar-benar autentik.

Tekanan serupa juga datang dari platform lain

Upaya serupa juga diumumkan oleh YouTube, LinkedIn, dan Substack dalam dua minggu terakhir. Kesamaan pendekatan terlihat pada fokus mereka terhadap konten yang dinilai tidak autentik, sekaligus tetap membuka ruang bagi penggunaan AI untuk membantu produksi atau perbaikan karya.

Di Substack, Chris Best—co-founder sekaligus chief executive—menyampaikan bahwa situasi online makin sulit dibedakan mana yang nyata. Best mengatakan, “It’s getting harder to tell what’s real on the internet.”

Substack kemudian memperkenalkan alat baru untuk membantu pembaca mendeteksi tulisan yang dibuat oleh AI di platform newsletter tersebut. Best juga mengutip temuan riset yang menyatakan hingga 40% tulisan di media sosial bisa jadi palsu atau dibuat oleh AI.

Dalam pernyataannya, Best menegaskan siklus yang berpotensi makin merendahkan kualitas. Ia berkata, “Platforms that reward fakeness will create a race to the bottom.”

LinkedIn mengambil langkah dengan mekanisme pelaporan. Platform jejaring sosial yang berorientasi pada dunia kerja itu memperkenalkan tombol yang memungkinkan pengguna melaporkan apakah sebuah unggahan atau komentar terlihat dibuat oleh AI.

Hari Srinivasan, chief product officer LinkedIn, menulis di platform bahwa “AI slop is a top priority for all of us.” Ia juga menyebut dalam beberapa bulan terakhir LinkedIn telah “blocked billions” percobaan untuk memposting komentar yang dibuat oleh AI.

Srinivasan menambahkan, “Every day we are now catching hundreds of thousands of automated comment attempts.” Artinya, upaya deteksi dan penindakan dilakukan secara masif terhadap percobaan otomatis yang mencoba mengisi ruang komentar.

Walau begitu, LinkedIn tidak memposisikan AI sebagai sesuatu yang sepenuhnya ditolak. LinkedIn menyatakan pengguna yang memakai AI untuk “refine” tulisan mereka tidak perlu terjebak dalam upaya perang melawan AI slop. Meski demikian, LinkedIn menghapus prompt otomatis yang sebelumnya muncul saat pengguna menulis unggahan dan menawarkan peningkatan melalui AI.

Setelah penghapusan itu, LinkedIn kembali menampilkan alat yang lebih sederhana berupa fungsi proofreading.

YouTube menata aturan monetisasi

YouTube—yang dimiliki Google—juga melakukan pembaruan kebijakan pada bulan ini. Pembaharuannya menyasar jenis konten yang boleh dimonetisasi oleh kreator.

Laporan menyebut riset tahun lalu yang menemukan sejumlah kanal di YouTube berisi konten yang dibuat sepenuhnya oleh AI. Banyak di antaranya memiliki jutaan pelanggan, dan sebagian bahkan menghasilkan pendapatan hingga jutaan dolar.

Untuk mengurangi risiko platform dipenuhi “inauthentic content”, pada awal bulan YouTube mengelompokkan konten yang tidak akan diizinkan menghasilkan uang. Kategori yang dimaksud adalah konten “generic, repetitive, or template-based”.

Dalam penjelasan yang dikutip, tipe konten seperti ini dinilai jauh lebih mudah dibuat dan dapat diproduksi dengan cepat menggunakan alat generatif. YouTube lalu membangun aturan monetisasi untuk memberi insentif yang berbeda, sehingga konten yang mudah diproduksi namun dinilai tidak autentik tidak mendapat ruang yang menguntungkan.

Matt Halprin, chief of trust and safety YouTube, menyampaikan pandangannya dalam sebuah wawancara terkait aturan terbaru. Ia mengatakan, “The same technology really enables great stuff.”

Menurut Halprin, teknologi yang sama juga dapat dipakai untuk praktik yang tidak diinginkan. Ia menambahkan, “But it also enables stuff that’s kind of content farming, and that’s the stuff that we don’t want to have.”

Dari rangkaian pernyataan tersebut, terlihat bahwa banyak platform memilih pendekatan yang menarget kualitas dan keaslian, bukan sekadar menolak AI secara total. Snap, LinkedIn, Substack, dan YouTube sama-sama membedakan antara penggunaan AI sebagai alat bantu produksi atau penyuntingan, versus konten yang sepenuhnya dibuat oleh AI dan cenderung repetitif serta berpotensi menipu.

Dengan langkah ini, industri berupaya mengembalikan kemampuan pengguna untuk menilai apa yang mereka konsumsi di internet—terutama ketika konten palsu semakin sering beredar dalam feed media sosial dan ekosistem kreator.