Internasional

Trump menyambut Xi Jinping dengan sambutan istimewa, tapi Beijing tidak mendapat semua yang diincar

×

Trump menyambut Xi Jinping dengan sambutan istimewa, tapi Beijing tidak mendapat semua yang diincar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Xi Jinping got the red carpet treatment from Trump - but not everything he wanted

jurnalistik.co.id – Xi Jinping berangkat dengan tujuan jelas: menjaga agar Washington tidak semakin menekan posisi China, terutama di bidang perdagangan, teknologi, dan Taiwan. Meski Donald Trump menyambutnya dengan gaya yang sangat istimewa, hasil pertemuan itu tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi Beijing.

Dalam rangkaian pertemuan puncak dengan Trump, China memandang Amerika Serikat berupaya “menahan” kenaikan China sebagai kekuatan besar. Karena itu, Beijing berharap aturan dan kesepakatan yang lahir mampu memberi ruang lebih luas untuk kepentingan nasionalnya, bukan sekadar meredakan ketegangan sementara.

Trump memberikan sambutan ala karpet merah, lengkap dengan sapaan langsung dan jamuan kenegaraan. Namun, saat masuk ke substansi, negosiasi tidak bergerak sejauh yang diinginkan Xi, terutama menyangkut perdagangan dan konsekuensi kebijakan ekonomi yang sedang dihadapi China.

Perpanjangan kesepakatan perdagangan hanya sementara

Kesepakatan “perang tarif” yang sempat meredakan saling balas tarif ternyata diperpanjang hanya dalam waktu yang singkat. Truce tersebut hanya diperpanjang beberapa bulan, dari November hingga Januari, padahal Beijing berharap setidaknya sepanjang setahun agar Xi bisa melewati sisa masa pemerintahan Trump dengan lebih tenang.

Dengan perpanjangan yang terbatas itu, sejumlah isu besar didorong kembali ke putaran perundingan berikutnya. Di antaranya sengketa tarif, dominasi China dalam pasokan rare earth, serta akses ke chip canggih buatan Amerika Serikat.

Bagi Beijing, pola ini menandakan bahwa Washington masih meminta China melakukan lebih banyak bagian dari kesepakatan sebelum memberi konsesi jangka panjang. Artinya, keputusan yang lebih dalam belum dibuka, sementara ketidakpastian tetap membayangi arah kebijakan industri dan perdagangan.

Xi juga perlu menjaga ekspor China dari dampak tarif yang sebelumnya dikenakan Amerika Serikat. Upaya itu terasa semakin penting karena kondisi ekonomi domestik sedang menekan daya beli, sehingga perdagangan luar negeri menjadi penopang pertumbuhan.

Tekanan ekonomi di dalam negeri menjadi konteks utama

Xi menghadapi realitas ekonomi yang tidak mudah di dalam negeri. Meski China menjual rekor jumlah barang ke luar negeri, konsumen di dalam negeri cenderung menahan belanja.

Situasi ini diperparah oleh angka pengangguran pemuda yang tetap tinggi, serta penurunan harga properti di negara yang sekitar 80% penduduknya memiliki rumah. Di tengah kondisi seperti itu, perdagangan membantu mempertahankan momentum ekonomi, sehingga akses ke pasar luar menjadi makin krusial.

Karena itu, ketika Beijing bernegosiasi dengan Washington, kepentingannya bukan hanya menghentikan lonjakan konflik tarif. Beijing ingin memastikan jalur ekspor tidak tersendat oleh kebijakan tarif yang bisa melemahkan industri dan rantai pasok.

Taiwan: garis merah tetap ditegaskan

Di bagian Taiwan, Xi kembali menyampaikan pesan yang sama: penjualan senjata AS kepada Taiwan adalah “red line” bagi China. Xi menekankan bahwa AS terikat hukum untuk memberi kemampuan pertahanan bagi pulau yang menjalankan pemerintahan sendiri.

Dalam pertemuan sebelumnya, Xi pernah memperingatkan Trump bahwa salah urus isu ini bisa membuat kedua negara “collide or even enter into conflict”. Pernyataan itu menyusul keputusan Trump yang menunda persetujuan paket senjata senilai $14 billion untuk Taiwan.

