jurnalistik.co.id – Ekonomi Korea Selatan diperkirakan akan terus melaju lebih kencang pada 2026, seiring kuatnya permintaan global terhadap semikonduktor. Proyeksi ini muncul dari survei Bloomberg terhadap para analis, yang dirilis menjelang keputusan suku bunga Bank of Korea pada akhir bulan ini.
Dalam survei tersebut, para ekonom menilai pertumbuhan Korea Selatan pada 2026 mencapai 3,3%. Angka itu dinilai naik tajam dibanding proyeksi sebelumnya yang tercatat sebesar 2,8% pada survei bulan Juli.
Revisi ke atas tidak berhenti di 2026. Responden survei juga sedikit menaikkan pandangan mereka untuk periode setelahnya, dengan memproyeksikan ekonomi tumbuh 2,3% pada 2027 dan 2,1% pada 2028.
Selain memberi gambaran arah pertumbuhan, survei ini menunjukkan adanya upaya bersama dari ekonom dan pembuat kebijakan untuk mengejar kinerja ekonomi yang lebih tinggi. Dorongan utama yang disebut berkaitan dengan momentum industri chip yang sedang menguat, khususnya di tengah perburuan kebutuhan komputasi yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
Menurut perhitungan yang dirangkum dalam survei, proyeksi untuk 2026 juga melampaui target yang sebelumnya dipublikasikan pemerintah. Pemerintah, dalam rilis bulan lalu, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sebesar 3% untuk tahun 2026.
Lonjakan permintaan chip dan dorongan AI
Bagian yang paling menonjol dari survei ini adalah kaitan antara percepatan pertumbuhan dan tingginya permintaan semikonduktor di pasar global. Permintaan tersebut dipandang ikut menguatkan aktivitas produksi dan mendukung siklus pemulihan industri terkait.
Berita Terkait
Di saat yang sama, survei menempatkan tren tersebut sebagai bagian dari upaya pengejaran pertumbuhan yang lebih agresif. Gelombang perkembangan teknologi dan kebutuhan komputasi—yang dalam laporan disebut sejalan dengan booming AI—menjadi salah satu latar yang memperkuat prospek.
Dengan revisi yang lebih positif dari bulan Juli, pandangan para analis menunjukkan bahwa ekspektasi kinerja ekonomi tengah bergeser. Pertumbuhan 3,3% pada 2026 menjadi angka yang merepresentasikan keyakinan lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya, sekaligus mengindikasikan optimisme yang tumbuh dari sisi permintaan industri.
Menjelang keputusan suku bunga Bank of Korea, proyeksi ini juga berfungsi sebagai sinyal bagi pasar tentang ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Bila proyeksi tersebut benar-benar sejalan dengan realisasi, ekonomi Korea Selatan memiliki ruang untuk mencatat pertumbuhan yang lebih solid dibanding baseline pemerintah yang sudah lebih dahulu dipatok.
Adapun untuk horizon berikutnya, angka 2,3% pada 2027 dan 2,1% pada 2028 menggambarkan adanya moderasi bertahap. Namun, perubahan yang dilakukan oleh responden survei tetap menunjukkan bahwa arah besarnya tetap lebih tinggi ketimbang proyeksi yang lebih pesimistis, setidaknya dibanding dinamika yang terpantau dari survei sebelumnya.
Secara keseluruhan, survei Bloomberg menempatkan kombinasi pertumbuhan ekonomi dan penguatan industri semikonduktor sebagai faktor kunci. Dengan proyeksi 3,3% untuk 2026—melampaui proyeksi pemerintah 3%—titik fokus kini adalah sejauh mana keputusan kebijakan moneter dan kondisi permintaan global mampu menjaga momentum itu bertahan hingga tahun-tahun berikutnya.
Rangkaian angka yang direvisi itu juga memberi penekanan pada bagaimana ekspektasi para ekonom dibentuk oleh dinamika permintaan luar negeri. Ketika proyeksi 2026 naik dari 2,8% ke 3,3%, perubahan itu mencerminkan penilaian bahwa dorongan industri chip akan terus terasa dalam beberapa kuartal ke depan, bukan sekadar pantulan sesaat.
Dalam narasi survei, fokusnya bukan hanya pada besaran pertumbuhan, tetapi juga pada mekanisme penopangnya. Momentum produksi semikonduktor disebut ikut mendorong siklus pemulihan sektor terkait, sementara kebutuhan komputasi yang berkaitan dengan AI memperkuat alasan mengapa permintaan global dinilai tetap tinggi.
Meski demikian, revisi setelah 2026 tetap menunjukkan pola yang tidak sepenuhnya tanpa rem. Proyeksi 2,3% untuk 2027 dan 2,1% pada 2028 menggambarkan bahwa optimisme tumbuh, tetapi arah perkembangan cenderung mengalami penyesuaian dari waktu ke waktu. Karena itu, perhatian pasar menjelang keputusan suku bunga juga diarahkan untuk melihat apakah kebijakan moneter mampu mempertahankan momentum tersebut sesuai ekspektasi survei.