Trump ketika itu menggambarkan paket tersebut sebagai “very good negotiating chip” bagi negosiasinya dengan Beijing. Xi diduga memanfaatkan celah pembukaan itu dengan argumentasi bahwa pembatasan dukungan terhadap Taiwan dapat menurunkan risiko konflik.

Pada hari Kamis, Xi juga mengulang harapannya agar AS mematuhi “correct position” untuk menentang kemerdekaan Taiwan. Namun hingga saat ini, Trump belum memberikan respons publik atas komentar Xi.

Di saat yang sama, tekanan politik di AS juga disebut mendorong dukungan terhadap Taiwan terus berjalan. Kontras antara desakan internal dan sikap komunikasi yang belum tegas membuat langkah Beijing tidak sepenuhnya memperoleh kepastian.

AI dibahas, tetapi keputusan yang konkret masih samar

Dalam pertemuan dua pemimpin, isu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ikut dibicarakan. Meski begitu, belum jelas apakah pembahasan itu menghasilkan kesepakatan yang spesifik, termasuk soal penjagaan atau safeguards.

Publik menaruh perhatian pada kemungkinan adanya keputusan konkret terkait AI, seperti rencana menggelar pertemuan puncak. Perhatian itu muncul setelah esai dari Dario Amodei, CEO Anthropic, yang mengusulkan agar pengembangan AI diperlambat demi keamanan.

Usulan tersebut mengikuti peringatan dari seorang peneliti keselamatan terkemuka di perusahaan yang sama. Ia menyampaikan ada “greater than 10% chance” bahwa AI dapat menyebabkan kepunahan manusia.

Dalam pembicaraan tersebut, Xi menekankan pentingnya memastikan AI “is always under human control”. Namun, di luar pernyataan itu, hasil yang lebih operasional tidak banyak terungkap. Trump sendiri pernah menolak ketakutan tentang kepunahan manusia akibat teknologi AI dengan menyebutnya “hoax”.

Simbol dan protokol: karpet merah, jamuan, hingga panda

Meski substansi belum memenuhi seluruh harapan, ada satu kemenangan besar yang dinilai menonjol bagi Beijing: citra visual. Sambutan mewah, salam personal di bandara, serta jamuan kenegaraan turut menjadi sorotan.

Dalam jamuan tersebut, menu yang disajikan mencakup sea bass berbalut wijen dan baby bok choy yang dimasak dengan teknik braise. Bagi pengamat di China, rangkaian seremonial ini membantu menguatkan persepsi bahwa Xi diposisikan setara dengan Trump.

Di media sosial, memebes juga beredar luas, termasuk gambar yang memperlihatkan Trump meringis saat pesawat pembom terbang di atas, sementara Xi tampak tetap tidak bereaksi. Unsur humor dan kontras seperti itu menunjukkan bagaimana pertemuan tersebut ditafsirkan dari sudut pandang publik.

Selain protokol, diplomasi panda juga menjadi bagian dari alur pertemuan. Hadiah Ping Ping dan Fu Shuang untuk Atlanta yang sebelumnya diumumkan pada April kini disebut akan tiba dalam beberapa hari. Xi menyampaikan kedatangan kedua panda itu seiring kembalinya “panda diplomacy” China.

Masih ada agenda lanjutan yang menunggu, ketika kedua pihak bersiap minum teh serta mengunjungi arsip nasional pada hari Jumat. Namun untuk saat ini, pesan besar yang tampak adalah bahwa hubungan dibalut suasana hangat dan simbol-simbol yang rapi.

Trump menggambarkan hubungan keduanya sebagai “truly great friendship”, sementara Xi menekankan fokus yang lebih besar: memastikan posisi China sejajar dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan besar. Panda, kemegahan acara, dan kata-kata hangat mungkin membantu meredam gesekan.

Tetapi di bawah panggung pertemuan, persaingan antara dua negara dengan pengaruh terbesar di dunia tetap digambarkan berlangsung sengit. Keduanya bisa saja sepakat menjaga penampilan diplomasi, namun kalkulasi strategis tidak hilang begitu saja.